Dua Asuransi Syariah Siap Beroperasi

NERACA

Bogor – Badan Pengawasan Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengakui telah member ijin dua perusahaan asuransi syariah pada Semester II. Namun ada dua perusahaan asuransi lagi masih menunggu perizininan. Sayangnya hingga kini belum jelas.

Kepala Bagian Perasuransian Syariah Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Yatty Nurhayati mengungkapkan Bapepam-LK telah mengeluarkan izin pada 9 April lalu kepada dua perusahaan asuransi untuk melakukan usahanya. “Ada pelaku baru, 1 unit usaha syariah, 1 full flash. Sebenarnya ada dua lagi tapi belum jelas. Sudah di tangan Presiden. Masih dalam proses dari ke DPR”, jelasnya kepada media di Bogor, Jumat (27/4).

Meski demikian, Yatty melanjutkan, akan ada aturan baru setelah UU nomor 2 disahkan yang diperuntukan pendirian perusahaan asuransi baru maupun yang existing (telah ada). “Setiap perusahaan asuransi baru tidak diperkenankan untuk membangun unit usaha,” tegasnya

Lebih jauh katanya, perusahaan tersebut harus mendirikan perusahaan sendiri, dengan modal minimal Rp 50 milar. Selain itu perusahaan yang berbentuk unit usaha diberi waktu tiga tahun untuk memisahkan diri dari perusahaan induk dan membentuk badan usaha sendiri dengan modal yang telah ditentukan tersebut. "Jadi nantinya tidak ada lagi unit usaha," kata Yatty.

Meski demikian, Yatti masih enggan menyebutkan perusahaan yang mendapatkan izin dari Bapepam-LK. "Perusahaannya sendiri saat ini belum kami beri tahu (sudah mendapat izin) karena meskipun izinnya sudah keluar, tapi harus dibuat salinannya dulu. Ya semester II ini mungkin sudah beroperasi," ujarnya seusai Rapat Kerja Pengurus dan Media Gathering Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) 2012.

Peraturan ini direspon baik Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). Ketua AASI, M Shaifie Zein mengatakan, hal ini sudah seharusnya dilakukan agar ada payung hukum yang dapat menjadi pedoman bagi perusahaan asuransi berbasis syariah. "Kami berharap dengan adanya undang-undang ini dapat meningkatkan gaung asuransi syariah di Indonesia," katanya.

Sebelumnya, Shaifie menuturkan, perusahaan baru ini bukan hasil dari pemisahan unit perusahaan asuransi melainkan perusahaan beroperasi penuh di asuransi syariah alias full flash. Sayangnya, Shaifie merahasiakan nama perusahaan tersebut. Dia menegaskan, perusahaan lokal dan sebelumnya tidak pernah terjun di asuransi. "Anda akan kaget dengan asuransi ini, grup ini tidak pernah bermain di asuransi," terangnya.

Shaifie memastikan asuransi syariah baru ini akan beroperasi tahun ini. Pasalnya, sangkutan sudah punya modal Rp 54 miliar. Kesiapan tersebut didorong dengan kematangan susunan direksi dan komisaris yang juga sudah dibentuk. Lebih jauh lagi, izin dari dewan syariah nasional (DSN) dan Bapepam-LK sudah pula dikantongi. "Pastinya Asuransi Takaful Keluarga akan punya teman di asuransi umum syariah," tegasnya.

Dengan demikian, total penyelenggara usaha asuransi syariah mencapai 44 perusahaan yang terdiri dari perusahaan full syariah dan unit usaha syariah dari perusahaan konvensional. **maya

Related posts