Menperin Minta Industri Komestik Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Impor - Pasokan Bahan Baku Impor Hingga 50%

NERACA

Bekasi – Kementerian Perindustrian meminta pelaku industri komestik dan produk herbal untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Pasalnya, saat ini bahan baku impor untuk industri komestik dan produk herbal mencapai 50% dari total kebutuhan bahan baku. Di samping itu, Kemenperin mengingatkan para pelaku usaha di sektor ini untuk mewaspadai serbuan produk-produk serupa asal China yang sangat agresif merangsek ke pasar domestik.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mendesak para industri komestik dan produk herbal untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor yang terlampau tinggi. “Salah satu penyebab tingginya impor adalah minimnya penyediaan bahan baku lokal yang berkualitas dan memenuhi standar. Kondisi itulah yang menyebabkan kita masih ketergantungan terhadap bahan baku impor,” kata Hidayat saat peletakan batu pertama pembangunan pabrik PT Martina Berto Tbk di Cikarang, Senin (23/4).

Padahal, lanjutnya, Indonesia merupakan negara penghasil obat, komestik, dan aromatik nomer dua di dunia. Karena itu, kata dia, Kemenperin akan terus melakukan riset dan pengembangan teknologi yang dapat menghasilkan bahan baku yang berkualitas dan standar.

Namun, dia mengakui, dengan besarnya pangsa pasar komestik dan jamu di Indonesia, pelaku industri untuk mewaspadi serbuan produk komestik dan produk herbal dari China. Apalagi, dia menambahkan, serbuan produk ilegal juga tinggi. "Kami juga akan terus menciptakan iklim usaha yang kondusif agar indutsri produk herbal dan komestik bisa bersaing dengan produk impor," tandasnya.

Itulah sebabnya, Hidayat menegaskan, seiring derasnya serbuan produk kosmetik dari luar negeri, pemerintah berupaya menggenjot produksi kosmetika dan jamu dalam negeri untuk terus mengembangkan riset Sumber Daya Manusia (SDM) serta teknologi pengolahan yang dapat menghasilkan bahan baku serta produk kosmetik dan herbal yang berkualitas dan sesuai standar,” ujar Hidayat.

Menurut mantan Ketua Kadin ini, pertumbuhan industri kosmetika dan produk herbal sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2011 omzet kosmetik nasional telah mencapai Rp 7 triliun sedangkan omzet dari produk herbal nasional mencapai Rp 11 triliun.

Penjualan Meningkat

Di tempat yang sama, Dirut PT Martina Berto TBK Bryan Tilaar mengakui, pihaknya masih mengimpor bahan baku untuk komestik, tapi jumlahnya tidak banyak. Sedangkan, untuk bahan baku produk herbalnya sudah 100% dari dalam negeri. Dia mengatakan, pada 2011, penjualan produk jamu dan komestik perseroaan meningkat sebesar 80,79% dan 10,80%.

Sementara penjualan produk jamu dan kosmetik pada 2010 masing-masing sebesar Rp 7.148 juta dan Rp 546.107 juta. "Pada 2011 penjualan produk jamu dan komestiok tembus sebesar Rp 12.923 juta dan RP 605.123 juta," katanya.

Dia menambahkan, pada 2010, produk jamu baru berkontribusi sebesar 1,3% dari total penjualan perseroan, sedangkan 2011 produk jamu berhasil meningkatkan kontribusi 2%. Untuk meningkatkan produksi, pihaknya juga membangun pabrik obat tradisional dengan nilai investasi Rp 44 miliar. "Pabrik ini direncanakan akan selesai dalam waktu 10 bulan dan akan beroperasi pada kuartal kedua 2013," ujarnya.

Pabrik yang akan dibangun di areal seluas 9,5 hektare itu akan menggunakan cara pembuatan obat tardisional yang baik (CPOTB) terbaru. Pabrik ini juga menerapkan konsep green factory (ramah lingkungan). Dari luas 9,5 hektare itu, 6,5 hektare akan digunakan untuk bangunan dan pabrik, sedangkan sisanya akan digunakan unruk kampoeng Djamoe Organik (Kado). Diharapkan, dengan dibangunnya pabrik ini, perseroan bisa melakukan efisiensi. Dalam proses produksi dan meningkatkan pertumbuahn jamu.

Related posts