Omset Petani Menembus Rp 100 Miliar Lewat Market Place Digital

NERACA

Denpasar – Berbagai upaya terus dilakukan untuk menggenjot nilai ekspor pertanian. Salah satunya dengan mengembangkan market place berbasis aplikasi yang dikelola oleh para petani milenial.

"Sekarang kita bertani menggunakan aplikasi namanya Farmer App, untuk menjualnya kami menggunakan BOS Fresh Retail, dan untuk pendanaan kami ada namanya nabung tani untuk membantu petani yang tidak punya biaya," ujar Ketua Komunitas Petani Muda Keren (PMK) Agung Weda.

Melalui Bali Organik Subak (BOS), kata Agung, pihaknya sudah mengekspor manggis dari tahun 2018 dan menjadi yang terbesar di Bali untuk volume, bahkan nilai ekspornya hampir menyentuh angka 100 miliar.

"Nilai ekspor manggis tahun lalu hampir 100 miliar dengan volume 850 ton. Untuk komoditas lain yg sudah kita ekspor ada sawo, alpukat, dan mangga. Untuk mangga kita sudah ekspor ke Singapura," terang Agung yang juga pemiliki Owner Bos.

Menurut Agung, tahun ini ia sudah memiliki 1500 ton mangga yang siap ekspor dan ada 300 ton yang sudah akan dikirim untuk ke Vietnam. Selain mangga, ada rambutan yang lebih dulu dieskpor ke Timur Tengah.

“Kita juga sedang mengembangkan alpukat khas, alpukat aligator, ada varian mentega. Untuk alpukat sendiri kita sudah kirim ke Kamboja. Di pasar lokal pun peminatnya juga banyak sekali," ucap Agung.

Di tempat yang sama, Direktur Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Sukam Pawardi mengatakan, saat ini pertanian Indonesia sudah memiliki sistem canggih dengan kehadiran Agriculture War Room (AWR) dan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) yang bisa berjalan beriringan dengan BOS.

Sukam menambahkan pihaknya menilai, AWR dan Kostrtani akan berhasil dan diakui perannya oleh masyarakat jika mengetahui apa yang harus diperbuat oleh petani sesuai permintaan pasar.

"BOS ini kan perusahaan swasta dan tidak mungkin berkebun sendiri, harus dikoneksikan dengan petani-petani yang diedukasi oleh kawan-kawan dari Kostratani. Sehingga kawan penyuluh di Kostratani harus akrab dengan BOS," kata Sukam.

Sukam pun mengakui, "BOS ini sebuah perusahaan yang dikelola anak muda berbasis IT dan dia paham sekali dengan pasar. Inilah yang harus dipahami oleh setiap pengusaha baik muda atau apapun lainnya, sehingga ia bisa menyiapkan produk sesuai dengan kemauan pasar. "

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengajak para eksportir untuk mengekspor produk pertanian dalam bentuk produk olahan. Hal tersebut sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian Indonesia.

“Kami akan dorong para eksportir agar tidak lagi mengekspor komoditas pertanian dalam bentuk gelondongan, kami harapkan para eksportir bisa belajar untuk mengekspor produk pertanian dalam bentuk produk olahan” ungkap Syahrul.

Menurut Syahrul, pihaknya bersama perbankan dan pemerintah daerah siap untuk memberi dukungan penuh kepada para eksportir dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), dirinya optimis pembangunan pertanian terutama di daerah Sumatera Utara dapat terus meningkat. Hal ini diperkuat dengan data ekspor komoditas Sumut di tahun 2018 yang mencapai nilai Rp. 26,6 Triliun, dan meningkat di tahun 2019 dengan nilai mencapai Rp. 32,2 Triliun.

“Saya senang hari ini eksportir yang datang banyak yang berminat untuk menggunakan KUR, saya minta dengan Gubernur ini bisa difasilitasi, kita butuh energi yang kuat termasuk dari Pemda untuk bisa mendorong komoditi pertanian berskala ekspor” ungkap Syahrul.

Lebih lanjut Syahrul mengatakan sebagai negara tropis, pertanian Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk bersaing dan memenangkan pasar dunia. Hal ini dibuktikan salah satunya oleh Provinsi Sumatera Utara yang berhasil melepas ekspor 28 komoditas pertanian senilai Rp. 79,6 Milyar ke 28 Negara.

“Hari ini kita kembali membuktikan bahwa ekspor pertanian adalah sesuatu yang menjanjikan, hari ini saya juga menjadi sangat yakin dengan potensi pertanian kita, karena sarang burung walet kita tetap bisa masuk ke Cina, itu membuktikan dalam situasi apapun kebutuhan dunia terhadap pertanian kita tetap terbuka” terang Syahrul.

Atas dasar itulah, Syahrul mengajak eksportir komoditas pertanian untuk tingkatkan kinerja ekspor komoditas pertanian. Sebab, peluang untuk meningkatkan ekspor pertanian masih sangat besar terlebih pada komoditas perkebunan. Untuk itu pihaknya akan terus mengajak semua pihak termasuk kalangan dunia usaha untuk bekerjasama mendorong upaya ini.

BERITA TERKAIT

Indonesia Mulai Ekspor Produk Polyethyelene dan Penuhi Kebutuhan Domestik

NERACA Jakarta,– Mulai tahun 2020, industri petrokimia Indonesia telah buka pasar ekspor setelah rampungnya peningkatan kapasitas pabrik produk Polyethylene (PE)…

Antisipasi Penyebaran Covid-19, KKP Siapkan Layanan Online

NERACA Jakarta -  Sebagai upaya penanggulangan penyebaran Corona Virus Disesase (Covid-19) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Unit Pelaksana…

Industri Kelapa Sawit Hadapi Ketidak Pastian Pasar

Jakarta - Memasuki tahun 2020, diawali dengan harga CPO yang meningkat dengan rata-rata harga CPO CifRotterdam adalah USD 830/ton sementara…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Implementasi Kartu Prakerja Harus Dipercepat

NERACA Jakarta - Dalam rangka melindungi para pencari kerja dan pekerja formal atau informal yang terkena dampak langsung dari berkurangnya…

Indonesia Mulai Ekspor Produk Polyethyelene dan Penuhi Kebutuhan Domestik

NERACA Jakarta,– Mulai tahun 2020, industri petrokimia Indonesia telah buka pasar ekspor setelah rampungnya peningkatan kapasitas pabrik produk Polyethylene (PE)…

Antisipasi Penyebaran Covid-19, KKP Siapkan Layanan Online

NERACA Jakarta -  Sebagai upaya penanggulangan penyebaran Corona Virus Disesase (Covid-19) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Unit Pelaksana…