Manfaat Berinvestasi di Asuransi

Unit link masih mendominasi industri asuransi beberapa tahun belakangan. Namun tren tersebut diperkirakan tergeser dengan produk asuransi kesehatan yang dinilai lebih aman untuk masa depan dan tidak terganggu spekulasi pasar.

NERACA

Berbicara soal asuransi maka tak lepas dari soal perlindungan atau proteksi di masa depan. Namun apa jadinya jika produk-produk yang diminati masyarakat justru lebih mengarah kepada investasi alih-alih proteksi. Itulah yang terjadi di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan asuransi kini makin menggantungkan pendapatannya kepada produk unit link, yang mengombinasikan produk asuransi dengan produk investasi. Mereka pun terus menciptakan produk-produk baru dalam kategori unit link. Kondisi itu didorong oleh kecenderungan terus melonjaknya sumbangan produk unit link pada pendapatan premi asuransi.

Berlalunya dampak krisis finansial 2008 dan pergerakan indeks saham yang pesat membuat bisnis unit link terus bertumbuh pesat. Pertumbuhan ekonomi nasional dan derasnya arus dana asing masuk ke pasar modal dalam negeri, telah mendorong masyarakat Indonesia untuk mengembangkan kekayaannya lewat berbagai instrumen investasi yang salah satunya lewat produk unit link.

Kondisi itu terus berlangsung hingga semester pertama tahun ini, yang mana produk asuransi berbasis investasi masih menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan premi industri asuransi jiwa. Buktinya bisa dilihat dari kinerja perusahaan yang mengalami peningkatan premi dari produk unit link pada semester pertama tahun ini, seperti yang dirasakan PT Prudential Life Assurance yang produk unit link-nya mendominasi hingga 90%.

Perusahaan asuransi jiwa Prudential itu membukukan pendapatan premi Rp6,3 triliun per Juni 2011 atau tumbuh 39,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Adapun, premi dari penjualan unit link mencapai Rp6,2 triliun.

Kendati kondisi makro ekonomi membaik, penetrasi asuransi jiwa masih rendah, dan pertambahan masyarakat kelas menengah merupakan faktor yang memengaruhi pertumbuhan bisnis perusahaan. Di tengah kondisi itu, minat pasar akan produk unit linked masih tinggi. “Jadi kami fokus memasarkan produk unit linked dengan premi berkala untuk menunjukkan kualitas bisnis perseroan.”

Sementara itu, Kepala Divisi Pemasaran Asuransi AXA Indonesia Colin Ly juga mengakui jika tingginya minat masyarakat akan produk investasi berbalut asuransi tersebut tercermin dalam penjualan produk asuransi AXA Indonesia. Colin menuturkan kontribusi produk unit-link di perusahanya saat ini mencapai 80% dari keseluruhan bisnis perusahaan.

Namun demikian dominasi produk unit link pada industri asuransi jiwa dinilai bukanlah kondisi ideal. Pengamat asuransi Munir Sjamsoeddin, produk asuransi model unit linked, yang menggabungkan layanan proteksi dan investasi sekaligus, fungsi asuransi itu sendiri.

“Kita harus sepakat dulu. Fungsi asuransi adalah risk manager, bukan fund manager. Kalau itu ada perusahaan tersendiri. Kita lihat fungsi risiko saat bencana yang terjadi 10 tahun belakang, tidak ada manfaat,” kata Munir.

Dia menambahkan, dalam 10 tahun terakhir ini produk unit link tumbuh 10.000%, di sisi lain asuransi konvensional hanya tumbuh 380%. “Apa yang terjadi? Ada perubahan arah, bukan risk protection, tapi jaminan ekonomi dan dana pendukung.”

Ini menjadi khawatiran bagi dunia asuransi, namun karena hal itu menguntungkan dan masih diminati konsumen maka sebagaimana rumus bisnis yang selalu mengejar keuntungan, para pelaku tetap menggarapnya.

Selain itu, kondisi itu diperparah lagi dengan belum tingginya kesadaran masyarakat akan fungsi proteksi. Pernyataan itu keluar dari mulut Ketua AAJI, Hendrisman Rahim, dengan menunjukkan bukti lebih tingginya penetrasi produk unit link dibanding produk konvensional atau murni terproteksi.

Di sisi lain, pelaku industri juga semakin gencar mempromosikan produk unit link. “Kita berkembang karena ekonomi Indonesia. Unit link produk yang didesain agar pemegang polis dapat nilai yang lebih besar. Produk ini lebih besar pertumbuhannya, tapi itu tidak terjadi pada industri secara keseluruhan.”

Related posts