Risiko Pasar Masih Tinggi, Industri Pasar Modal Belum Bernafas Lega

Neraca

Jakarta – Kendatipun pertumbuhan ekonomi dalam negeri masih positif, bukan berarti risiko pasar di industri jasa keuangan masih tetap tinggi yang berdasarkan faktor luar negeri. Berdasarkan kajian Henan Putihrai Financial Services (HPS) mengungkapkan, sedikitnya tercatat tiga indeks, yakni VIX Indeks, USD Index dan Asia Dollar Index terlihat dalam tren yang menunjukan peningkatan persepsi risiko pasar.

Dalam penjelasannya, ketiga indikator ini menunjukan terjadinya penurunan persepsi risiko maupun volatilitas bursa. Meski demikian kekhawatiran pasar masih terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan awal April. Ekspektasi pergerakan indeks S&P500 diawal April hanya sebesar ±4.3% namun di akhir pekan lalu meningkat tajam mendekati 6%.

Hal ini turut didorong oleh 10 mata uang utama Asia yang di pantau dalam ADX menunjukan tren pelemahan sejak akhir Januari 2012. Hal ini terjadi sejalan dengan penguatan USD index diperiode tersebut.

Chief Executive Officer HPS, Ferry Sudjono mengatakan, Spanyol tetap menjadi fokus perhatian pasar terhadap krisis di Eropa. Yield (imbal hasil) obligasi pemerintah Spanyol bertenor 10 tahun turun dari level tertinggi sejak ECB menerapkan kebijakan long term refinancing operation (LTRO).“Kebijakan LTRO menurut kami memiliki efek positif dalam jangka pendek dalam menstabilkan pasar,”katanya di Jakarta kemarin.

Dia menambahkan, meskipun dalam jangka waktu panjang efek positif dari LTRO akan berkurang dan akan volatilitas pasar akan kembali pada bentuk semula yaitu digerakkan oleh persepsi pasar terhadap risiko ekonomi.

Hal ini dapat terlihat dari pergerakan obligasi pemerintah Spanyol. LTRO mendorong terciptanya likuiditas semu jangka pendek dan mendorong perbankan Eropa untuk terus membeli obligasi negara peripheral Eropa bermasalah dengan uang pinjaman dari ECB. Walaupun yield obligasi 10 tahun pemerintah Spanyol terlihat melemah dari posisi tertinggi, tetapi tetap berada di level yang mengkhawatirkan.

Lebih jauh, Ferry mengungkapkan, bad debt (hutang buruk) perbankan Spanyol berada dilevel 8%, tertinggi sejak 1994. Kondisi ini didorong kontraksi disektor properti. Harga properti di Spanyol melemah hingga -7.2% yoy di akhir 1Q. Proses pengetatan anggaran juga memiliki risiko untuk tidak diikuti oleh pemerintah otonomi daerah yang sebagian dikuasai oleh partai oposisi. Hal serupa turut terjadi di Perancis dan China.

Ferry menilai, hilangnya momentum penguatan IHSG tercermin dalam konsolidasi pergerakan indeks dalam 8 hari terakhir dimana tren menunjukan potensi volatilitas IHSG dalam jangka pendek. “IHSG akan memperoleh momentum penguatan apabila mampu menembus area 4185. Sebaliknya apabila IHSG tidak mampu bertahan diatas 4111 hal ini menunjukan potensi IHSG terkoreksi lebih dalam. Kisaran pergerakan mingguan akan berada di 4111 – 4185”, jelasnya.

Lebih jauh Ferry berpendapat, saat ini masih ada potensi volatilitas bursa terus akan meningkat sepekan depan. Risiko eksternal masih menjadi pemicu terbesar bagi koresi bursa global termasuk IHSG. “Sektor yang kami nilai cukup baik dalam menghadapi risiko eksternal diantaranya perbankan, teleco, perdagangan dan jasa serta perkebunan. Beberapa saham yang kami nilai menarik untuk dicermati untuk sepekan ini diantaranya Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT. Bank Tabungan Negara (Persero) (BBTN), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), EXCL, ENRG, UNTR, AALI dan LSIP”, terangnya.

(Maya)

Related posts