Bakrie And Brother Bantah Tudingan Soal Gagal Bayar Pinjaman - Kecurigaan Repo Saham Tercium Kuat

Neraca

Jakarta – Kabar bisnis keluarga Bakrie gagal bayar (default) dari kreditur pemberi pinjaman senilai US$ 437 juta lantaran harga saham Bumi Plc di bursa London terus turun, dibantah langsung manajemen PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR).

Kata Direktur Utama BNBR Boby Gafur Umar, tidak ada pinjaman BNBR yang dalam posisi default, “Isu yang mengatakan demikian tidak akurat,”katanya di Jakarta, Senin (23/4).

Menurutnya, Credit Suisse selaku fasilitator pinjaman hanya meminta tambahan agunan saham atau top up karena situasi pasar yang kurang baik, “Kami klarifikasi bahwa tidak ada pinjaman BNBR yang dalam posisi default saat ini. Isu yang mengatakan demikian jelas tidak akurat," paparnya.

Dia juga menegaskan, perseroan tidak menerima surat pemberitahuan ancaman default dari Credit Suisse, melainkan permintaan tambahan jaminan saham atas pinjaman berjalan BNBR kepada Credit Suisse. "Kreditor meminta tambahan agunan saham karena pasar saham di Inggris sedang memburuk. Dalam hal ini pun, walaupun BNBR bertindak sebagai peminjam, kami tidak berkewajiban untuk menyediakan top up, sehingga sebetulnya ini bukan masalah besar. Kepanikan yang terjadi lebih disebabkan adanya kesalahan interpretasi saja atas permintaan top up tersebut," tandasnya.

Kabar yang beredar mengatakan, BNBR saat ini tengah dalam proses untuk menyelesaikan utang kepada Credit Suisse tersebut. BNBR dikatakan tengah dalam pembahasan intensif dengan 2 investor strategis untuk melakukan kerjasama strategis.

Sebelumnya, beredar kabar salah satu usaha Grup Bakrie itu tengah dalam kondisi default atas pinjaman kepada Credit Suisse senilai US$ 437 juta, dipicu pemberitaan dari Financial Times. Kabar ini sempat membuat pelaku pasar panik yang menyebabkan sejumlah saham grup Bakrie dilanda aksi jual.

Sebelumnya, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mencurigai, pinjaman dari Credit Suisse sebesar US$ 437 juta baru di peroleh Bumi Plc karena nominal itu sama sekali belum diumumkan. Selain itu, adanya kemungkinan Bumi Plc menjamin sahamnya guna mendapatkan pinjaman tersebut sehingga jika harga saham turun pada batas tertentum perseroan terkena kewajiban meningkatkan agunan atau top up, “Jika seperti demikian, maka saya mencurigai saham Bumi Plc di repokan oleh pemegang saham karena kalau cuma penurunan harga saham itu biasa, tapi kalau repo maka harga turun harus top up,”tandasnya. (bani)

Related posts