DPR Nilai Lahan Jadi Kendala Pasokan Pangan

NERACA

Jakarta –Dewan Perwakilan Rakyat menilai permasalahan utama pasokan pangan adalah bagaimana meningkatkan produksi nasional dan meningkatkan daya beli rakyat. Sedangkan permasalahan utama kemiskinan adalah bagaimana memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.

“Karena masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan 60% adalah petani. Di jantung permasalahan itu, juga ada masalah menyempitnya lahan dan penurunan produktivitas,” terang anggota Komisi IV DPR RI Siswono Yudo Husodo pada acara peluncuran buku Pangan Rakyat: Soal Hidup atau Mati 60 tahun kemudian, di Jakarta, Senin (23/4).

Siswono mengungkapkan, menyempitnya lahan pertaninan menyangkut masalah kecilnya skala ekonomi yang disebabkan proses pemiskinan petani dan produksi pangan yang kurang efisien, dengan lambatnya mekanisme. Secara nasional, berdasarkan hasil sensus pertaninan 2003 lalu, memperlihatkan terus berlanjutnya proses menyempitnya lahan pengusahaan petani baik karena fragmentasi lahan melalui pewarisan maupun pengalihan fungsi lahan pertaninan guna berbagai keperluan hidup manusia.

“Kita perlu membangun pertanian Indonesia yang mampu menjawab tantangan peningkatan kebutuhan pangan nasional yang sangat tinggi oleh pertambahan penduduk dan peningkatan konsumsi per kapita dengan peningkatan produksi,” lanjutnya.

Menurut Siswono, Kementerian Pertanian harus mengantisipasi kenaikan permintaan pangan dalam negeri dengan pertumbuhan angka laju pertambahan pendudukan, agar swasembada pangan dapat dicapai, sebelum menjadi negara eksportir pangan tropis.

Dia mencontohkan, hasil produksi kopi yang mengalami penurunan dari sekitar 2 ton per hektar menjadi 1,5 ton per hektar dalam 20 tahun terakhir. Produksi gula, tanaman tebu merosot dari sekitar 15 ton per hektar di jaman Belanda menjadi 6 ton per hektar. “Seharusnya, dengan memenuhi prinsip-prinsip kemajuan, produksi semakin tinggi dengan biaya yang semakin murah dan kualitas yang semakin baik,” ujarnya.

Siswono menyayangkan, walau kualitas pangan rakyat kita selama ini meningkat, namun negara lain meningkat jauh lebih baik. Akibatnya, secara realtif kualitas pangan rakyat kita menjadi kurang baik jika dibandingkan dengan negara lain.

Perbaikan Konsumsi

Bila dibandingkan dengan negara-negara lain, kondisi masyarakat kita memerlukan perbaikan konsumsi protein hewani yang terdapat dalam telur, susu, daging, dan ikan yang sangat penting bagi pertumbuhan fisik dan kecerdasan. “Perbaikan itu terkait dengan kemampuan ekonomi masyarakat kita. Karenanya perbaikan gizi masyarakat sebagi unsur penting meningkatkan kualitas SDM kita terkait erat dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.

Lalu, lanjut dia, kondisi lain yang perlu diperhatikan lebih adalah bagaimana kesejahteraan petani di Indonesia. Dengan membandingkan dengan negara Jepang, tidak ada petani yang mengelola lahan pertanian kurang dari 1 hektar. Bahkan pengelolaannya pun sudah dengan teknologi tinggi. Sementara itu, seorang peternak sapi mengelola sebanyak 200 ekor di Australia. "Kita membiarkan peternak kita bekerja dengan satu dua ekor sapi, atau kambing 5-10 ekor," tambahnya.

Kondisi skala usaha yang kecil ini, menurut Siswono, bisa diatasi dengan mendorong perbankan membantu petani. Sekarang ini, bank masih lebih suka untuk membiayai usaha yang sudah mapan dan aman. "Perbankan Indonesia harus berdiri di depan untuk meningkatkan skala usaha peternak dan petani," ujarnya.

Langkah lainnya, sambung mantan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan Kabinet Pembangunan VI ini, adalah dengan melakukan reformasi agraria. "Meningkatkan skala usaha dengan reformasi agraria ataupun dengan kebijakan untuk mendorong bank membantu meningkatkan skala usaha," tegasnya.

Related posts