Merambah Bisnis Tanaman Obat

NERACA

Sejak ratusan tahun yang lalu, beragam jenis tumbuhan, akar-akaran, dan bahan-bahan alamiah lainnya diracik sebagai ramuan jamu dan obat-obatan tradisional untuk menyembuhkan pelbagai penyakit maupun mempercantik diri.

Kemahiran meracik bahan-bahan itu diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga ke zaman kita sekarang. Di berbagai daerah di tanah air, kita menemukan berbagai kitab yang berisi tata cara pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional.

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Obat bahan alam yang ada di Indonesia saat dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Jamu (empirical based herbalmedicine), adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut, higienis (bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional. Jamu telah digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun.

Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur . Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris turun temurun.

Obat herbal terstandar (scientificbased herbal medicine), adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengant enaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak.

Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik (uji pada hewan) dengan mengikutis tandar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akutmaupun kronis.

Lalu Fitofarmaka (clinical basedherbal medicine). Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia dengan kriteria memenuhi syarati lmiah, protokol uji yang telah disetujui, pelaksana yang kompeten, memenuhi prinsip etika, tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat.

Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.

Geliat Industri Obat

Saat ini industri tanaman obat tradisional telah berkembang pesat di Indonesia. Teknik pengolahan sangat berpengaruh terhadap khasiat dari produk tanaman yang diperoleh. Jika penanganan ataupun pengolahannya tidak benar maka mutu produk yang dihasilkan kurang berkhasiat atau kemungkinan dapat menimbulkan toksik apabila dikonsumsi.

Teknik pengolahan tanaman obat terdiri dari sortasi, pencucian, penjemuran/penirisan, pengirisan/perajangan, dan pengolahan lebih lanjut menjadi berbagai produk/diversifikasi produk, baik dalam bentuk simplisia, serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental/kering, kapsul, tablet dan minuman (sirup, instant, permen) dan lainnya.

Untuk meningkatkan kualitas, mutu, dan produk jamu serta obat-obatan yang dihasilkan oleh masyarakat kita, diperlukan kerjasama seluruh pihak yang terkait sehingga jamu dan obat tradisional yang dihasilkan dapat bersaing, baik dipasar regional maupun global.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian akan membantu industri jamu melaksanakan peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang standar pembuatan obat-obatan. Selain untuk membuat masyarakat aman mengkonsumsinya, standar pembuatan juga berfungsi melindungi produk jamu dalam negeri. Produk obat-obatan tradisional Indonesia akan bersaing dengan produk dari Cina dan Malaysia yang akan bebas masuk ke pasar dalam negeri.

Oleh karena itu, kementerian akan melakukan pembinaan secara bertahap kepada industri kecil. Bantuan yang akan diberikan bisa mencakup pelatihan, keringanan biaya untuk pembuatan sertifikat standardisasi, dan alat produksi.

Sejak awal industri jamu berada dibawah pembinaan Kementerian Kesehatan. Namun, belakangan ini Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) meminta Kementerian Perindustrian melakukan pembinaan juga bagi mereka. Organisasi tersebut telah beberapa kali bertemu dengan Kementerian Perindustrian.

Sejak 2006 omset industri jamu mencapai lebih dari Rp 5 triliun dan terus meningkat. Pada 2007 (Rp 6 triliun), pada 2008 (Rp 7,2 triliun), pada 2009 (Rp 8,5 triliun), pada 2010 (Rp 10 triliun).

Presiden Direktur PT Nyonya Meneer sekaligus Ketua Umum GP Jamu Charles Saerang, mengatakan bahwa saat ini ada 1.340 pabrik jamu yang bernaung di bawah organisasinya. Sebanyak 90 persen adalah pengusaha kecil. Tahun lalu, total omzet perusahaan-perusahaan tersebut mencapai Rp 11 trilliun tahun 2011. “Dari fakta yang ada, saya berani mengatakan bahwa prospek industri jamu ini cemerlang hingga tahun 2015,” kata Charles.

Menurut dia, jika aturan itu tetap diterapkan, tidak lebih dari lima persen perusahaan yang bisa hidup. Ia meminta aturan yang berjudul Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik direvisi. Ia mendesak pemerintah menyediakan fasilitas pelatihan bagi industri kecil untuk meningkatkan standar mutu.

Sebelumnya, GP Jamu meminta aturan mengenai standar pembuatan obat ditunda pelaksanaannya. Beleid itu dinilai akan mematikan industri kecil. Pasalnya, untuk memenuhi standar yang dikeluarkan BPOM, seorang pengusaha paling tidak harus merogoh kocek sebesar Rp 5 miliar.

Related posts