Honam Corp Pakai Lahan Krakatau Steel Bangun Pabrik - Investasikan US$ 5 milliar

NERACA

Jakarta – Perusahaan petrochemical asal Korea Selatan, Honam Corp, yang akan berinvestasi kurang lebih mencapai US$ 5 milliar berencana segera memakai lahan PT Krakatau Steel Tbk untuk membangun pabriknya di Indonesia.

Menurut Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto, rencana pemakaian lahan tersebut telah mendapat restu oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. “Pemerintah pasti menyetujui pemakaian lahan PT Krakatau Steel Tbk karena pemerintah mengetahui pabrik yang akan dibangun tersebut sangat strategis untuk Industri dalam negeri,” ungkap Panggah di kantornya, Rabu (25/4).

Lebih jauh lagi Panggah mengungkapkan, dari pembangunan pabrik tersebut akan menghasilkan beberapa macam jenis dari petrokimia, yang diantaranya memproduksi propilena dan etilena yang kemudian diolah menjadi polipropilena, polietilena, butadiene, mono ethylene glycol, mixed C4 dan pygas.

Pembangunan pusat produksi Honam tersebut direncanakan selesai 3 tahun mendatang, setelah dimulainya proses pembangunan pada kuartal I/2013. Sebelumnya Pemerintah akan melakukan perundingan dengan manajemen Honam Petrochemical Corp,, untuk mencari solusi penyediaan lahan pabrik. Hal ini dilakukan, agar pihak Honam mau menanamkan investasi di Indonesia.

Menteri BUMN Dahlan Iskan menjelaskan, anak usaha Lotte Grup tersebut sudah menyediakan dana sekira USD4-USD5 miliar untuk membangun kilang nafta (cracker nafta) di Cilegon, Banten. "Tadi pagi saya rapat di BUMN membahas itu (Honam). Intinya kita harus carikan jalan keluar karena investasinya besar sekali, kita tawarkan sistemnya itu HGB (hak guna bangunan) di atas HPH (hak pengelolaan hutan), kita tawarkan itu," ungkapnya kala ditemui di kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin.

Dahlan menjelaskan, pertemuan antara pihaknya dengan manajemen Honam akan dilakukan besok di Kementerian BUMN. Pertemuan tersebut, akan membicarakan lahan Krakatau Stell (KS), karena Honam memang mengincar lahan KS. "Jadi besok ada pertemuan antara Honam, Kementerian BUMN dan KS, pukul 10.00 WIB di Kementerian BUMN, mencari jalan keluar. Mereka siapkan investasi USD5 miliar. Mereka ingin menggunakan tanah di KS itu," paparnya.

Dia melanjutkan, bila nantinya manajemen Honam tidak berminat atas solusi yang ditawarkan pemerintah, maka akan ditawarkan solusi lain agar mereka tetap jadi berinvestasi di Indonesia. "Iya, kita tawarkan sewa jangka panjang sekali. Kalau Honam tidak mau, kita cari jalan lain. Besok kita rundingkan, pokoknya itu investasi harus jadi," jelasnya.

Menunggu Kepastian

Seperti diberitakan sebelumnya, Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, H.M Azhar Lubis menjelaskan, saat ini pihak Honam masih menunggu kepastian lahan untuk pembangunan cracker tersebut. Pasalnya, mereka akan menggunakan sebagian dari lahan milik PT Krakatau Steel Tbk. "Mereka akan menggunakan lahan milik Krakatau Steel," ujarnya.

Nantinya, bila ketersediaan lahan sudah pasti maka pembangunan pabrik sudah bisa dimulai pada kuartal-I 2013 dan ditargetkan tuntas pada 2016. Selain Honam, ada juga perusahaan Korea Selatan, Samtan Corp, yang akan menanamkan investasi senilai USD300 juta di sektor ekspolari gas di Sumatera Selatan.

Hingga kuartal I-2012, sebanyak 160 perusahaan Korea Selatan telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia. Dari data Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik (Inaplas) menyatakan industri petrokimia masih harus mengimpor seluruh 1,7 juta ton kebutuhan nafta untuk proses produksi sepanjang 2011.

Selain itu, produsen petrokimia domestik juga masih mengimpor 50% dari kebutuhan etilena yang mencapai 1,2 juta ton per tahun, 90.000 ton propilena per tahun dan sekitar 230.000 ton paraxylene per tahun. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan persediaan bahan mentah di Indonesia yaitu cadangan gas bumi yang mencapai 160 TCF, deposit batu bara sebanyak 100 miliar ton, dan kapasitas produksi 900.000 barel minyak bumi per hari.

Related posts