Mereka Yang Terlupakan

Borobudur atau Prambanan mungkin “nasibnya” jauh lebih baik dibandingkan dengan candi atau kompleks candi lainnya yang tersebar di wilayah Indonesia. Selebihnya, bisa dikatakan miris. Beberapa candi bersejarah tinggi bahkan mengalami kerusakan atau dijarah dan dijual sebagai perdagangan kekayaan alam dan budaya. Dua yang telah ditakdirkan apes adalah Candi Kalasan dan Kawasan Percandian Muaro Jambi.

Pernah mendengar Candi Kalasan? Namanya memang kurang tersohor dibandingkan dengan Borobudur, namun ternyata Kalasan merupakan candi Buddha tertua di Indonesia karena dibangun pada tahun 778 M. Jika Anda berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta, sempatkanlah melihat Candi Kalasan yang unik sekaligus menyimpan nilai sejarah tinggi ini. Kalasan terletak di Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, yaitu sekitar 2 kilometer di sebelah barat dari Candi Prambanan. Candi ini dibangun sebagai persembahan untuk Dewi Tara dan biara bagi para pendeta Buddha.

Candi Kalasan dibangun atas perintah Rakai Panangkaran; hal ini dapat diketahui dari prasasti kuno yang ditemukan tidak jauh dari candi. Dengan huruf bercorak Pranagari dan Sansekerta, disebutkan bahwa candi ini didirikan oleh Raja Tejahpurna Parapkarana (Kariyana Panangkaran), dari wangsa Syailendra (Syailendra Wangsatikala).

Candi Kalasan terkenal sebagai candi yang indah hiasannya dan sangat halus pahatan batunya. Ada keistimewaan lain dari Candi Kalasan ini, yakni pelapis ornamen-ornamen pada dinding luarnya yang biasa disebut bajralepa, suatu bahan berwarna kuning yang terbuat dari getah beberapa tanaman.

Fungsinya, sebagai perekat dan pelindung terhadap kerusakan dan menjaga ukiran serta memperindah relief dindingnya.

Bangunan Candi Kalasan atau Candi Tara mempunyai tinggi 34 meter, panjang dan lebar 45 meter. Terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian bawah atau kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Bagian terbawah candi merupakan kaki candi yang berdiri di sebuah alas batu yang berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 45 meter dan sebuah batu lebar.

Candi Kalasan ini memiliki stupa-stupa dengan tinggi sekitar 4,6 meter, berjumlah 52 buah di sekelilingnya. Namun, sayangnya kondisi Candi Kalasan saat ini terbilang sangat rusak termakan zaman. Bahkan, tangga masuk yang menghubungkan ke dalam pintu utama candi, rusak total. Sehingga, mengharuskan pengunjung untuk memanjat batu-batu besar agar bisa masuk ke dalam candi ini. Mengenaskan!

Di beberapa sisi dinding bangunan ini, juga terlihat tak terawat. Banyak batu-batunya hancur sehingga candi ini tidak lagi menunjukkan wujud aslinya seperti dahulu kala. Sampai saat ini belum ada upaya perbaikan dari pemerintah dan badan internasional untuk merenovasi candi ini.

Begitu juga dengan fasilitas kenyamanannya terbilang sangat minim, seperti kecilnya lahan parkir, tidak ada fasilitas toilet, atau pun tempat sampah. Candi ini memang masih kalah pamor dan kurang megah dibandingkan dengan Borobudur dan Prambanan. Pengunjung yang datang ketempat ini terbilang jarang sekali. Sungguh sangat disayangkan, jangan sampai bangunan bersejarah ini terlupakan dan hancur termakan zaman. Karenanya, perlu kesadaran dari Pemerintah dan masyarakat agar bahu membahu memugar Candi Kalasan agar peradaban tinggi dalam sejarah manusia ini tidaklah hilang.

Lain lagi ceritanya di Kawasan Percandian Muaro Jambi, masalah yang dihadapi pun tak kalah pelik. Keberadannya di sepanjang sungai Batanghari, Jambi, seluas 2.612 hektar saat ini ‘diserbu’ perusahaan kelapa sawit dan batubara!

Kelapa sawit yang ditumbuhkan secara masif membuat habitat hewan dan tumbuhan yang biasanya menghiasi kawasan ini mulai menghilang. Kelapa sawit itu sifatnya monokultur, tanaman lain ditebang habis hanya boleh kelapa sawit yang hidup.

Sedangkan perusahaan batubara menebar ancaman yang lebih serius lagi karena menimbulkan masalah kesehatan dan merusak Kawasan Percandian Muaro Jambi. Jika batubara mengeluarkan gas metana yang mudah terbakar. Hasil bakaran ini akan menjadi pecahan kecil yang bisa terbang ke segala arah, termasuk ke arah situs percandian Muarojambi.

Selain meracuni penapasan manusia, batubara juga akan tertimbun di kawasan yang kita lindungi. Sifat batu bara itu tidak bisa diserap oleh tanah, lama-lama kawasan ini akan rusak, tidak bisa lagi bercocok tanam, karena kondisi tanahnya rusak.

Kawasan Percandian Muara Jambi merupakan peninggalan kebudayaan masa Hindu-Buddha di Asia pada abad 7-13 Masehi. Luasnya yang secara administratif mencakup tujuh wilayah desa, membuat Muaro Jambi sebagai kompleks paling luas dan terpadat tinggalan kepurbakalaannya di Indonesia.

Kompleks ini pertama kali ditemukan pada tahun 1974 melalui informasi yang disampaikan masyarakat sekitar. Ketika dipugar di tahun 1975 hingga sekarang, diperkirakan ada 80-90 candi yang ada di kompleks Muaro Jambi. Namun, saat ini kondisinya mulai memprihatinkan karena kondisi asam hasil penimbunan batubara merusak batu bata penopang candi-candi tersebut.

Vandalisme oleh perusahaan batubara yang ada Muaro Jambi. Tumpukan batu bara (masuk ke aliran sungai) menghasilkan air yang asam, masuk ke bata melalui jaringan yang ada, jadilah dia (candi) rusak. Setali tiga uang dengan Candi Kalasan, hingga sekarang, belum ada perlindungan dari Pemerintah Indonesia untuk kawasan Muarojambi. Surat Keputusan yang dikeluarkan Kemendagri pada tanggal 21 Oktober 2011 juga belum menetapkan Muaro Jambi sebagai kawasan yang dilindungi.

Kondisi ini membuat kumpulan masyarakat yang terdiri atas tokoh masyarakat Jambi, penulis, wartawan, vidoegrafer, seniman, bahkan ibu rumah tangga, mengajukan petisi menyelamatkan Muaro Jambi. Petisi tersebut ditujukan pada Presiden Republik Indonesia, Gubernur Provinsi Jambi, dan Bupati Kabupaten Muarojambi. Dalam tuntutannya, masyarakat meminta pengukuhan kawasan Muaro Jambi sebagai kawasan Cagar Budaya yang dilindungi UU Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010.

Related posts