Gejolak Eropa Tak Banyak Berpengaruh

NERACA

Bandung----- Bank Indonesia (BI) menilai gejolak ekonomi yang terjadi di Eropa tidak berdampak besar kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Kendati keadaan ekonomi global tidak pasti, kondisi ekonomi domestik masih tangguh dengan ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat dan investasi yang juga tumbuh kuat," kata Direktur Kebijakan Moneter BI Juda Agung saat pelatihan wartawan ekonomi di Bandung, Sabtu.

Keadaan ekonomi di Eropa dimana perbankan melakukan deleveraging membuat pertumbuhan ekonomi di Eropa menyusut. Jumlah deleveraging diperkirakan antara 0,5 hingga 3 triliun Euro sehingga hal itu bisa menekan pertumbuhan antara 1,4%-1,8%. "Eropa lebih rumit, utang pemerintah besar dan timbulkan ketidakpercayaan kepada obligasi yang dikeluarkan dan mempengaruhi perbankan. Perbankannya juga harus lakukan rekapitalisasi dan itu menambah parahnya krisis di Eropa sehingga pertumbuhan menjadi stagnan," jelas Juda.

Juda menilai dampak yang ditimbulkan gejolak tersebut hanya berpengaruh kepada share ekspor barang ke Eropa pada 2010 yang relatif terbatas --tidak sampai 4%. Sedangkan untuk pinjaman perbankan Eropa dari Asia juga jumlahnya tidak terlalu tinggi, sehingga menurut Juda dampak yang dirasakan Indonesia relatif terbatas.

Tangguh Berdasarkan proyeksi BI, pertumbuhan ekonomi dunia 2012 diperkirakan tumbuh sebesar 3,3% sedangkan pada 2013 diperkirakan meningkat sebesar 3,9%. Sedangkan keadaan ekonomi dalam negeri yang tangguh ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat dengan dukungan stabilitas ekonomi makro dan dukungan pembiayaan. "Untuk triwulan I 2012, pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan mencapai 6,5% dan pada triwulan II 2012 pertumbuhan ekonomi diperkirakan capai 6,4%," tandasnya

Menurut Juda, konsumsi rumah tangga tetap kuat karena beberapa hal seperti struktur demografi yang didominasi usia produktif, semakin terserapnya tenaga kerja ke sektor formal dan meningkatnya kelas menengah di Indonesia. "Konsumsi mulai bergeser dari makanan, menjadi ke rekreasi dan telekomunikasi, sehingga relatif kuat untuk tahan penurunan pertumbuhan ekonomi," jelasnya

Berdasarkan data Bank Dunia, jumlah warga kelas menengah di Indonesia pada 2010 meningkat menjadi 134 juta jiwa, dibandingkan pada 2009 hanya sebanyak 93 juta orang sehingga hal itu menjadi penopang utama konsumsi di Indonesia. Sedangkan untuk penopang dari investasi, BI memperkirakan hal itu akan tetap tumbuh kuat.

Lebih jauh kata Juda, dengan adanya kenaikan rating investasi untuk Indonesia dari Moody's Fitch, hal tersebut biasanya diikuti oleh kenaikan portofolio dan kenaikan Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Invesment atau FDI) yang sangat signifikan. "Kita harus semakin dorong dengan ciptakan iklim investasi sehingga potensi FDI mengalir ke Indonesia," paparnya

Gejolak ekonomi global yang melemahkan ekspor Indonesia disertai kuatnya impor menyebabkan transaksi Indonesia berjalan sedikit defisit mulai pada kuartal IV 2011. "Meskipun begitu hal itu masih kecil, sekitar 0,5% terhadap Produk Domestik Bruto pada 2012," ucapnya

Rapat Dewan Gubernur BI pada 12 April 2012 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga BI Rate sebesar 5,75%. Kebijakan suku bunga tetap diarahkan untuk mengendalikan perkiraan makroekonomi ke depan dimana BI yakin dengan kebijakan moneter dan makroprudensial dapat membawa inflasi pada 2013 menuju kisaran sekitar 4,5%. **rin

Related posts