Terlilit Utang, Laba Eratex Bakal Melorot 88,62% di 2012 - Targetkan Pendapatan Konservatif

NERACA

Jakarta – Produsen garmen berorientasi ekspor PT Eratex Djaja Tbk tahun ini memproyeksikan laba bersih di tahun 2012 bakal turun 86,62% atau hanya mencapai Rp 11, 31 miliar dibandingkan tahun sebelumnya mencapai Rp 84,59 miliar.

Financial Controller Eratex Djaja Firman mengatakan, penuruan laba perseroan merupakan dampak persoalan keuangan yang melilit ditubuh manajemen, “Proyeksi laba bersih perseroan di tahun 2012 ini berada jauh di bawah raihan tahun 2011, “katanya di Jakarta, Senin (23/4).

Asal tahu saja, tahun lalu perseroan mendapat forgiveness atau pemotongan hutang hingga US$9,8 juta sehingga laba bersih perseroan bisa naik tajam. Kendati demikian, perseroan sendiri menargetkan penjualan 2012 sebesar Rp409,05 miliar, tumbuh 46% dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya Rp259,37 miliar.

Wahyudi mengatakan, pertumbuhan pendapatan tersebut akan ditopang oleh penambahan permintaan dari pembeli yang sudah ada serta rencana perseroan menggarap beberapa negara baru sebagai pasar ekspor.

Hingga tiga bulan pertama tahun ini, ERTX telah membukukan penjualan sebesar Rp119 miliar. Wahyudi menjelaskan, atas capaian tersebut, perseroan yakin target tahun ini akan bisa terlewati. “Dari existing customer kami ada tambahan permintaan, sebelumnya itu sulit dipenuhi karena keterbatasan modal kerja. Perseroan juga sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa customer asal Jepang,” ujarnya.

Dia menambahkan, perseroan juga akan terus memerbesar pasar di negeri Paman Sam. Berdasarkan data perseroan, hingga akhir tahun ini pasar Amerika Serikat menjadi penopang utama pendapatan perseroan dengan kontribusi pendapatan mencapai 83%.

Demi mencapai target penjualan, perseroan berencana menambah 10 line baru, melengkapi 44 line yang sudah ada saat ini. Penambahan line tersebut membuat kapasitas produksi perseroan melonjak 41,67%, dari 300.000 potong per bulan menjadi 425.000 potong per bulan.“Kami anggarkan belanja modal US$1,5 juta—US$ 2 juta untuk menambah 10 line baru. Sebagian besar capex akan dipenuhi dari pinjaman perbankan,” ujar Wahyudi.

Sayangnya, Wahyudi enggan menyebut berapa besar pinjaman yang sedang dijajaki perseroan. Dia hanya menyebut, bahwa saat ini ERTX sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa bank domsetik dan asing.

Agar bisa segera berjalan, perusahaan yang berdiri sejak 1972 tersebut menargetkan seluruh belanja modal bisa terealisasi pada semester I tahun ini. Hingga bulan ini jumlah belanja modal yang sudah dipakai mencapai setengah dari total capex.

Divestasi Anak Usaha

Persoalan divestasi anak usahanya PT Aseiatex Garrmindo, Wahyudi mengaku saat ini perseroan masih menggodok bagaimana eksekusi divestasi tersebut. “Seluruh mesin milik Asiatex Garmindo telah dijual kepada PT Eratex Djaja Tbk sebagai induk usaha sehingga yang tersisa hanya lembar sahamnya saja,”paparnya

Selain itu, dia juga menuturkan, perseroan juga akan melakukan kuasi reorganisasi untuk menghapus defisit dalam tiga tahun buku terakhir untuk meghapus defisit senilai Rp171 miliar.

Sebelumnya, PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) melakukan konversi utang menjadi saham baru sebanyak 48.076.474 lembar saham. Hal ini dilakukan guna menutupi masalah keuangan yang berimbas pada dihentikannya operasional perusahaan.

Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2011, perseroan menerima opini disclaimer. Perseroan mengakui memiliki keragu-raguan karena akumulasi defisit yang mencapai lebih dari Rp62 miliar.

Beban utang perseroan 31 Desember 2011 mencapai Rp90,5 miliar diusulkan untuk dihapus dengan memanfaatkan strategi kuasi reorganisasi. Untuk sisa utang perseroan akan dibagi dalam 3 porsi utang dengan kondisi bunga dan pelunasan yang meringankan perseroan.

Langkah ini bertujuan mengurangi beban utang ke tingkat yang dapat ditanggung perseroan sehingga dapat melanjutkan usaha dan terhindar dari kebangkrutan. Saat ini nilai aset perseroan mencapai Rp210,9 miliar. Untuk total penjualan perseroan di 2011 hanya sekitar Rp3,2 miliar. (didi)

Related posts