Indonesia Tingkatkan Perdagangan Melalui Kolaborasi

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan, kolaborasi dengan Konfederasi Industri India (Confederation of India Industry/CII) merupakan salah satu upaya mencapai target perdagangan yang ditetapkan kedua Pemimpin Negara sebesar USD 50 miliar pada 2025.

Hal itu ditekankan Mendag Agus usai bertemu dengan perwakilan CII di hari kedua kunjungan kerja Mendag di India.

“Pertemuan ini merupakan wujud kolaborasi antara pemerintah Indonesia dengan pelaku usaha di India guna mendorong ekspor produk Indonesia ke India. Bagi kami, India adalah salah satu mitra dagang terbesar dan sangat penting,” kata Agus.

Pada pertemuan tersebut, Agus mengungkapkan masih banyak peluang kerja sama dan bisnis yang dapat dikembangkan di sektor konstruksi dan energi. “Indonesia saat ini menempatkan infrastruktur dan pengembangan energi alternatif sebagai prioritas utama. Oleh karena itu, kami menjajaki peluang kerja sama di sektor konstruksi dan energi dengan CII,” ujar Agus.

Selain itu, Agus juga menyebutkan adanya peluang kerja sama di sektor energi yaitu konversi batu bara ke gas untuk bahan bakar pembangkit listrik. Mendag menjelaskan, Indonesia memiliki pasar yang potensial. Sehingga kerja sama di sektor lain pun semakin terbuka.

Kerja sama kedua negara semakin terbuka lebar karena regulasi di Indonesia saat ini semakin memberikan kemudahan guna mendorong peningkatan ekspor. Pihak CII menyebutkan beberapa peluang kerja sama lain yang dapat dijajaki kedua negara antara lain pertambangan, mobil listrik, pertanian, kesehatan, dan farmasi.

Pertemuan dengan IVPA

Sebelumnya, Agus bertemu dengan Asosiasi Produsen Minyak Nabati India (India Vegetable Oil Producers Association/IVPA) di tempat yang sama. IVPA adalah asosiasi khusus industri yang terdiri dari produsen Vanaspati, minyak sulingan, minyak nabati lainnya yang terhidrogenasi. Pada kesempatan tersebut, Mendag menekankan pentingnya kolaborasi untuk mengembangkan citra positif minyak sawit di India.

“Saya ingin kita berkolaborasi untuk mengembangkan citra positif minyak sawit di India,” kata Agus.

Selain itu, Agus juga mendorong anggota IVPA untuk mulai membeli produk hilir minyak sawit Indonesia sebagai isyarat untuk membuktikan keberlanjutan produk minyak sawit Indonesia.

Menyikapi kepentingan kedua negara untuk meningkatkan kerja sama perdagangan, Agus mengundang para pengusaha India untuk menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) 2020 di Indonesia yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober mendatang. India merupakan negara tujuan ekspor ke-4 terbesar dan sumber impor produk bahan baku dan dan bahan penolong ke-9 bagi Indonesia.

Total nilai perdagangan Indonesia-India pada 2019 tercatat sebesar USD 16 miliar. Ekspor Indonesia ke India untuk periode yang sama tercatat sebesar USD 11,78 miliar dan impor Indonesia dari India tercatat sebesar USD 4,29 miliar.

Surplus untuk Indonesia tercatat sebesar USD 7,48 miliar. Produk ekspor utama Indonesia ke India pada 2019 yaitu batubara, minyak kelapa sawit dan turunannya, produk baja, karet alam, serta asam lemak monokarboksilat industri. Sedangkan, beberapa produk impor utama Indonesia dari India adalah daging kerbau, hidrokarbon siklik, kacang tanah, pemanas air, dan kendaraan bermotor.

India merupakan negara tujuan ekspor keempat dan sumber impor kesembilan bagi Indonesia pada 2019.

Pada periode tersebut total perdagangan kedua negara mencapai mencapai USD 16,1 miliar. Ekspor Indonesia ke India teecatat sebesar USD 11,7 miliar dan impor Indonesia dari India tercatat USD 4,3 miliar. Dengan demikian, Indonesia surplus perdagangan sebesar US$ 7,4 miliar.

Produk ekspor utama Indonesia ke India pada 2019 yaitu batubara, minyak kelapa sawit dan turunannya, produk baja, karet alam, dan asam lemak monokarboksilat industri. Sedangkan, impor utama Indonesia dari India yaitu daging kerbau, hidrokarbon siklik, kacang tanah, pemanas air, dan kendaraan bermotor.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, penurunan tarif bea masuk CPO India itu memberikan harapan atas ekspor minyak sawit Indonesia pada 2020 ini. “Saya kira ekspor sawit Indonesia akan naik lagi dengan turunnya bea masuk oleh India,” ujar Mukti.

Lebih lanjut, menurut Mukti, pihaknya belum menghitung berapa besar kenaikan ekspor CPO ke India akibat tarif bea masuk baru itu. Gapki mencatat ekspor CPO ke India pada Oktober 2019 sebesar 3,7 juta ton.

BERITA TERKAIT

Indonesia Mulai Ekspor Produk Polyethyelene dan Penuhi Kebutuhan Domestik

NERACA Jakarta,– Mulai tahun 2020, industri petrokimia Indonesia telah buka pasar ekspor setelah rampungnya peningkatan kapasitas pabrik produk Polyethylene (PE)…

Antisipasi Penyebaran Covid-19, KKP Siapkan Layanan Online

NERACA Jakarta -  Sebagai upaya penanggulangan penyebaran Corona Virus Disesase (Covid-19) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Unit Pelaksana…

Industri Kelapa Sawit Hadapi Ketidak Pastian Pasar

Jakarta - Memasuki tahun 2020, diawali dengan harga CPO yang meningkat dengan rata-rata harga CPO CifRotterdam adalah USD 830/ton sementara…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Implementasi Kartu Prakerja Harus Dipercepat

NERACA Jakarta - Dalam rangka melindungi para pencari kerja dan pekerja formal atau informal yang terkena dampak langsung dari berkurangnya…

Indonesia Mulai Ekspor Produk Polyethyelene dan Penuhi Kebutuhan Domestik

NERACA Jakarta,– Mulai tahun 2020, industri petrokimia Indonesia telah buka pasar ekspor setelah rampungnya peningkatan kapasitas pabrik produk Polyethylene (PE)…

Antisipasi Penyebaran Covid-19, KKP Siapkan Layanan Online

NERACA Jakarta -  Sebagai upaya penanggulangan penyebaran Corona Virus Disesase (Covid-19) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Unit Pelaksana…