Tiphone Mobile dan KSEI Saling Tuduh - Dampak Suspensi Saham

NERACA

Jakarta –Dinilai melakukan salah prosedur karena penundaan pembayaran bungake-4 dan pelunasan pokok atas obligasi berkelanjutan II Tiphone tahap I tahun 2019, menjadi alasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian perdagangan sementara atau suspensi perdagangan saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE).

Merespon hal tersebut, manajemen angkat suara. Direktur Utama Tiphone Mobile Indonesia, Tan Lie Pin dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, TELE telah melakukan kewajibannya untuk melakukan pembayaran kepada pemegang obligasi secara langsung, sebagaimana bukti yang telah disampaikan kepada KSEI. "Namun KSEI tidak mengakui proses pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan karena dianggap menyalahi teknis pembayaran," ujarnya.

Alasan perusahaan melakukan proses pembayaran langsung kepada pemegang obligasi karena ada permintaan dari pemegang obligasi kepada pihak perusahaan. Bukti pembayaran tersebut juga sudah disampaikan kepada KSEI. Dilansir dari surat TELE kepada KSEI tertanggal 17 Februari 2020, TELE telah mengirimkan surat pemberitahuan atas pembayaran obligasi langsung ke tiga pemegang obligasinya kepada Oktommy Putra, Divisi Corporate Action, melalui email pada Senin (17/2). Adapun pembayaran ke tiga pemegang obligasi itu telah dilakukan pada 13 Februari 2020.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa TELE sudah membayar sebagian pokok dan bunga obligasi beserta pajak pada KSEI dengan jumlah total Rp 3,33 miliar. Dengan rincian, atas nama akun Reksa Dana Prospera Dana Lancar sebesar Rp 2,06 miliar, Mohammad Hidayat Hasan sebesar Rp 1,03 miliar, PT Upaya Cipta Sejahtera sebesar Rp 95,83 juta, PT Esa Utama Inti Persada Rp 95,83 juta, dan PT Deltacomsel Indonesia Distrindo Rp 47,91 juta.

Adapun pembayaran pokok obligasi yang belum disetorkan kepada KSEI tetapi telah dibayarkan langsung kepada pemegang obligasi berjumlah total Rp 51,35 miliar. Rinciannya, PT Upaya Cipya Sejahtera dan PT Esa Utama Inti Persada masing-masing sebesar Rp 20,54 miliar, serta PT Deltacomsel Indonesia Distrindo sebesar Rp 10,27 miliar.

Masih dari surat yang sama dijelaskan, ketiga pemegang obligasi meminta TELE melakukan pembayaran secara langsung karena sudah tidak mempercayai lagi PT Sinarmas Sekuritas sebagai bank Kustodi. "Surat kami tidak pernah ditanggapi. Bunga yang menjadi hak kami tidak ditransfer ke rekening kami," seperti yang tertulis dalam lampiran surat yang ditujukan TELE kepada KSEI.

Saat ini, TELE tengah melakukan penarikan dana dari pemegang obligasi yang sudah dibayarkan. Dana tersebut akan disetorkan ke KSEI hari ini supaya suspensi dapat dibuka. "Kami akan menyelesaikan administrasi pembayaran kepada KSEI pada hari ini sehingga saham TELE bisa kembali diperdagangkan di bursa,"kata Tan Lie Pin.

Direktur KSEI, Syafruddin seperti dikutip bisnis membenarkan penundaan pembayaran obligasi yang seharusnya dilaksanakan Selasa (18/2). “Iya benar, Tiphone kita tunda distribusi pelunasan pokok dan bunga obligasinya, karena harus sesuai ketentuan pelaksanaannya, yakni melalui KSEI,”jelasnya.

BERITA TERKAIT

Berkah Melek Digital, Cuan Bisnis Kuliner Makin Berlipat

Ibu haji Abay, (65) masih disibukkan dengan pesanan pecak bandengnya oleh para pelanggan setianya yang sudah menunggu untuk makan siang.…

Dibandrol Mulai Rp 1 Miliar - Kota Modern Pasarkan Kavling Siap Bangun

Perumahan skala kota (township) Kota Modern yang dikembangkan PT Modernland Realty Tbk. di Kota Tangerang, memasarkan kavling siap bangun di…

Ditopang Layanan Penundaan Kapal - Jasa Armada Bukukan Untung Rp 90 Miliar

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2019 kemarin, PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) berhasil membukukan laba bersih Rp90 miliar atau…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Beban Keuangan Membengkak - Perolehan Laba Adi Sarana Turun 23,06%

NERACA Jakarta – Di balik agresifnya ekspansi bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menambah armada baru, namun hal tersebut…

Penjualan Delta Djakarta Melorot 7,38%

NERACA Jakarta – Emiten produsen minuman alkohol, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membukukan laba bersih sebesar Rp317,81 miliar, melorot 6,01%…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Saraswanti Oversubscribe 19,94 kali

NERACA Jakarta – Di tengah badai penyebaran Covid-19 yang masih, minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal masih tinggi.…