Kemenparekraf Berencana Bikin Film Animasi Cita Rasa Lokal - Masih Didominasi Produk Impor

NERACA

Jakarta – Pasar film animasi di Indonesia benar-benar jadi “bulan-bulanan” asing. Alasannya, 90% peredaran film animasi di televisi domestik berasal dari impor. Karena itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berencana mengembangkan industrialisasi film animasi yang bercitarasa lokal.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengakui film animasi yang beredar di Indonesia seperti film animasi anak-anak yang familiar saat ini seperti Upin dan Ipin merupakan salah satu bentuk pasar animasi dalam negeri masih didominasi asing.

“Pemerintah terus mendorong agar industri film animasi dapat berkembang di Indonesia mengalahkan film-film impor. Hampir 90% tayang film animasi di TV masih impor. Kita ingin dibuat di dalam negeri dengan karakter lokal. Itu yang akan kami dorong," kata Mari di Jakarta, Rabu (25/4).

Lebih jauh dia mengatakan, pihaknya akan mendorong agar industri kreatif lain di Indonesia terus berkembang dan tak hanya terpaku pada produk impor. Jika dulu, lanjut Mari, industri kreatif lebih cenderung menggenjot multimedia, namun saat ini semua aspek. “Seperti musik, film, konten, atau platform multimedia," Mari mencontohkan.

Sementara disinggung soal bidang industri kreatif lainnya, Mari mengatakan, banyaknya makanan khas atau kuliner Indonesia yang bertebaran di seantero negeri bisa menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Namun celakanya, lidah masyarakat Indonesia masih gemar dan bangga menikmati kuliner siap saji asal luar negeri.

Itu sebabnya, dia mengaku siap mengembangkan produk kuliner daereh sebagai salah satu produk unggulan Indonesia. Menurut dia, kuliner baru dikembangkan oleh Kementerian yang dia pimpin. “Ini kami mempelajari bagaimana mengembangkan kuliner. Kita lagi berpikir bagaimana membuat standar dan set menu yang bisa kita gunakan dalam berbagai hal," ungkapnya.

Selain itu, dia meminta masing-masing daerah untuk menampilkan kuliner daerahnya. Nantinya kuliner tersebut akan di promosikan baik di dalam maupun luar negeri. "Apakah itu bisa kita promosikan di dalam negeri dan luar negeri, kepada para tamu maupun restoran yang bisa kita kembangkan di luar negeri. Akan dikembangkan setidaknya 20-30 set menu di Indonesia," tandasnya.

Terkait dengan hak cipta industri kreatif, dirinya menilai keinginan pelaku usaha dan perajin dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mendaftarkan produk dan karyanya untuk memperoleh hak cipta masih sangat rendah. Karena itu tak heran jika produk atau karya perajin lokal kerap ditiru. Hak cipta ini, sambungnya, penting karena dikhawatirkan ada saja yang mengambilnya sehingga yang menciptakan awalnya tidak bisa menjual dengan mereknya sendiri.

Dikatakan Mari, para pelaku usaha dan perajin masih memiliki pemahaman yang terbatas tentang pentingnya hak cipta untuk melindungi produk dan karya mereka. Menurut Mari, UKM tersebut tidak paham aturan hak cipta, walaupun paham belum tentu tahu caranya untuk memperoleh hak cipta.

Untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman yang lebih baik dari pelaku usaha dan pengrajin tentang pentingnya hak cipta untuk melindungi produk dan karya mereka. Mari menyebut, perlu adanya sosialisasi yang intens. Dia mengatakan semua pihak harus kerja keras untuk sosialisasi minimal semuya kelompok industri kreatif yang sekarang tengah dibina. “Kita menekankan kalau anda sudah punya produk yang bagus tolong didaftarkan," terangnya.

Related posts