Produksi Tuna Anjlok 70% - Sepanjang Januari-Maret 2012

NERACA

Jakarta - Perubahan cuaca yang tidak menentu membuat tangkapan ikan tuna di perairan anjlok hingga 70%. Jika biasanya pengusaha penangkapan tuna mampu ekspor ikan tuna sebanyak 20 kontainer atau setara 500 ton per bulan namun selama Januari hingga Maret ini, hasil tangkapan ikan tuna perusahaan tersebut turun 70% hingga menjadi 6 kontainer atau setara 150 ton per bulan.

Quality Control Coordinator PT Anova Asia Eva Stephani Mangungsong di Jakarta, Kamis (26/4), mengatkan perubahan iklim yang membuat air laut dingin, sehingga nelayan sulit menjangkau ikan tuna yang sedang menjauhi permukaan laut. Selain faktor cuaca yang kurang bersahabat, persaingan penangkapan ikan tuna di perairan Indonesia juga kian ketat. Menurut Eva, saat ini permintaan ikan tuna terus meningkat yang membuat banyak perusahaan baru bermunculan.

Saat ini harga ikan tuna saat ini mencapai Rp 40.000 per kilogram (kg) atau naik 50% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 30.000 per kg. Menurut dia, banyak perusahaan kapal yang awalnya hanya beroperasi sebagai penyedia alat, kini ikut terjun menangkap ikan. Dia memperkirakan, cuaca ekstrim tidak hanya berlangsung selama kuartal I dan akan berlanjut hingga kuartal II tahun ini. Dengan begitu, selama dua bulan ke depan produksi ikan tuna perusahaannya diproyeksikan akan sama, yakni sekitar 150 ton per bulan.

Sementara itu data Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI), produksi dan ekspor ikan tuna kuartal I hanya mencapai 242,26 ton atau turun 53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dwi Agus Siswa Putra, Sekretaris Jenderal ATLI mengatakan, selain ada masalah cuaca, nelayan kesulitan menangkap tuna karena kesulitan mendapat bahan bakar minyak (BBM). Dwi merinci, pada bulan Januari lalu, produksi tuna hanya 105 ton, kemudian di Februari sebanyak 79,84 ton dan Maret turun lagi menjadi 56,75 ton. Sementara itu, untuk bulan April ini yang sudah tercatat di ATLI hanya mencapai 5,94 ton.

Pembatasan Wilayah

Kecuali masalah cuaca dan BBM, pembatasan wilayah penangkapan tuna atau fishing ground juga menjadi sumber petaka bagi nelayan tuna. Biasanya nelayan bisa menangkap tuna di dua tempat di koordinat tertentu menjadi satu tempat saja yang diperbolehkan.Melihat kondisi perikanan seperti ini, Dwi pesimistis produksi ikan tuna bisa bergerak naik pada kuartal selanjutnya. Tetapi pihaknya berharap produksi tuna tidak turun.

Penurunan ekspor DSFI dikemukakan oleh Herman Sutjiamidjaja, Direktur DSFI Dia mengatakan, dari sekitar 1.000 ton total volume ekspor produk perikanan yang dilakukan perusahaannya pada kuartal I 2012, hanya 20% berupa ikan tuna. Menurut dia, hanya sekitar 200 ton, ekspor tuna kuartal I tahun ini parah.

DSFI adalah salah satu satu perusahaan pengolah hasil perikanan terpadu. Selain mengambil, perusahaan ini juga mengelola, menjual serta menjalankan usaha di bidang perdagangan hasil perikanan. Kinerja ekspor tuna DSFI turun, sebab jika dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya, perusahaan ini mampu merealisasikan ekspor tuna sebanyak 250 ton.

Kinerja ekspor tuna yang rendah diperkirakan terus terjadi pada kuartal II 2012. Masih terus berlangsungnya angin barat di beberapa perairan Indonesia menjadi penyebab. Bila kondisinya masih seperti ini, ekspor tuna hanya pada kisaran 10% saja. Kuartal II tahun ini DSFI menargetkan total ekspor tuna minimal 200 ton.

Walau ekspor tuna menurun di semester pertama, Herman masih yakin target peningkatan total ekspor ikan DSFI sebesar 20% pada tahun ini bakal tercapai. Perusahaan ini berharap pasokan ikan jenis lain mengalami peningkatan. Pada 2011 lalu, total ekspor produk perikanan DSFI mencapai 3.200 ton dengan nilai US$ 19 juta. Dengan target peningkatan ekspor 20%, maka tahun ini diperkirakan nilai ekspor DSFI menjadi US$ 22,8 juta.

Target peningkatan nilai ekspor cukup beralasan, sebab kelangkaan ikan tuna telah membuat harga produk tuna melonjak. Herman membandingkan, jika pada kuartal terakhir tahun lalu harga beli ikan tuna sekitar Rp 35.000 sampai Rp 38.000 per kg, kini naik menjadi rata-rata Rp 60.000 per kg.

Kenaikan harga beli tuna diimbangi dengan naiknya harga produk tuna DSFI. menurut Herman saat ini harga jual rata-rata produk ikan tuna mencapai US$ 24 per kg, naik 30% dibandingkan harga kuartal IV 2011 sebesar US$ 18,5 per kg. Pasar ekspor utama produk perikanan DSFI adalah Eropa, Amerika Serikat (AS), Rusia, Jepang. Herman mengatakan, sampai saat ini pasar Eropa masih menduduki peringkat pertama ekspor ikan DSFI sebanyak 30%. Setelah Eropa, disusul AS sebesar 20% dan Rusia sebanyak 10%-15%.

Related posts