Corona & Kepariwisataan

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Heboh virus corona berdampak sistemik terhadap kepariwisataan. Bahkan kini sejumlah negara mengeluarkan travel warning setidaknya ke Cina dan juga siapapun dari Cina. Ini sebagai upaya preventif penyebarannya dan imbasnya tentunya ke sektor kepariwisataan meski di sisi lain mata rantainya juga pasti terdampak. Konsekuensi dari travel warning maka dipastikan kunjungan wisman dari Cina akan turun begitu juga wisman yang akan datang ke Cina. Prediksi yang muncul menyebut setidaknya 20 persen wisman dari Cina batal berkunjung ke Indonesia dan sejumlah biro travel juga telah membatalkan agenda kunjungan ke Indonesia. Bagaimanapun juga tentu ini menjadi preseden buruk terhadap prospek kepariwisataan di tahun 2020. Bagaimana antisipasinya?

Pariwisata di era kekinian bukan sekedar melancong melepas penat tapi mata rantai dari kepariwisataan di industri 4.0 cenderung semakin kompleks dan karenanya beralasan jika tema peringatan Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day atau WTD) 2019 lalu yaitu “Tourism and Jobs: A better future for all”. Ironisnya belum berselang lama justru terganggu oleh virus corona. Oleh karena itu virus corona di awal 2020 menjadi warning terkait pengembangan kepariwisataan internasional dan nasional sehingga semua pihak berkepentingan terhadap optimalisasi kepariwisataan terkait penerimaan, apalagi pajak cenderung melambat dan realitas depresiasi nilai tukar sehingga APBN juga terdampak.

Tema yang diangkat dalam WTD 2019 pada dasarnya mengacu realitas bahwa sektor pariwisata bukan sekedar menjual daya tarik obyek wisata semata tapi juga komitmen untuk menumbuhkembangkan daya tarik dan potensi yang ada di setiap daerah. Hal ini tentu selaras dengan harapan era otda dan juga komitmen memacu ekonomi kreatif yang ada di setiap daerah. Argumen yang mendasari karena di era kekinian setiap daerah bisa mengemas dan mengembangkan semua potensi yang ada di daerah dan sekaligus hal ini bisa mengangkat citra pariwisata di daerah yang kemudian berdampak sistemik kepada penerimaan daerah yang tentunya juga memicu peningkatan kesejahteraan di daerah.

Jaminan

Terlepas dari virus corona dan industrialisasi, yang jelas ada isu strategis yang menarik dicermati terkait dampak sistemik yaitu kepariwisataan karena semua daerah memiliki potensi pariwisata dan jika ini bisa dikemas dengan baik maka geliat ekonomi di daerah akan berkembang karena mata rantai kepariwisataan sangat kompleks dan cenderung padat karya. Selain itu, alokasi dana desa dan kelurahan juga relevan dikembangkan di sektor pariwisata untuk semua daerah. Bahkan, wisata halal juga sangat dimungkinkan dikembangkan seiring dengan kian tingginya minat kunjungan wisatawan muslim. Fakta ini tentu tidak bisa mengabaikan adanya bencana, termasuk misalnya bencana dari virus corona yang penyebarannya sangat cepat dan sangat berbahaya.

Jawa Tengah sebagai salah satu daerah tujuan wisata – DTW tentu terdampak dari virus corona sehingga jumlah kunjungan wisman pasti berkurang dan atau setidaknya orang akan menunda perjalanannya sampai situasi mereda. Artinya, meski Jawa Tengah salah satu DTW yang sangat potensial dikembangkan karena dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah pada dasarnya adalah DTW yang memiliki karakteristik unik namun imbas dari virus corona tetap harus diantisipatif. Oleh karena itu mengemas dan juga menjual DTW Jawa Tengah menjadi isu strategis di tengah ancaman virus corona mengacu potensi dan prospek kepariwisataan di tahun 2020, termasuk juga adanya potensi konflik karena ada 270 pilkada pada tahun 2020. Argumen yang mendasari karena sukses kepariwisataan berpengaruh terhadap sektor riil yaitu tidak saja geliat ekonomi – bisnis di sekitar DTW, tetapi juga industri kerajinan dan kuliner, termasuk juga sentra kerajinan cinderamata. Keyakinan ini didukung oleh komitmen pemerintah yang menjadikan sektor pariwisata sebagai ‘core business’ penyumbang devisa terbesar kedua setelah CPO.

