Kadin: Target Ekspor 2012 Sulit Tercapai - Krisis Global Tak Kunjung Membaik

NERACA

Jakarta – Target nilai ekspor 2012 yang dicanangkan sebesar US$230 miliar oleh pemerintah dinilai sulit untuk tercapai karena krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa tidak kunjung membaik. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan sepanjang tahun ini nilai ekspor 2012 hanya akan menyentuh US$190-US$200 miliar.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Kadin Natsir Mansyur mengatakan perkiraan pencapaian itu pun bakal dicapai dengan susah payah. Menurut Natsir, dunia usaha di dalam negeri masih pesimistis terhadap kondisi perekonomian di AS dan Eropa."Persoalan di AS dan Eropa belum selesai. Kondisi kuartal I tahun ini belum stabil di sana," kata Natsir, akhir pekan lalu.

Dia memperkirakan nilai ekspor tahun ini hanya sekitar US$190 miliar atau tidak mencapai target pemerintah sebesar US$230 miliar menyusul realisasi kuartal I-2012 yang di bawah ekspektasi. Perkiraan nilai ekspor sepanjang tahun ini tersebut itu juga lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi ekspor tahun lalu yang sebesar US$203 miliar.

Natsir mengatakan yang bisa dilakukan pemerintah saat ini adalah memperketat pengawasan barang impor yang beredar di pasar dalam negeri guna mengantisipasi pelemahan pasar ekspor yang dihadapi produsen dalam negeri. "Diperketatnya pengawasan di pasar dalam negeri antara lain melalui penerbitan revisi Permendag No. 39/2010 (tentang Impor Barang Jadi Oleh Produsen). Sebentar lagi peraturan itu akan terbit," ungkapnya.

Dia menuturkan peraturan tersebut membatasi hak importir umum dari sebelumnya boleh mengimpor seluruh jenis barang menjadi hanya satu kelompok jenis barang yang terdiri dari maksimal 13 item. Di samping itu, peraturan tersebut juga mewajibkan importir memiliki bank garansi dan mematuhi kewajiban verifikasi terhadap barang impor di Indonesia.

Adapun produsen juga dibatasi waktu jika ingin mengimpor barang jadi untuk tes pasar dan sebagai barang komplementer. Produsen yang ingin melakukan tes pasar melalui impor barang jadi hanya diperbolehkan selama 6 bulan hingga 1 tahun.

Belum Direvisi

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi memperkirakan nilai ekspor kuartal I-2012 tidak mencapai target pertumbuhan 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Dia menuturkan ekspor pada Januari-Maret 2012 maksimal hanya tumbuh 8% menjadi US$38,22 miliar, dibandingkan dengan Januari-Maret 2011 yakni US$35,59 miliar. Kendati demikian, kata Bayu, Kemendag belum merevisi target ekspor tahun ini karena masih melihat realisasi pada periode berikutnya.

"Angka resmi ekspor dan impor kuartal I-2012 akan disampaikan nanti, tapi sampai saat ini kelihatannya berat. Pertumbuhan hanya 7%-8% dari target 12%, karena imbas dari krisis memang cukup serius," jelasnya.

Sementara itu Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Gusmardi Bustami mengatakan pihaknya baru akan melihat kemungkinan revisi setelah angka resmi ekspor kuartal II-2012. Jika pertumbuhan pada April-Juni 2012 itu tetap melambat seperti Januari-Maret 2012, target ekspor kemungkinan besar akan direvisi dari US$230 miliar.

Sebagai salah satu upaya diversifikasi pasar dan meningkatkan nilai tambah untuk produk ekspor, pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekspor ke pasar nontradisional mencapai 25% di tahun ini.

Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan, melakukan misi ke Amerika Latin sebagai salah satu wujud upaya diversifikasi pasar ke Brazil dan Peru. Hal ini dianggap sangat efektif dalam mengembangkan dan membuka jaringan kerja dan mitra bisnis baru bagi pelaku usaha tanah air dengan importir/pembeli di negara target pasar.

Brazil, Chili, dan Peru dipilih sebagai negara target dikarenakan pertumbuhan perekonomian negara tersebut, nilai perdagangan bilateral dengan Indonesia, tren ekspor Indonesia ke nagara tersebut dalam lima tahun terakhir, letak geografis dan konektivitas transportasi serta logistik yang berdekatan antara satu negara dengan negara lain, dan tren impor negara tujuan dari dunia dalam lima tahun terakhir.

Mendag bersama dengan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, akan memimpin misi dagang yang terdiri dari perusahaan dan asosiasi yang bergerak di bidang pertanian, manufaktur dan jasa. Setidaknya ada tujuh perusahaan dan asosiasi di sekitar pertanian, yaitu Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia , KIBIF (PT.Bina Mantari Tunggal), PT. Aneka Coffe Industry, GAPMMI, PT. Alam Jaya, Pt. Indofood Sukses Makmur dan HKTI.

Sementara dari sektor manufaktur, PT. Denpoo Mandiri Indonesia, PT. MMS, PT. Gadjah Tunggal Tbk, CV Zapp Mebel Desain, PT. Sri Rejeki Isman, PT. Djarum, PT. Gunung Raja Paksi, PT. Citatah, Riau Andalan Pulp and Paper, CV Indobamboo dan PT. Krakatau Steel.Di sektor jasa, tiga perusahaan ikut dalam misi dagang, yaitu PT. Sucofindo, PT. Asuransi Ekspor Indonesia, dan HSBC. Selain perusahaan dan asosiasi tersebut, KADIN juga turut berpartisipasi dalam misi dagang kali ini.

Tidak hanya melakukan pertemuan bilateral, delegasi Indonesia juga akan bertemu dengan para pebisnis di ketiga negara tersebut melalui forum bisnis dan pertemuan bisnis one on one. Data tahun 2010, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan Brasil dan Chili, namun surplus dengan Peru.

Di tahun yang sama, ekspor Indonesia ke Brasil sebesar US$ 1,52 miliar, sementara impor Indonesia dari Brasil tercatat sebesar US$ 1,71 miliar.Untuk ekspor Indonesia ke Chili di tahun yang sama sebesar US$ 192 juta, sedangkan impor Indonesia dari Chili sebesar US$ 1,23 miliar. Ekspor Indonesia ke Peru sebesar US$ 94 juta, sementar aimpor Indonesia dari Peru sebesar US$ 21 juta.Kemendag merekomendasikan beberapa produk yang berpotensi untuk diekspor ke Amerika Selatan, antara lain bahan bakar mineral, minyak, permesinan, reaktor nuklir, peralatan elektronik dan listrik, plastik, bahan kimia organik, besi dan baja, karet, kertas, aluminium, pakaian dan aksesoris, furnitur, sepatu dan alas kaki, mutiara dan batu alam, kayu, kakao, kopi, teh, bumbu-bumbuan, nikel dan timah.

Related posts