Indonesia Dinilai Tertinggi Dalam Pinjaman Bisnis

Capai 51%

Indonesia Dinilai Tertinggi Dalam Pinjaman Bisnis

Jakarta---Standart Chartered Indonesia bersama Scorpio Partnership mengungkapkan hasil surveinya dalam 12 bulan mendatang Indonesia adalah negara Asia yang paling tertarik dengan pinjaman bisnis. Adapun hasil kajian itu menyebutkan persentase pinjaman bisnis mencapai sekitar 51%. Alasannya pelaku usaha di di Indonesia percaya sumber peningkatan kekayaan terbesar dari segmen bisnis usaha.

General Manager Priority and International Banking Consumer Banking, Djumariah Tenteram menegaskan hasil survei yang dilakukan bersama lembaga Indenpenden Scorpio Partnership pada periode antara Oktober dan November 2011 mencakup sekitar 2700 segmen affluent (makmur) di sembilan pasar di Asia, di antaranya : China, Hongkong, India, Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand.

Hasil survei menyebutkan Indonesia negara dengan tingkat pinjaman bisnis tertinggi sekitar 51%, sedangkan Asia hanya sekitar 23%. Sekitar 51% yang tertarik melakukan pinjaman modal ini, lanjut Djumariah, karena sekitar 50% optimis yang menjadi sumber kekayaan utama yakni dari bisnis usaha. “Kita negara yang paling tertarik dengan business loan (pinjaman bisnis),” ungkapnya.

Menurut Djumariah, jumlah kalangan mapan ini bisa dilihat dari banyaknya pinjaman yang diinginkan untuk ekspansi usaha mereka. “Segmen affluent Indonesia tertindentifikasi melalui keinginan kuat untuk memanfaatkan pinjaman demi pengembangan bisnis mereka,”paparnya.

Tentu saja, kata Djumariah, pandangan dan optimism ini membuat kepercayaan dunia bisnis makin besar. Sehingga bisa memberikan kontribusi kepada Negara. “Jelas karena paradigma Indonesia yakin kalau usaha faktor utama yang akan berkontribusi besar dalam peningkatan kekayaan”, tuturnya

Lebih jauh Djumariah menjelaskan wirausaha sebagai tema segmen affluent Indonesia dan akan menunjang peningkatan kekayaan selama 5 tahun mendatang dibandingkan gaji 42%, investasi 16%, property 14%, warisan 3% dan lainnya 1%.

Sedangkan untuk di Asia, ujar Djumariah, faktor utama yang berkontribusi dalam peningkatan kekayaan yakni gaji sekitar 42%. Ini bukti masyarakat tidak mengandalkan gaji untuk peningkatan taraf sosial-ekonomi.

Dari 92% yang memiliki ekspektasi peningkatan kekayaan untuk 12 bulan mendatang, sekitar 67%nya sudah terealisasi. “Segmen affluent percaya diri karena telah meningkatkan kekayaan dari tahun sebelumnya. Lebih dari 67% segmen affluent Indonesia telah menghasilkan uang selama 12 bulan terakhir, tertinggi juga jika dibandingkan dengan pasar lain di Asia. **maya

Related posts