Genjot Produksi, Titan Kimia Siapkan Capex US$ 7,5 Juta

NERACA

Jakarta – Rencana PT Titan Kimia Nusantara Tbk (FPNI) meningkatkan kapasitas produksi sebesar 90% dari tahun lalu sebesar 73%, memaksa perusahaan penghasil plastil lembaran ini harus menguras kocek belanja modal di tahun 2012 sebesar US$ 7,5 juta.

Direktur Titan Kimia Bambang Budihardja mengatakan, belanja modal tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, perawatan mesin dan operasional, “Tahun ini kapasitas produksi ditargetkan akan meningkat sebesar 90% dari tahun lalu yang meningkat 73%,"katanya di Jakarta, Rabu (25/4).

Dia menuturkan, sumber dana belanjan modal akan diambil dari dana operasional perseroan. Pada tahun 2011 lalu, perseroan meraih penjualan bersih sebesar US$ 537,23 juta atau meningkat 32,86% dari tahun sebelumnya di 2010 sebesar US$ 404,34 juta, “Tingginya tingkat penjualan disebabkan oleh meningkatnya tingkat operasi produksi secara signifikan menjadi 73% dari 58% pada tahun 2010, dikarenakan membaiknya realibilitas pabrik secara keseluruhan,"ungkapnya.

Namun, dia menjelaskan, peningkatan penjualan di sepanjang tahun 2011 tersebut tidak seimbang dengan beban yang harus ditanggung oleh perseroan, sehingga perseroan mengalami rugi bersih sebesar US$ 12,80 juta.

Sementara, rugi sebelum pajak sebesar US$ 10,98 juta dan juga rugi per saham US$ 0,0023. Sedangkan jumlah aset perseroan di tahun 2011 meningkat tipis 1,44 % dari US$ 326,55 menjadi US$ 331,27.

Bangun Pabrik di Cilegon

Selain itu, direktur PT Titan Kimia Nusantara Tbk (FPNI), David Tsung-Hung Chao mengatakan, PT Honam Petrochemical Corp sebagai anak usaha Lotte Group, Korea Selatan berencana membangun pabrik petrokimia terpadu di Cilegon, Banten.

Sebagaiman diketahui, Honam masuk ke Indonesia dengan menggandeng PT Titan Kimia Nusantara Tbk."Memang benar Honam berniat bangun pabrik di Cilegon. Itu proyek jangka panjang, dan saat ini kita sedang persiapkan lahannya terlebih dahulu," ujarnya.

Dirinya juga menuturkan, Honam nantinya berencana membangun pabrik etilen (ethylene) di lahan seluas 60 hektar (Ha). “Honam tidak berniat menyewa tanah seluas 60 hektare (Ha) milik PT Krakatau Steel Tbk, namun membelinya. Saat ini lahan yang sudah kita miliki 35 hektar, jadi kita masih mengurus sisa lahan tersebut," ujarnya.

Sebelumnya dikabarkan, untuk pembangunan pabrik etilen tersebut diperkirakan akan menelan biaya sekita US$ 4 miliar hingga US$ 5 miliar. "Kami belum bisa memastikan nilai investasi untuk membangun pabrik tersebut. Ini adalah proyek jangka panjang, jadi kita lihat dulu berapa biaya untuk pembelian tanah, line, mesin-mesin, design dan lain-lainnya. Dengan demikian kita belum bisa tentukan total dana yang akan dikeluarkan dalam pembangunan pabrik tersebut," pungkasnya. (didi)

Related posts