Dampak Pembatasan BBM Hanya Temporer

NERACA

Bandung---Bank Indonesia memprediksi dampak pembatasan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan berlangsung Mei 2012 hanya bersifat temporer, terutama pada inflasi di Indonesia. "Berdasarkan survei kami pada Maret, inflasi menunjukkan kenaikan terkait adanya ketidakpastian rencana kebijakan di bidang BBM bersubsidi. Tapi ini sifatnya temporer," kata Direktur Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung di Bandung, Sabtu

Juda menambahkan berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi di Indonesia pada 2005 hingga 2008, pengaruh kenaikan harga BBM terhadap inflasi hanya bersifat temporer.

Menurut Juda, dalam tiga bulan inflasi sudah mulai menurun dan dalam satu tahun dampak kenaikan tersebut mulai hilang. Sementara itu, inflasi pada triwulan pertama 2012 secara kuartal ke kuartal tercatat 0,88%. Sehingga secara tahunan besarannya hanya sebesar 3,97%.

"Dengan ini inflasi inti relatif terus menunjukkan penurunan, saya kira juga banyak fakta perbaikan dari distribusi yang lebih bagus di Indonesia dari distribusi barang, dan secara fundamental akan menurunkan inflasi inti dari tahun ke tahun," tambahnya.

Selain itu, lanjut Juda, komponen terbesar inflasi inti adalah sewa rumah yang semakin meningkat, sehingga dari tahun ke tahun inflasi mengalami penurunan.

Berdasarkan data Bank Indonesia, cadangan devisa aman Untuk cadangan devisa negara, menurut BI, masih berada pada tingkat yang sangat aman dengan berada di atas level kecukupan "peer group". Jumlah devisa Indonesia pada 26 April 2012 sebesar Rp114,9 miliar yang setara dengan 6,12 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. "Hal itu juga setara dengan 7,75 bulan impor barang yang masih di atas tingkat cadangan kecukupan 'peer group' yaitu 6,7 bulan impor," jelasnya

Selain itu "short term debt to reserve" juga menunjukkan cadangan devisa Indonesia berada pada tingkat yang aman. Berdasarkan data BI, "short term debt to reserve" pada Februari 2012 menurun jadi 40,9% dari kuartal IV 2011 yang bernilai 41,9%. Sedangkan "short term debt to reserve" untuk kuartal pertama 2011 sebesar 42,8% dan kuartal kedua berjumlah 41,2% kemudian kuartal ketiga sebesar 41,5%. "Jika short term debt to reserve ini tinggi berarti cadangan devisanya rentan terhadap meningkatnya suatu pinjaman. Tapi kalau ini semakin menurun maka bisa untuk mengcover pinjaman atau kewajiban jangka pendek," imbuhnya.

Ditempat terpisah, Pengamat Perminyakan, Kurtubi menilai rencana pemerintah membatasi konsumsi premium bersubsdi untuk mobil di atas 1500 cc, dinilai akan menguntungkan SPBU milik asing. Apalagi ditambah dengan kurangnya persiapan PT Pertamina (Persero) dalam menyediakan dispenser pertamax. "Sebenarnya kebijakan pembatasan ini, antara lain untuk menolong pompa bensin selain Pertamina (Asing) agar memperoleh pelanggan baru,” ungkapnya

Saat ini ada tiga SPBU asing yang beroperasi di Indonesia, yaitu Shell, Total dan Petronas. Petronas yang asal Malaysia itu kini sudah menutup SPBU-nya karena akan melakukan diversifikasi usaha. Akan tetapi, dua pesaing Pertamina lainnya, yaitu Shell dan Total punya pangsa pasar sendiri di tanah air, meski jumlahnya tidak besar. Dengan dibatasinya BBM subsidi, bukan tidak mungkin pangsa pasarnya akan semakin tumbuh.

Menurut Kurtubi, pelanggan baru SPBU asing tak lain adalah mantan pelanggan Pertamina. Apalagi, harga bensin setara pertamax milik Pertamina biasanya harganya lebih rendah di SPBU asing. "Mereka sangat diuntungkan dengan rencana pembatasan dari pemerintah," sebutnya. **cahyo

Related posts