Kondisi Geografis Hambat Tol Semarang-Solo

NERACA

Jakarta—Proyek infrastruktur jalan tol Semarang-Solo tampaknya mengalami kendala akibat pengerjaan fisik yang sulit. Pengerjaan fisik ini “terganggu” geografis, terutama struktur tanah dan kondisi alam. “Untuk Semarang-Solo, terutama seksi Bawen-Solo, ini tidak mungkin selesai pada 2014, kalau masalah keuangan kami tidak ada masalah,namun lebih kepada pekerjaan fisik yang sulit,” kata Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman di Jakarta,26/4

Padahal semula ruas tol Semarang-Solo ditargetkan rampung pada 2014. Namun diperkirakan akan molor. Selain masalah geografis, perusahaannya saat ini masih memfokuskan pada pembebasan lahan maupun pembangunan konstruksi untuk seksi Bawen-Solo. “Kondisi geografisnya yang cukup berat, tanah yang keras dan jalur yang berliku karena menelusuri pergunungan berliku,” tambahnya.

Sebelumnya Jasa Marga menargetkan bisa mengoperasikan tol Semarang-Solo pada 2014 namun karena permasalahan ini, perseroan menargetkan realisasi mundur menjadi 2015.“Namun kami berusaha mempercepat realisasinya dengan percepatan pembebasan tanah dan memulai konstruksi untuk rute yang tidak terlalu berat,”jelasnya.

Dia mengatakan percepatan lainnya yakni menyelesaikan seksi II rute Ungaran- Bawen sepanjang 13 kilometer yang ditargetkan rampung pada 2013. Sebelumnya, tahun lalu, perusahaan juga sudah mengoperasikan seksi I Semarang- Ungaran.

Sementara, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Achmad Gani Gazaly mengatakan, pemerintah tetap mengimbau agar ruas tol tersebut terealisasi pada 2014.

Menurut Gani, Jasa Marga sebagai pemegang konsesi diminta untuk mencari solusi percepatan pembangunan, misalnya dengan penerapan teknologi yang dapat mempermudah pembangunan konstruksi yang dinilai sulit tersebut.

"Pemerintah tetap menargetkan seluruh ruas Trans- Jawa mulai beroperasi pada 2014," ujarnya.

Ditempat terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Utara, JE Kenap mengatakan pembangunan jalan tol Manado-Bitung di Provinsi Sulawesi Utara rencananya akan dilelang 2012 ini. "Investor yang berminat untuk investasi jalan tol ini akan mengajukan proses penawaran ke Badan Pengatur Jalan Tol,"ujarnya

Proses lelang itu sendiri, kata mantan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Utara ini, akan dilelang terbuka secara nasional dan internasional. Meski demikian, berapa banyak investor yang telah melakukan penawaran, Kenap tak memberitahukannya dengan alasan bukan wilayah kerjanya. "Saya tahu, tapi tidak etis menyampaikannya. Saya hanya fokus pada pembebasan lahan jalan tol hingga konstruksinya," tuturnya

Kenap menambahkan, sambil menunggu proses lelang, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung, sementara melakukan pembebasan lahan. " Tapi kalau lebih cepat, itu lebih baik karena investor akan melihat perkembangan pembebasan lahan itu," katanya.

Menurut Kenap, bila sudah 40% pembebasan lahan dilakukan pemerintah, itu akan menyenangkan investor dan mengindikasikan keseriusan pemerintah membangun jalan tol ini. “Pembebasan lahan tidak ada kaitannya dengan investasi karena dana yang dikeluarkan bersumber dari pemerintah. Kita berupaya pembebasan lahan secepatnya diselesaikan," katanya.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terus menggenjot pembangunan ruas jalan tol Manado-Bitung karena akan menjadi urat nadi transportasi barang menuju Kota Bitung yang diproyeksikan dibangun pelabuhan internasional dan kawasan ekonomi khusus.Selain itu, lalu lintas barang dan manusia yang melalui ruas jalan sekarang ini cenderung lebih padat dan memakan waktu hingga tiga jam dari dan menuju Kota Bitung dari waktu normal yang hanya satu setengah jam. **cahyo

.

Related posts