Dari nilai jual dan tuntutan mengemas DTW Jawa Tengah beralasan jika Pemprov Jawa Tengah kini berusaha mengembangkan pesisir utara yaitu Blora dan Rembang. Hal ini mengemuka di FGD bertemakan ‘Identifikasi Segmen Pariwisata Jateng’ pada Kamis 19 Oktober 2017 lalu. Karakteristik unik yang ada di DTW Blora - Rembang diyakini akan memacu kunjungan dan lama inap. Oleh karena itu, ragam paket wisata yang bersinergi dengan kawasan Blora – Rembang bisa dikemas dan dijual untuk mendukung daya tarik wisata Jawa Tengah dan bisa disinergikan dengan kepariwisataan Yogya. Artinya, pintu masuk bandara dari Jawa Tengah dan Yogya bisa rentan terhadap wisman dari Cina dan tentu ini harus diantisipatif.

Potensi

Potensi DTW Jawa Tengah untuk menyerap kunjungan wisatawan tidak lepas dari target kunjungan wisatawan global. Data dari World Tourism Organization jumlah wisatawan global mencapai 5,5 juta orang dan prediksi tahun 2030 sekitar 1,2 miliar dan karenanya Jawa Tengah berkepentingan memanfaatkan target wisatawan global ini, meski saat ini ada ancaman virus corona dan dampak sistemiknya. Aspek utama pengembangan DTW, pertama: berkenaan keragaman obyek. Era digital dan potensi global memungkinkan daerah mengemas - menjual DTW karena semua DTW memiliki beragam obyek wisata yang relatif menyeluruh, baik dari segi fisik atau non-fisik, di samping kesiapan sarana penunjang wisata dan infrastruktur. Kedua: berkaitan beragam spesifisitas obyek dengan karakter mantap - unik seperti budaya-kebudayaan, kerajinan cinderamata, kuliner dan beragam keunikan. Spesifikasi ini didukung kombinasi obyek fisik dan non-fisik dalam paduan serasi. Faktor ini memperkuat daya saing DTW di Jawa Tengah sebagai primary destination. Semua keunikan itu diharapkan mendukung daya tarik wisata Jawa Tengah.

Jawa Tengah potensial menjual karakteristik dan keberagaman wisata yang dimilikinya. Potensi ini bisa menjadi isu penting dijual di pilkada serentak di wilayah Jawa Tengah di 2020, meski kini terdampak corona. Kekuatan lain yang mendukung kepariwisataan di Jawa Tengah yaitu adanya industrialisasi. Meski industrialisasi tidak menjamin secara utuh bagi pengembangan kepariwisataan, tapi yang bersifat kerajinan rakyat mendukung terhadap kepariwisataan. Potensi lainnya yaitu jaminan keaslian wisata yang ditawarkan, khususnya wisata alam, termasuk dalam hal ini ketersediaan SDM, terutama dikaitkan potensi jumlah penduduk yang padat.

Hal lain yang mendukung kepariwisataan Jawa Tengah khususnya dan pariwisata di era global pada umumnya adalah digitalisasi yang memungkinkan semua tereskpose secara luas melalui peran internet yang kini semakin mudah dan murah. Oleh karena itu, dampak virus corona cepat menyebar di dunia maya dan berdampak sistemik terhadap kepariwisataan secara global, termasuk Indonesia pada umumnya dan Jawa Tengah khususnya, sementara ada kepentingan untuk mendapatkan limpahan kunjungan wisatawan sesuai prediksi World Tourism Organization.

BERITA TERKAIT

Keanehan Survei Politik di Tengah Wabah Corona

  Oleh: Fikri Syariati, Pemerhati Sosial Politik   Dalam jangka waktu lima bulan pasca dimulainya Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, sejumlah lembaga survei…

Pentingnya Otoritas Khusus Ibukota Negara

  Oleh : Dr. Ade Reza Hariyadi, Doktor lulusan UI dan Dosen Presiden Jokowi telah memutuskan untuk memindahkan ibukota negara…

Dampak Strategis Penyebaran Covid-19

  Oleh: Almira Fadhillah, Pasca Sarjana Univ. Gunadharma Hasil dari laporan penelitian Imperial Collage of London, Inggris. Jumlah kasus terkait…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Hindari Mudik Saat Pandemi Covid-19

  Oleh : Sutopo, Pengamat Kesehatan Masyarakat   Imbauan beribadah, bekerja, dan belajar dari rumah nampaknya telah digunakan banyak masyarakat…

Virus Covid-19, RUU IKN, dan Mitigasi Bencana

  Oleh: Fikri Syariati, Pengamat Kebijakan Publik   Pernyataan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi bahwa persiapan pemindahan ibu kota…

Sistem Pembayaran dan Modal Ventura

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Perusahan yang mampu memproduksi vaksin coronavirus adalah perusahaan…