Kekerasan TKI dan Diplomasi Banci

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Pahlawan devisa negara adalah sebutan bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang beradu nasib dinegara orang. Langkah ini mereka lakukan lantaran persoalan klasik ekonomi yang memaksa mereka untuk bekerja di negara orang demi peningkatan kesejahteraan. Tentunya dibalik perjuangan mereka, ada yang sukses kembali ke tanah air tetapi ada juga yang sengsara dan bahkan ironis pulang hanya tinggal nama.

Selama ini masyarakat sering banyak disuguhi berita negatif ketertindasan para TKI, khususnya para tenaga kerja wanita Indonesia mulai dari intimidasi, pelecehan hingga penyiksaan yang berbuntut maut. Yang teranyar adalah pembunuhan tiga TKI yang berujung pada penjualan organ tubuh manusia di Malaysia. Bukan kali ini saja, negara serumpun itu berbuat ulah tehadap para TKI, tetapi banyak dosa yang tak terhitung mereka lakukan kepada para pejuang Indonesia.

Begitu juga dengan tidak terhitungnya penyelesaian kasus TKI yang ditangani pemerintah Indonesia tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Bila terjadi tragedi yang menimpa TKI, pemerintah hanya bersifat reaktif dan cukup dengan membentuk tim investigasi, tetapi kemudian hilang begitu saja tanpa ada penyelesaiannya.

Derita korban para TKI makin diperburuk dengan perilaku para duta besar bangsa ini yang tidak menunjukkan kelincahannya dalam melakukan diplomasi, untuk memperjuangkan nasib para TKI Indonesia. Kasus ini tidak hanya terjadi di Malaysia, Singapura atau di Timur Tengah, tetapi hampir di semua negara.

Sebagai negara yang berdaulat, seharusnya para pejabat diplomat bangsa ini bisa memiliki kepedulian tinggi ketika sesama anak bangsa tertindas di negara orang, entah itu mereka bersalah ataupun tidak. Tiru saja, negara adidaya Amerika Serikat ataupun Australia yang berani menurunkan kekuatan penuh para diplomatnya untuk memperjuangkan rakyatnya yang terkena proses hukum di negara orang.

Masih ingat dengan gadis asal Australia yang dikenal sebagai "Ratu Mariyuana", Schapelle Leigh Corby, yang tertangkap tangan menyelundupkan kokain di Bali, sangat dikawal penuh proses hukumnya di dalam negeri oleh pemerintahnya hingga pejabat luar negerinya turun tangan membela dari hukuman mati.

Lalu bagaimana dengan Indonesia, jawabannya masih jauh dari yang diharapkan atau bisa dibilang diplomasi Indonesia masih lembek mudah ditekan hingga begitu geramnya bisa dibilang banci lantaran tidak mampu melindungi warganya, khususnya TKI yang tersandung hukum. Tentunya perlindungan yang diharapkan para diplomat bukan untuk melawan hukum bila bersalah, tetapi bagaimana mampu meringankan hukuman.

Begitu marahnya bangsa ini, ketika ada WNI di Arab Saudi yang dihukum gantung tanpa ada pemberitaan dari duta besar Indonesia disana dan bahkan keluarganya di tanah air tidak mengetahui bila eksekusi sudah dilakukan. Ini artinya, pemerintah kita lemah dalam kordinasi dan advokasi. Kondisi ini menjadi pukulan telak dan pelajaran berharga yang menuntut pemerintah Indonesia kembali perlu memperkuat diplomat dan advokasi bukan bukan sebagai banci tutup mata dan telinga.

Related posts