Ada Indikasi BUMN “Rugi” Mau “Disegarkan” Modalnya - Diperjuangkan Dapat Suntikan

Diperjuangkan Dapat Suntikan

Ada Indikasi BUMN “Rugi” Mau “Disegarkan” Modalnya

NERACA

Jakarta – Ada indikasi sejumlah BUMN “rugi” akan diperjuangkan mendapat gerojokan dana sekitar Rp6 triliun. Suntikan dana segar itu lebih kepada Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada perusahaan plat merah itu, pemerintah meminta persetujuan ke DPR. “Pembicaraan tingkat pertama di 2011 kita telah menyetujui penyertaan modal negara bagi 6 BUMN berupa dana segar, konversi dana talangan, pinjaman, dan hibah saham. Kita mau mengajukan 6 PMN bagi BUMN,” kata Agus Martowardojo, saat rapat kerja dengan Anggota DPR Komisi XI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (15/3).

Dikatakan Agus, pihaknya telah melakukan kajian dan review bersama menteri dan deputi BUMN terkait peningkatan BUMN melalui PMN. “Karena itu, kami mengajukan permohonan untuk disetujui Banggar DPR,” ucapnya.

Menurut Agus, suntikan dana segar untuk PT PII, tujuannya meningkatkan kredibilitas untuk posisi investor dan pertumbuhan pembangunan infrastuktur di Indonesia. Menurut dia, PMN tersebut dibutuhkan untuk menjamin proyek yang layak. Karena kebutuhan untuk membangun infrastruktur di 2011 itu sebesar Rp 1.500 triliun. “Karena dana infrastrukur kan terbatas maka diundang swasta juga. Kalau mereka bekerja dalam PPP ini perlu penjaminan. PII ini yang akan menjadi penjaminan,” ucapnya.

Tujuan PMN tersebut agar kedua perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan koperasi dan UMKM itu memadai dan tidak tergerus klaim kredit bermasalah bank dalam memberikan pinjaman dan bantuan manajemen koperasi.

Dana PMN di 2010 itu sekitar Rp 3,75 triliun terdiri dari Askrindo Rp 2 triliun dan Jamkrindo Rp 1,75 triliun. Di akhir 2010 ini kredit usaha rakyat (KUR) mencapai Rp 26,5 triliun. Untuk mendukung rencana KUR Rp 20 triliun di 2011 maka dibutuhkan dana hingga Rp 2 triliun. “KUR itu 70% risiko bank dijamin Askrindo dan Jamkrindo,” ujarnya.

Adapun ke- 6 BUMN yang membutuhkan suntikan dana tersebut antara lain PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) sebesar Rp 1,5 triliun, kemudian PT Askrindo dan Perum Jamkrindo senilai Rp 2 triliun. Lalu perusahaan lainnya PT Dirgantara Indonesia (DI) senilai Rp 123 miliar (konversi dana talangan), PT Saran Multigriya Finansial (SMF) sebesar Rp 1 triliun, PT Geo Dipa Energy (GDE) senilai Rp 443,5 miliar (hibah saham dari pertamina) dan PT (Pupuk Iskandar Muda) PIM sebesar Rp 1, 33 triliun (konversi SLA atau penerusan pinjaman dari JBIC).

Berdasarkan data Kementerian BUMN terdapat 21 BUMN yang masih mengalami kerugian selama tiga tahun dalam lima tahun terakhir. Terhadap 10 BUMN merugi di antaranya, Kementerian BUMN mengatakan telah mengidentifikasi penyebab kerugian dan akan melakukan langkah penyelesaian. BUMN yang merugi hingga kuartal III-2010 tersebut, antara lain PT Dirgantara Indonesia merugi Rp29 miliar, PT Asuransi Kredit Indonesia merugi Rp80 miliar dan lain-lainya. **ruhy

BERITA TERKAIT

Ada Potensi Kebocoran Renovasi GBK - Oleh : Jajang Nurjaman Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA)

Jokowi, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) dalam kurun waktu tiga tahun 2016, 2017, dan 2018 menjalankan…

Mau Jadi Negara Maju, Syaratnya Bangun Infrastruktur

    NERACA   Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menginginkan adanya pemenuhan kebutuhan infrastruktur yang memadai…

Tingkatkan Efisiensi BUMN!

Peneliti UI meminta pemerintah dapat menyederhakan jumlah BUMN di Indonesia, yang kini mencapai 118 perusahaan. Pengawasan BUMN saat ini berada…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Rucika Ingin Lebih Kuat Di Industri Perpipaan - Kaloborasi dengan Mitra Internasional

    NERACA   Jakarta – PT Wavin Duta Jaya yang merupakan produsen pipa PVC dengan produknya Wavin dan Rucika,…

Kementan Diminta Jujur Ungkap Data Pangan

      NERACA   Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Ichsan Firdaus meminta Kementerian Pertanian jujur soal data…

Ekonomi 2018 Diprediksi Mampu Tumbuh Minimal 5,1%

      NERACA   Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai…