Kembalikan Keceriaan Penderita Artritis Reumatoid - ACTEMRA :

NERACA

Aktifitas gadis 23 tahun ini akhirnya kembali terlihat, setelah 9 tahun ia larut dalam sakit persendian yang merampas keceriaannya. Faiqotul Himmah namanya yang akrab disapa Fika, awalnya memang menderita Artritis Reumatoid. Namun melalui pengobatan monoterapi Tocilizumab, si bungsu dari empat bersaudara ini dapat menikmati indahnya dunia.

Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat, menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan sendi dan umumnya terjadi pada rentang usia produktif seperti yang dialami Fika.

Lalu apa bedanya dengan osteoartritis? tentu saja berbeda, meskipun keduanya sama menyebabkan peradangan sendi dan bukan sekadar penyakit rematik biasa. Umumnya pasien osteoartritis telah berusia lanjut dengan kondisi keausan jaringan.

Penyakit yang mempengaruhi lebih dari 21 juta orang diseluruh dunia ini, tergolong penyakit autoimun yang progresif dan sistemik karena melibatkan organ dan sistem tubuh keseluruhan. Artritis Reumatoid ditandai dengan peradangan kronis dari sendi tangan dan kaki, diiringi serangkaian gejala sistemik, seperti kelelahan, anemia, dan depresi.

Bila sakit mulai meradang, nyeri pada sendi, kekakuan hingga pembengkakan, akan sangat menyiksa si penderita. Bahkan tak jarang, hilangnya fungsi sendi karena kerusakan tulang dan tulang rawan, yang berujung pada kecacatan progresif. Terlebih risiko komplikasi sistemik membayangi, seperti osteoporosis, anemia dan lainnya dapat menurunkan kualitas hidup.

Pengobatan Terbaru

Umumnya penanganan pasien Artritis Reumatoid dikenal dengan beberapa cara, seperti; pemberian obat biologis, obat pemodifikasi penyakit Artritis Reumatoid tradisional (DMARDs), pengobatan Glukokortikoid (kortikosteroid), dan memberi obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID), yang hanya menangani tanda dan gejalanya, atau sekadar memodifikasi perjalanan penyakit dan dampak negatif dari efek sistemik Artritis Reumatoid, seperti kelelahan dan anemia.

Namun kini telah hadir terapi terbaru, yang lebih efektif yang mengurangi peradangan dan perkembangan Artritis Reumatoid pada persendian dan seluruh tubuh. Adalah Tocilizumab, sebuah terapi pengobatan dengan pendekatan baru untuk mengobati Artritis Reumatoid.

Inovasi pengobatan yang diusung Roche Indonesia ini, terbukti mampu memberi harapan bagi penderita Artritis Reumatoid untuk memulihkan kualitas hidup mereka seperti yang dialami Fika.

Inovasi pengobatan yang menyita perhatian dunia kesehatan ini, dikembangkan oleh Indonesian Rheumatology Association (IRA) dan Roche Indonesia, yang bekerja sama melaksanakan studi klinis Tocilizumab pada 39 orang penderita Artritis Reumatoid (Picture INA), selama periode Februari 2011 hingga Januari 2012, dengan hasil gemilang.

Studi klinis yang dinahkodai dr Bambang Setyohadi, dilakukan di lima pusat studi, yaitu; RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Dr Sardjito Yogyakarta, RS Dr Soetomo Surabaya dan RS Saiful Anwar Malang, selama 24 minggu. Hasilnya? Fantastis. Tingkat remisi Disease Activity Score (DAS) dari total 28 persendian (DAS 28) mencapai 85% pada akhir studi, bahkan efek samping serius hanya kurang dari 5%. Ini menunjukkan bila pengobatan Tocilizumab sangat positif dan menjanjikan harapan baru bagi para penderita Artritis.

Presiden Direktur Roche Indonesia, Mike Crichton menegaskan bahwa komitmennya dalam melakukan inovasi dibidang pengobatan. Sebagai pemimpin dalam industri perawatan kesehatan yang berbasis penelitian dan perusahaan bioteknologi terbesar di dunia, ungkap Mike, kami memiliki komitmen untuk menemukan dan memenuhi kebutuhan medis yang belum terpenuhi dalam pengobatan Artritis Reumatoid.

Obat Tocilizumab yang dipasarkan dengan nama ACTEMRA merupakan perwujudan komitmen Roche dalam membantu penderita Artritis Reumatoid untuk hidup bebas dari beban penyakitnya, “Saya sangat gembira dapat menyampaikan hari ini, bahwa Tocilizumab kini telah mendapat persetujuan dan terdaftar di Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) dengan merek ACTEMRA dan tersedia di Indonesia bagi para pasien Artritis Reumatoid,” ujarnya bangga.

Kini ACTEMRA telah dikembangkan sebagai obat biologis pertama yang berhasil menghentikan aktivitas biologis IL-6 (Interleukin-6), yang menjadi kunci mediator dalam kerusakan sendi dan efek sistemik pada penyakit Artritis Reumatoid.

“Kami percaya Tocilizumab dapat membantu para pasien Artritis Reumatoid mencapai sebuah trasnformasi dalam kehidupan mereka,” jelas Mike. Komitmen teguh Roche Indonesia dalam memberikan harapan transformasi kehidupan pasien Artritis Reumatoid di Indonesia, patut mendapat apresiasi, karena jutaan sosok Fika kini mampu mengembangkan senyum ceria dengan aktifitasnya terbebas dari penyakit Artritis Reumatoid.

Related posts