Tower Bersama Siapkan Dana US$ 325 Juta Dan Right Issue - Percepat Akuisisi BTS Indosat

Neraca

Jakarta- PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) akan segera mencairkan komitmen pinjaman sebesar US$ 325 juta pada Mei mendatang. Rencananya pinjaman akan dicairkan dalam dua seri, yakni seri 4 dan 5, dalam rupiah dan dolar Amerika Serikat. “Untuk komposisi rupiah dan dolar itu sampai saat ini belum ditentukan dan masih dikaji,” kata Chief Financial Office, Helmy Yusman Santoso di Jakarta, Rabu (25/4).

Sebagaimana diketahui, perseroan membutuhkan dana segar untuk menuntaskan pembelian 2.500 menara telekomunikasi milik PT Indosat Tbk (ISAT). "Transaksi final direncanakan akhir Mei, berarti utang bisa dicairkan sebelum itu," ujar Helmy.

Helmy mengatakan, nilai pembelian 2.500 menara Indosat itu mencapai US$ 406 juta. Selain dengan pinjaman, pembayarannya juga dilakukan dengan skema penerbitan 239.826.310 saham baru atau ekuivalen dengan 5% total saham TBIG. "Saham ini akan dimiliki oleh Indosat," ujarnya.

Sementara harga saham yang diserahkan kepada Indosat, lanjut Helmy akan mengikuti aturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam), yaitu rata-rata harga saham TBIG sebelum pengumuman Rapat Umum Pemegang Saham pada 22 Maret 2012. "Rata-rata harga saham sebesar Rp 2.757 per lembar saham. Berarti kira-kira setara dengan US$ 73 juta," ujarnya.

Lebih jauh Helmy menuturkan, pinjaman sebesar US$ 325 juta merupakan bagian dari standby loan yang telah dikantongi perusahaan sejak tahun lalu, yaitu sebesar US$ 2 miliar. Pada tahun lalu Tower Bersama telah menerbitkan tiga seri. Seri pertama dicairkan sebesar US$ 300 juta dengan tenor lima tahun. Sementara seri kedua dicairkan sebesar US$ 50 juta dengan tenor tiga tahun. Untuk seri ketiga, perusahaan menerbitkan pinjaman sebesar US$ 200 juta, namun dari pinjaman itu baru sebesar US$ 55 juta yang ditarik perusahaan.

Sisa dana pinjaman sekitar US$ 145 juta, ujar Helmy, kemungkinan akan dicairkan pada tahun ini. Duit itu pun akan digunakan untuk pertumbuhan organik dari perusahaan menara ini. "Ada untuk pembangunan menara, ada juga untuk co-location," ujarnya.

Di sisi lain, TBIG telah menghabiskan belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp 281 miliar untuk kuartal I-2012. "Kebutuhan dana salah satunya untuk organic growth. Tower selain diperoleh dari organic growth, bangun sendiri juga dari akuisisi," ujar Helmy.

Lanjut Helmy, hingga akhir Maret 2012, perseroan sendiri telah membangun 700 tower dengan 667 penyewa atau tenant. Adapun tahun ini, perusahaan belum bisa menargetkan berapa jumlah menara yang akan ditambah. Namun yang pasti pada Mei mendatang akan ada tambahan 2.500 tower yang merupakan hasil mengakuisisi tower Indosat. Di akhir 2012 ditargetkan akan memperoleh 7002 tenant.

Tidak Bagi Dividen

TBIG memutuskan tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham. Hal tersebut diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). "Kami putuskan tidak membagi dividen, karena kami ada akuisisi besar tower Indosat dan berniat untuk organic growth cukup signifikan untuk pengembangan perusahaan," ujar Presiden Direktur TBIG Herman Setya Budi.

Sebagai informasi, selama kuartal I-2012, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 310 miliar atau meningkat 45 persen dibanding periode yang sama. Sedangkan laba bersih perusahaan kuartal I-2012 sebesar Rp 141,8 miliar dibanding tahun sebelumnya periode yang sama sebesar Rp 100,4 miliar.

Selain itu, para pemegang saham menyetujui pengunduran diri Sandiaga Uno yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris di TBIG. "Beliau mengundurkan diri karena banyak kesibukan. Dan belum ada gantinya. Kalau sudah ada gantinya akan segera kita umumkan," ujar Herman. (didi)

Related posts