BI Akui Ada Arus Modal Yang Keluar

Cadangan Devisa Capai US$102 M

Kamis, 17/03/2011

Cadangan Devisa Capai US$102 M

BI Akui Ada Arus Modal Yang Keluar

Jakarta—Meski cadangan devisa Indonesia sudah mencapai USD102,02 miliar. Namun Bank Indonesia (BI) tak mau “kecolongan” terhadap kemungkinan adanya sudden reversal (pembalikan modal ) pasca-bencana di Jepang. “Klaim asuransi itu dananya cukup besar. Itu kemungkinan kan menarik investasi-investasi, dana dari luar termasuk dari Indonesia,” kata Deputi Gubernur BI, Hartadi Agus Sarwono kepada wartawan di Jakarta,16/3.

Menyikapi tanda-tanda tersebut, Hartadi mengatakan BI tetap waspada menghadapi hal tersebut. Karena Jepang membutuhkan biaya pemulihan yang besar. Sehingga, bank sentral Jepang telah mengeluarkan likuiditas dalam jumlah yang banyak pula. Diakui Hartadi, ada arus modal keluar ke Jepang dalam sepekan terakhir. Namun, dia tidak bisa menyebutkan besarannya karena belum dihitung dengan spesifik. Ini yang harus kita waspadai," tambahnya.

Mengenai potensi pembalikan modal, Hartadi mengaku tidak punya data yang pasti. Namun dirinya hanya memberikan sebatas gambaran, Jepang bukanlah investor utama di sektor finansial. “Secara umum pemodal datang dari Asia Tenggara, Eropa dan Amerika Serikat. Karena Investor Jepang itu biasanya institutional, tidak punya speculative motive. Sehingga biasanya mereka lebih stabil, tidak volatile," paparnya.

Menyangkut ketahanan posisi cadangan devisa terkait menghadapi pembalikan modal, Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan cadangan devisa Indonesia sudah menembus USD102,02 miliar pada 10 Maret 2011. "Cadangan devisa Indonesia terus meningkat hingga mencapai USD102,02 miliar pada 10 Maret 2011," ujarnya.

Sebelumnya Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah pernah mengatakan cadangan devisa Indonesia saat ini mencukupi untuk menghindari dampak negatif pembalikan modal asing secara besar (sudden reversal). "Kami menyatakan tidak usah khawatir terhadap terjadinya sudden reversal karena cadangan devisa Indonesia bisa mengantisipasi itu," ujarnya.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Tony Prasetiantono juga merespon positif dengan meningkatnya cadangan devisa. Namun dia tetap memperingatkan adanya indikasi sudden reversal pasca tsunami Jepang."Cukup menggembirakan, karena berarti dapat mem-back up rupiah agar tetap kuat dan stabil di level sekarang Rp8.800-an per USD. Namun kita tidak boleh puas, karena Thailand cadangan devisanya sudah mendekati USD200 miliar. Juga harus tetap waspada karena tetap ada risiko sudden reversal," paparnya.

Tony meminta pemerintah harus menjaga stabilitas ekonomi agar mood investor asing yang berinvestasi di Indonesia merasa betah. "Pemerintah harus tetap menjaga stabilitas ekonomi dan politik untuk menjaga mood investasi asing di Indonesia, agar mereka kerasan," tambahnya.

Dikatakan Toni, dari sekian banyak risiko, yang paling harus diwaspadai adalah stabilitas politik, karena menjadi variabel penting dengan adanya kasus Timur Tengah sehingga para investor makin senang ke ke negara emerging market yakni Asia."Dari sekian banyak risiko, menurut saya stabilitas politik menjadi variabel terpenting yang dilihat investor global. Apalagi sekarang dengan adanya krisis di Timur Tengah, membuat pemilik modal global makin senang ke emerging market Asia, termasuk Indonesia," pungkasnya. **cahyo