Dongkrak Penjualan, Indofarma Siap Bangun Pabrik di Kazakhstan

Neraca

Jakarta – Dalam rangka meningkatkan pendapatan penjualan obat generik, PT Indofarma Tbk (INAF) berencana membangun pabrik farmasi di Kazakhstan. Langkah ini dilakukan guna peningkatan dan ekspansi penjualan obat-obatan di wilayah Eropa Timur dan sekitarnya.

Direktur Riset dan Pemasaran INAF, Elfiano Rizaldi mengatakan penjajakan ini diutarakan saat Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev berkunjung Indonesia beberapa waktu lalu, “Perseroan telah memulai pembicaraan awal saat pemimpin Kazakhstan itu berkunjung ke Indonesia. Nanti pada 22 Mei 2012 kami akan melakukan kunjungan balasan ke sana untuk melihat potensinya,” kata Elfiano di Jakarta, Rabu (25/4).

Menurutnya, potensi pasar disana tidak terlalu besar di bandingkan di Indonesia. Hanya saja, langkah ini sebagai pintu awal ekspansi perseroan di kawasan Eropa dan negara sekitarnya. Rencananya, pembangunan pabrik tersebut akan join venture dengan BUMN farmasi negara Kazakhstan.

Terkait kinerja, pada tahun ini perseroan menargetkan penjualan senilai Rp1,4 triliun atau tumbuh 16,67% dibandingkan dengan perolehan 2011 sebesar Rp1,2 triliun. Seiring dengan kenaikan penjualan, perseroan juga membidik laba bersih mencapai Rp75 miliar dibandingkan raihan pada tahun lalu senilai Rp36,9 miliar.

Head of Research eTrading Securities Bertrand Raynaldi dalam risetnya mengatakan melonjaknya penjualan alat kesehatan menjadi salah satu pendongkrak penjualan perseroan.“Ke depan diharapkan peningkatan penjualan dan laba bersih perseroan dapat meningkat, didukung dengan rencana diambilalihnya Indofarma oleh KAEF, yang jika terealisasi maka akan terjadi sinergi yang positif,” paparnya.

Terbitkan Obligasi

Selain itu, Indofarma juga berencana menerbitkan obligasi dengan mekanisme berkelanjutan senilai Rp600 miliar pada semester kedua 2012."Kami sedang memikirkan untuk menerbitkan obligasi senilai Rp600 miliar dengan mekanisme berkelanjutan. Kemungkinan akan diterbitkan pada kuartal ketiga 2012. Untuk tahap pertama akan diterbitkan senilai Rp300 miliar," ujar Direktur Keuangan PT Indofarma Tbk, John Sebayang.

Lebih lanjut penerbitan obligasi senilai Rp300 miliar untuk tahap pertama tersebut digunakan untuk membayar utang ke Bank Mandiri senilai Rp175 miliar, investasi Rp100 miliar dan sisanya untuk modal kerja. Kemungkinan obligasi tersebut akan bertenor 5 tahun.

Perseroan juga sedang mengembangkan FDC (Fix Dos Combination) untuk obat TBC yang dijadikan pada satu pada 2012. Biaya investasi pengembangan FDC tersebut senilai Rp57 miliar."Itu akan dikembangkan di lahan Cibitung sekitar 20 hektar, sekarang sudah ada herbal dan pabrik kimia," kata John

Selain itu, perseroan juga memperkirakan penjualan akan lebih baik pada kuartal kedua 2012. Hal itu didukung dari penambahan distributor menjadi 3 dari dua sehingga distributor tersebut antara lain Mensa, IGM, dan Sawah Besar. (bani)

Related posts