Pengolahan Nikel Antam Berproduksi Lagi - Setelah Kadar Ore Sesuai Permintaan

NERACA

Jakarta - PT Antam UBPN Pomalaa, Kolaka Sulawesi Tenggara (pabrik FeNi II) kembali melakukan pengolahan nikel yang berada di Pulau Maniang setelah sempat terhenti sejak tahun 2009 lalu karena kadar nikel yang dimiliki tidak sesuai dengan permintaan pasar dunia. Dengan estimasi biaya lebih kecil dari anggaran sebesar Rp187 miliar yang sebagian besar didanai oleh penerbitan obligasi Antam di akhir tahun 2011.

Setelah dilakukan switch on pabrik, beban listrik akan ditingkatkan secara bertahap hingga pengoperasian beban penuh pada bulan Mei 2012. SVP Corporate Secretary Tedy Badrujaman mengatakan Pulau Maniang merupakan lahan yang mempunyai nilai historis dari aktivitas pertambangan nikel Antam, karena sejak awal keberadaan Antam sudah melakukan penambangan di wilayah itu tahun 1959.

"Pembukaan kembali ini wilayah Maniang ini untuk yang ketiga kalinya dilakukan setelah dihentikan sementara karena kadar ore-nya yang belum sesuai permintaan pasar nikel dunia," katanya di Jakarta, Rabu (25/4).

Menurut Tedy, tambang di Pulau Maniang ini merupakan cikal bakal perkembangan tambang yang ada di Antam sehingga wilayah ini besar sekali artinya bagi Antam. “Penambangan di Pulau Maniang ini benar-benar menjadi penambangan yang tuntas karena rencananya ketika setelah selesai nantinya akan dibuatkan sebuah monumen sejarah dan akan dijadikan objek wisata tambang," ungkapnya.

Tedy menjelaskan, pada awal proses penambangannya, kadar di pulau itu yang luas IUP-nya hanya 100 hektar lebih, mencapai hingga kadar 3 UP sementara setelah beberapa kali dilakukan ekspor kadarnya turun sehingga aktivitas sempat terhenti karena tidak sesuai dengan kebutuhan pasar nikel dunia."Kadarnya turun hingga 1,8 UP dan nilai ekonomisnya sudah tidak bisa diumpan ke pabrik lagi makanya dihentikan sementara penambangan di pulau itu," terangnya.

Namun, setelah pihak Antam mendirikan pabrik yang bisa mengkonsumsi hingga kadar itu, barulah kembali dibuka seperti yang dilakukan saat ini. "Kami berharap kepada tim yang ditunjuk dapat melakukan pekerjaan dengan baik serta lingkungan yang terkendali dan harus memperlihatkan contoh penambangan yang baik apalagi lokasi ini bersentuhan langsung dengan laut sehingga harus diantisipasi pencemarannya." kata Tedy.

Optimasi pabrik FeNi II bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan tingkat keselamatan operasional pabrik. Direktur Utama Antam Alwinsyah Lubis mengatakan, optimasi pabrik FeNi II merupakan rangkaian dari peningkatan efisiensi dan keselamatan operasional pabrik Antam, menyusul optimasi pabrik FeNi II. “Kami juga akan melakukan proyek modernisasi dan optimasi pabrik FeNi I yang mencakup pembangunan PLTU berkapasitas 2 x 30MW, peningkatan kapasitas pabrik FeNi, pembangunan Rotary Kiln 4 serta upgrading fasilitas pendukung pabrik seperti jetty dan belt conveyor,” paparnya.

Optimasi pabrik FeNi II yang dilakukan selama 75 hari mencakup diantaranya penggantian furnace roof dengan menggunakan desain yang lebih baik serta optimasi dinding tanur (furnace sidewall) dengan melakukan penguatan pada instalasi pendingin copper cooler yang akan meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Related posts