Pemerintah Genjot Produksi Udang Galah dan Padi - Optimalkan Lahan Sawah Irigasi

NERACA

Jakarta – Pemerintah mengaku tengah menggenjot dan menggalakkan produksi udang galah dan padi (Ugadi) dalam mengoptimalkan fungsi lahan sawah irigasi. Program Ugadi ini merupakan budidaya udang galah dan padi yang dilakukan secara terpadu dalam meningkatkan produktifitas lahan sawah.

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Subiakto mengatakan, dalam melaksanakan Program Ugadi, dibutuhkan tanaman padi yang tahan terhadap air. Terkait hal itu, pihaknya menggunakan salah satu varietas padi hasil dari pengembangan dari Kementerian Pertanian, yakni Inparit 13. Keunggulan jenis padi ini adalah ketika masa panen tiba padi dapat tahan terhadap rendaman air. Sebagai salah satu program baru dari KKP, dibutuhkan sosialisasi dan penyebarluasan kepada masyarakat secara luas.

Program Ugadi dengan memanfatkan lahan sawah akan meningkatkan produktivitas lahan serta dapat menghasilkan padi sebanyak 800 kg dalam 1 ha dan tidak memakai pestisida karena hama ditanaman dimakan udang galah sehingga saling menguntungkan. Selain itu, dengan luas 1 ha dapat menghasilkan 150 kg udan galah. “Keunggulan program ugandi, yaitu tanpa harus memperluas lahan sawah sehingga budidaya udang galah dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Slamet dalam siaran persnya, Selasa (24/4).

Selain itu, keunggulan lainnya adalah jarak rentang waktu panen antara udang dan padi yang berdekatan yakni, 90 hari untuk udang dan panen padi 100 hari. "Sehingga diharapkan, dengan rentang waktu yang berdekatan itu dapat meningkatkan penghasilan petani sebanyak 2 kali lipat," ungkap Slamet.

Seperti diketahui, komoditi udang galah memiliki nilai tambah tinggi daripada ikan nila. “Biasanya budidaya ikan nila petambak hanya mendapatkan Rp12 ribu, namun dengan udang galah maka pendapatan petambak bisa mencapai 50 ribu,” katanya.

Sebagai ilustrasi, jika Program Ugadi diaplikasikan dengan modal sebesar Rp2 juta, dengan cakupan lahan seluas 1 ha dan benih udang sebanyak 5 ribu ekor serta benih padi sebanyak 6 kg maka diperkirakan keuntungan yang didapatkan bagi petani sekitar Rp2,9 juta. Menurut dia, program unggulan Dirjen Perikanan Budidaya ini dirasa sangat tepat untuk diaplikasikan bagi para petani, dikarenakan udang galah merupakan komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Slamet mengungkapkan proyek percontohan sementara difkokuskan di daerah Cisaat, Sukabumi, Subang, Sukaraja. “Kita fokus di Jawa Barat dulu,” tambahnya.

KKP menargetkan pada 2012 ini sebanyak 200 ribu ha untuk program mina padi sementara sebanyak satu persen (2 ribu ha) untuk Program Ugadi. “Kedepan KKP memfokuskan untuk mensubstitusi komoditi ikan ke udang, dan diperluas karena memiliki nilai ekonomi tinggi,” jelasnya.

Saat ini untuk udang galah, pasokan pasar dalam negeri masih kurang, sementara permintaan di jakarta sebanyak 2 ton/hari dan secara nasional komoditi udang galah sebanyak 10-20 ton. KKP menargetkan produksi udang tahun ini sekitar 450 ribu ton, sementara capaian tahun lalus sebesar 372 ribu ton. Sementara itu, Program Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Budidaya tahun ini sebesar 234 miliar.

Related posts