Jamsostek Siaga Suntik Modal Sekuritas Pemerintah

Rabu, 16/03/2011

NERACA

Jakarta – Terkurasnya permodalan tiga underwriter Garuda akibat gagal memasarkan saham perdana PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, membutuhkan tindakan cepat untuk menyelamatkan sekuritas plat merah tersebut dari kondisi lebih buruk. Maka atas nama sinergisitas antar BUMN, PT Jamsostek menyatakan kesiapan untuk membantu permodalan tiga sekuritas pemerintah.

Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, pihaknya siap memberikan bantuan modal bila tiga sekuritas tersebut membutuhkan dana guna meningkatkan modalnya. Tentunya harus mengaukan proposal terlebih dahulu kepada Jamsostek. “Mereka harus ajukan proposal dan kami akan mempertimbangkan dan ini adalah bisnis. Kami juga harus ekstra hati-hati,” katanya di Jakarta, Selasa (15/3).

Ketiga sekuritas milik pemerintah tersebut adalah, yakni PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas dan PT Bahana Securities. Mereka harus menyerap 47% saham yang tidak terserap pasar atau setara Rp2,3 triliun.

Gagalnya penawaran saham perdana PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), ternyata masih menyisakan persoalan panjang. Selain harga sahamya yang anjlok dipasar dan tidak terserap banyak para investor, kini underwriternya mengalami kerugian paling telak dan kabarnya bisnis usaha tersebut nyaris collapse karena harus menyerap sisa saham senilai Rp 2,5 triliun dari target Rp 4 triliun hanya terserap Rp 1,5 triliun.

Berdasarkan sumber salah satu underwriter, kabar tersebut dibenarkan dan diakui perseroan mengalami kerugian sangat besar. Namun dipastikan tidak memberikan dampak pada gulung tikar perseroan akibat dana yang terkuras abis. “Kita akui penjaminan emisi kemarin mengalami kerugian besar, karena harga saham yang tidak laku,”paparnya.

Menurut sumber, kerugian besar yang dialami penjamin emisi disebabkan harga jual Garuda diluar atas rekomendasi penjamin emisi. Dimana harga tersebut ditawarkan karena adanya tekanan politik dan bukan mekanisme pasar, kemudian emiten penerbangan memiliki pesaing besar dan terlebih kondisi pasar yang tidak baik juga mempengaruhi anjloknya harga saham Garuda.

Selain itu, dia juga membenarkan bila kerugian underwriter pemerintah belum teratasi akan mempengaruhi molornya aksi korporasi BUMN baik IPO, right issue atau penerbitan obligasi. Sebut saja, BTN yang direncanakan akan terbitkan obligasi, kini harus jadwal ulang kembali karena underwriter plat merah sedang sakit soal keuangan dampak negatif dari Garuda.

Oleh karena itu, Kementerian BUMN diminta untuk mencari jalan keluarnya. Bila tidak, sangat mungkin agenda IPO BUMN lain bakal terganggu. Pasalnya, bila IPO BUMN diserahkan underwriternya kepada swasta akan lebih berbahaya ketimbang ditangani underwriter plat merah. “Ini sangat bahaya kalau penjaminan emisi BUMN diserahkan ke swasta, karena yang milik pemerintah saja rugi besar dan bagaimana swasta yang tidak punya back upnya,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Pada 11 Februari 2011, Garuda melepas sebanyak 6,335 miliar lembar saham atau setara 26,67% dari total modal yang ditetapkan, dengan perolehan dana sebesar Rp4,75 triliun. Namun dari jumlah tersebut, terdapat sebanyak 1,9 miliar lembar saham milik PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), atau senilai Rp1,45 triliun. Dengan demikian, jumlah dana segar yang dikantongi perusahaan BUMN aviasi itu sebesar Rp3,3 triliun.