Produk UMKM Siap Bersaing dengan Industri

NERACA

Banjarbaru – Kementerian Koperasi dan UKM optimis bahwa produk dari usaha mikro kecil dan menegah (UMKM) mampu bersaing dengan produk-produk buatan industri ataupun pabrikan.

Hal itu ditegaskan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat meninjau Koperasi Mitra Idaman Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Koperasi Mitra Idaman Banjarbaru merupakan koperasi yang sedang tumbuh dan beranggotakan 24 orang ibu-ibu. "Mereka memproduksi aneka produk, mulai dari makanan, minuman, hingga kain", ucap Teten.

Menurut Teten, produk-produk tersebut sangat potensial untuk dikembangkan dan bisa meningkatkan ekonomi para anggotanya. "Koperasi ini sangat berpotensi untuk dikembangkan dalam skala lebih besar dengan keanggotaan lebih banyak", tegas Teten.

Teten pun memberikan kiat agar koperasi itu berkembang pesat. Yaitu, melalui sistem produksi berantai. Selain itu, memanfaatkan pembiayaan perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan sistem mengikuti pertumbuhan usaha.

Sehingga dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM meminta produk yang dihasilkan Koperasi Mitra Idaman Banjarbaru, harus berbasis pada unggulan daerahnya, agar suplai bahan baku lokal tercukupi. "Saya mendorong produk unggulan saat ini harus berbasis value base comodity", kata Teten.

Apalagi, bagi Teten, Kalimantan sangat kaya dengan buah-buahan, kayu-kayuan dan herbal. Itu bisa menjadi produk unggulan disini. Dimana dalam pengembangan usahanya, dapat bermitra dengan market atau pasarnya. Apalagi dengan adanya platform online Wako yang dapat menghubungkan anggota koperasi dengan 1200 warung di Kalimantan Selatan.

Teten optimis, jika saran tersebut dijalankan, maka akan terhubung dan dapat meningkatkan ekonomi. Sehingga nantinya, tidak kalah dibandingkan ritel modern maupun produk pabrikan.

Sementara itu, Ketua Koperasi Idaman Banjarbaru Alfisah mengatakan bahwa koperasi yang dipimpinnya diharapkan bisa go internasional. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan tempat strategis di bandara, promosi yang besar dan pembiayaan tanpa agunan.

Alfisah menambahkan, produk unggulan koperasinya adalah Ampang Idaman. Selain itu ada craft, kain Sasirangan, sirup, krupuk dan teh Bajakah. "Anggota kami memang hanya 24 orang, namun aktif dengan produk yang dihasilkan karena setiap anggota wajib memiliki Ijin Usaha Mikro Kecil (IUMK)," ucap Alfisah.

Terbukti, salah satu produk UMKM yang tidak kalah dengan produk industri seperti mebel. Diantaranya, di kota Surakarta, Solo misalnya, beberapa sentra industri furnitur ini telah mendapat market potensial untuk pasar ekspor. Hal itu terlihat dalam kunjungan kerja yang dilakukan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di beberapa sentra industri furnitur dan kerajinan tangan, di antaranya di Pasar Mebel Ngamplak (furnitur kayu) dan Koperasi Manunggal Jaya Trangsan Sukoharjo (industri rotan).

Di Pasar Mebel Ngamplak, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Mebel Gilingan Kota Surakarta Budi Santoso mengatakan, kawasan pasar Mebel Ngamplak ini masuk dalam program Presiden Joko Widodo dalam percepatan kawasan ekonomi strategis di Jateng selama tiga tahun ke depan (2021-2023).

Pasar seluas 6.800 meter persegi (m2) ini memang menjadi salah satu daerah yang dikenal sebagai industri mebel. Namun sayangnya dikeluhkan Budi, sejak berdiri pada 1970-an, pasar ini kerap kali mengalami kebakaran.

"Sudah tiga kali kebakaran, dari habis terus bangun lagi, terus kebakar lagi. Kami berharap, pembangunan kembali Pasar Mebel Ngamplak ini mengakomodasi kebutuhan para perajin. Karena kalau tidak didukung bagaimana industri mebel survive bahkan menembus ekspor yang lebih luas," curhat Budi.

Tak hanya masalah infrastruktur pasar, menurut Budi, market hingga produksi mebel ini juga menjadi keluhan beberapa pelaku usaha saat bertemu Menkop dan UKM. Padahal Pasar Mebel Ngamplak ini omzetnya mencapai lebih dari Rp 10 miliar per tahun, dengan kontribusi pajak ke APBD hingga Rp 27,1 miliar per tahun.

"Kami mengelola 44 pasar, masing-masing potensi ini telah kami maksimalkan. Sementara kami juga menaungi 67 pedagang sekaligus perajin mebel," ujar Budi.

Sebelumnya, Direktur Utama LPDB-KUMKM Braman Setyo mengatakan Kementerian Koperasi dan UKM berkomitmen agar LPDB punya peran penting di tahun 2020 dalam pengembangan UMKM naik kelas, karena itu yang menjadi Menteri Koperasi dan UKM komitem untuk mengangkan UMKM.

Sehingga untuk menaikan derajat program UMKM dan modernisaai koperasi serta UKM ekspor menjadi fokus Menteri Teten, karena UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Bahkan kontribusinya terhadap PDB hingga 60,34 persen, dan menyerap tenaga kerja mencapai 97 persen. UMKM juga memiliki daya tahan tinggi yang mampu menopang perekonomian negara saat terjadi krisis global.

“Saat ini fokus Pak Menteri bagaimana mengembangkan UMKM, karena UMKM telah memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain secara kualitas UMKM kita kecil sekali, nilai ekspornya hanya 14% dibawah Vietnam yg 17% apalagi UKM China 70% . Oleh karena itu, Pak Menteri selalu menekankan dalam forum rapat bahwa pengembangan UMKM menjadi fokus utama, papar Braman

BERITA TERKAIT

Indonesia Mulai Ekspor Produk Polyethyelene dan Penuhi Kebutuhan Domestik

NERACA Jakarta,– Mulai tahun 2020, industri petrokimia Indonesia telah buka pasar ekspor setelah rampungnya peningkatan kapasitas pabrik produk Polyethylene (PE)…

Antisipasi Penyebaran Covid-19, KKP Siapkan Layanan Online

NERACA Jakarta -  Sebagai upaya penanggulangan penyebaran Corona Virus Disesase (Covid-19) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Unit Pelaksana…

Industri Kelapa Sawit Hadapi Ketidak Pastian Pasar

Jakarta - Memasuki tahun 2020, diawali dengan harga CPO yang meningkat dengan rata-rata harga CPO CifRotterdam adalah USD 830/ton sementara…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Implementasi Kartu Prakerja Harus Dipercepat

NERACA Jakarta - Dalam rangka melindungi para pencari kerja dan pekerja formal atau informal yang terkena dampak langsung dari berkurangnya…

Indonesia Mulai Ekspor Produk Polyethyelene dan Penuhi Kebutuhan Domestik

NERACA Jakarta,– Mulai tahun 2020, industri petrokimia Indonesia telah buka pasar ekspor setelah rampungnya peningkatan kapasitas pabrik produk Polyethylene (PE)…

Antisipasi Penyebaran Covid-19, KKP Siapkan Layanan Online

NERACA Jakarta -  Sebagai upaya penanggulangan penyebaran Corona Virus Disesase (Covid-19) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Unit Pelaksana…