Perputaran Bisnis Burung Menembus Rp1,7 Triliun

NERACA

Bogor- Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengajak para penggemar burung atau kicau mania untuk berkoperasi mempertimbangkan perputaran uang dalam bisnis burung berkicau mencapai Rp1,7 triliun dalam setahun.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan pihaknya dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM sangat mendukung pembentukan Koperasi Komunitas Kicau Indonesia yang akan mewadahi para penggemar burung kicau di tanah air.

“Saya mendukung pembentukan Koperasi Komunitas Kicau Indonesia agar bisa menjadi landasan pengembangan bisnis kicau mania di Indonesia,” kata Teten.

Teten Masduki juga menandatangani prasasti yang akan dipasang di Pasar Burung Bogor dan Koperasi Komunitas Kicau Indonesia. Ratusan penggemar burung berkicau hadir dalam acara kontes burung berkicau tersebut, mereka mengikuti acara kontes burung dari berbagai jenis mulai dari murai batu, anis merah, kacer, cucak hijau, dan lain-lain.

Menurut Teten, kicau mania bukan sekadar hobi melainkan upaya untuk bisa melestarikan burung karena ketika burung itu punya nilai ekonomi maka ia yakin burung-burung tersebut tidak akan punah.

“Karena akan diternakkan, dibreeding tinggal bicara dengan Kementerian LHK enggak boleh takut dengan para kicau mania ini. Ada beberapa jenis burung yang punya nilai ekonomi karena sering masuk di dalam kontes dan itu pasti tidak akan punah karena itu akan diternakkan, akan dibudidayakan,” katan Teten.

Terlebih, Teten mengutip data pada 2019 di Indonesia ada sekitar 1.794 jenis burung yang harus terus dijaga kelestariannya. Bahkan di negara lain, di India misalnya, para pecinta burung sudah berhasil menernakkan burung merak biru sehingga bisa diperjual belikan secara internasional.

“Di kita belum, ke depan mestinya Kementerian LHK bisa memberikan kepada koperasi hak untuk menernakkan binatang langka supaya tidak punah, paling tidak para hobiis tidak lagi berburu di hutan tapi hasil ternak,” kata Teten.

Kicau mania juga menurut Teten, merupakan suatu peluang usaha dimana Presiden RI Joko Widodo pernah menyebutkan ada Rp1,7 triliun dari perdagangan atau uang yang beredar di bisnis burung berkicau mulai dari budidaya, ternak, sangkar, pakan burung, sampai ke obat-obatan.

“Jadi ini kegiatan yang sangat besar manfaatnya karena itu sekali lagi kita semarakkan terus dan ini jangan lupa kebanyakan pelaku kicau mania ini sektor informal, jadi ide untuk membuat koperasi kicau Indonesia sangat tepat,” terang Teten.

Bahkan dalam laman finance.detik.com pun dijelaskan bahwa perputaran uang dari pegiat burung kicau misalnya, atau biasa disebut kicau mania telah mendatangkan penghasilan hingga belasan juta rupiah per bulan. Tentunya ini jadi peluang bisnis yang menggiurkan. Salah satunya Arun yang terjun ke bisnis burung kicau

Lebih dari itu, orang-orang yang hobi main burung pada akhirnya bisa hidup dari kecintaannya terhadap unggas tersebut. Terbukti, salah satu burung kicau ada yang terjual Rp 17 juta dan Rp 4 juta. Alhasil ada banyak yang mulai pun berfikir untuk mulai terjun ke bisnis burung. Sebab dari uang hasil penjualan dua burung saja

Mulailah Arun membuka kios burung dengan modal Rp 35 juta. “Dirasa modal sebesar Rp 21 juta belum cukup, dia kemudian membuka tabungan yang terkumpul dari hadiah memenangkan sejumlah lomba burung kicau,” ucap Arun.

Awalnya, Arun hanya menjual pakan burung kicau, mulai dari kroto, jangkrik, pur, dan sebagainya. Lambat laun dia tambah dagangan hingga akhirnya komplit. Dalam tiga bulan perkembangan kiosnya cukup bagus.

Dari sejumlah keuntungan yang didapat selama tiga bulan, dia gunakan untuk menambah jenis dagangan. Tak hanya makanan burung, Arun kemudian menambah dengan kandang-kandang burung. Baru, dalam setahun dia bisa mepenhla dengan burung.

"Dan 1 tahun kita lengkapin dengan burung bahan yang sangat dicari oleh orang, semua burung kita utamakan burung yang bagus-bagus gitu, yang cepat lakunya, tapi dengan harga yang Insyaallah masih terjangkau," kata Arun.

Menurut Arun, burung yang djual beragam, mulai dari cucak ijo hingga jalak suren. Kisaran harga burung yang dia jual juga terjangkau, mulai dari Rp 550 ribu hingga Rp 1,6 juta. Namun itu untuk burung bahan, alias burung yang belum dilatih. Sementara burung yang sudah terbentuk bisa dihargai Rp 5 juta.

Kini, kios burungnya sudah berjalan kurang lebih 2 tahun. Omzet kotornya telah menyentuh Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per bulan. "Rp 60 juta itu untuk kotor, tapi untuk bersihnya bisa Rp 30-40 juta per bulannya," pungkas Arun.

BERITA TERKAIT

Tepung Jagung Olahan Tembus Pasar Israel

NERACA Cilegon - Pangsa pasar produk olahan berupa tepung jagung atau corn starch hasil industri di Cilegon berhasil tembus pasar…

Pemerintah Upayakan Kebijakan Khusus Bagi Koperasi

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM mengakui bahwa pihaknya sedang mengupayakan ada kebijakan khusus bagi koperasi terkait…

Ribuan Ton Impor Bawang Siap Masuk ke Indonesia

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mengakui jumlah volume RIPH bawang putih dan bombai yang telah diterbitkan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Operasional Pelabuhan Perikanan Tidak Terpegaruh Covid-19

NERACA Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) memastikan aktivitas di pelabuhan perikanan tetap berjalan sesuai…

Covid-19 Meluas, Pemerintah Dorong Skema Program Bantu Koperasi

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM siap mendorong koprasi yang terkena dampak dari virus covid-19 Sekretaris Kementerian…

Covid-19 Meluas, Industri Kelapa Sawit Gelontorkan Bantuan

NERACA Jakarta – Terus meluasnya serangan virus covid-19 membuat industri kelapa sawit untuk menggelontorkan sejumlah bantuan, salah satunya Wilmar. Wilmar…