Garuda Raih Kantongi Laba Bersih Rp 808,7 Miliar di 2011

NERACA

Jakarta - Maskapai penerbangan nasional PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berhasil meraih peningkatan laba bersih tahun 2011 sebesar 56,2% dibanding tahun 2010 . “Laba bersih meningkat menjadi Rp 808,7 miliar, dan laba komprehensif menjadi Rp 858,8 miliar atau meningkat 285,5% dari tahun 2010," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, dalam konferensi pers usai RUPS di Jakarta, Jumat (27/4).

Sepanjang 2007-2011, kata Emirsyah, tercatat pendapatan operasional meningkat rata-rata tiap tahun 18%. Dengan catatan pendapatan tersebut maka laba operasional GIAA pada tahun 2011 pun mencapai Rp 1,012 triliun. Adapun pendapatan usaha Garuda di 2011 sebesar Rp 27,2 triliun, meningkat 39,1% dibanding periode tahun 2010 yang sebesar Rp 19,5 triliun.

Sebagaimana diketahui, tahun 2011, 83% dari pendapatan penerbangan masih dari penerbangan berjadwal, 8% dari penerbangan tidak berjadwal. Pendapatan tersebut, kata Emirsyah, dicapai dengan mengangkut 17,1 juta penumpang dan 229 ribu ton kargo. Pengangkutan penumpang dan kargo dilayani dengan 87 armada pesawat yang umur rata-ratanya yakni 6,5 tahun.

Selama tahun 2011, Garuda Indonesia mengangkut 17,1 juta penumpang, terdiri atas 13,9 juta penumpang domestik dan 3,2 juta penumpang internasional atau mengalami peningkatan sebesar 36,2% dibanding tahun 2010 yang sebesar 12,5 juta penumpang.

Kapasitas produksi (availability seat kilometer/ASK) pada tahun 2011 juga meningkat sebesar 26 persen menjadi 32.5 miliar dibanding 25.8 miliar pada tahun 2010. Selain itu, “yield” penumpang juga meningkat sebesar 12,4 persen menjadi USC 9.6 dibanding tahun 2010 sebesar USC 8,6. Garuda juga berhasil mengangkut sebanyak 229 ribu ton cargo, meningkat sebanyak 10,8 persen dari tahun 2010 yang sebanyak 207 ribu ton cargo.

Selan itu, dalam kurun waktu yang sama, frekuensi penerbangan Garuda Indonesia pada tahun 2011 juga mengalami peningkatan sebesar 26,6 persen menjadi 130.043 penerbangan dibanding tahun 2010 yang sebanyak 102.724 penerbangan.

Tidak Bagikan Dividen

GIAA tidak memberikan dividen di tahun ini meskipun meraup untung Rp 808 miliar di 2011 lalu. Emirsyah mengatakan, maskapai pelat merah ini batal untuk memberikan dividen karena sedang melakukan kuasi organisasi. "Jangan lihat dividen. Tapi earning shared kita meningkat. Tidak diperbolehkan karena masih ada kuasa reorganisasi," jelas Emirsyah.

Selain itu, kata Emirsyah, tidak dibagikannya dividen adalah karena GIAA memutuskan akan menggunakan laba bersih sebagai laba ditahan dan program kemitraan bina lingkungan. "Dari laba bersih Rp 808 miliar, laba bersih digunakan untuk program kemitraan bina lingkungan sebesar Rp 20,30 miliar dan sisa laba untuk menutup saldo laba ditahan sebesar Rp 785,39 miliar," ujarnya.

Emirsyah menuturkan, di tahun depan, perseroan berencana untuk bisa membayar dividen atas labanya di 2012 ini. "Di 2012 boleh bagi dividen. Tapi nanti RUPS menentukan. Yang pasti perusahaan sudah boleh secara UU bayar dividen. Kalau bayar berapa tunggu pemegang saham dulu," ujarnya.

Sementara itu, perseroan berencana menambah utang sekitar US$ 200 juta pada kuartal ketiga 2012. Utang ini akan digunakan untuk membiayai pengadaan pesawat.Direktur Keuangan Garuda, Elisa Lumbantoruan mengatakan, pinjaman yang akan dicari bisa dalam berbagai bentuk. "Bisa bentuknya pinjaman ke bank atau menerbitkan obligasi. Tergantung yang murah mana bunganya,” ujarnya.

Manajemen Garuda sebelumnya telah menetapkan menetapkan belanja modal sebesar US$ 450 juta atau setara dengan Rp 1,4 triliun untuk 2012. Sebanyak US$ 200 juta sudah dipenuhi dari cash dan dana sisa Initial Public Offering (IPO) pada tahun lalu."Penggunaan belanja modal akan terserap untuk uang muka pemesanan pesawat, dan pembayaran utang yang jatuh tempo pada tahun ini," uja Elisa.

Elisa mengatakan, pada 2012, Garuda menganggarkan pengeluaran di luar beban operasional sekitar Rp 6,45 triliun sepanjang tahun ini yang terdiri dari belanja modal sebesar Rp 1,4 triliun, pengembalian uang muka pemesanan pesawat (pre delivery payment/PDP) US$ 420 juta dan pembayaran utang sekitar Rp 1,2 triliun rupiah. Total utang Garuda saat ini tercatat sebesar Rp 4,14 triliun. (didi)

Related posts