Lebih Unggul Dalam Teknologi, BKDI Jauh Lebih Hebat dari BBJ

NERACA

Jakarta - Sistem online trading PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) jelas jauh tertinggal dari kompatriotnya, PT Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (BKDI). Tak heran, perdagangan komoditas lebih ramai dilakukan di bursa milik perusahaan kelapa sawit besar, Group Sinarmas ini.

Selain itu, BBJ lebih nyaman melakukan perdagangan forex dan indeks saham daripada komoditas. “Apalagi, domain mereka (BBJ) memang di dua produk itu, forex dan saham. Sementara komoditas hanya jadi produk pelengkap saja. Makanya, lebih banyak pialang yang bertransaksi,” tegas Yan Hendri, pengamat komoditas dari Danpac Futures kepada Neraca, Kamis (20/4).

Dia melanjutkan, tak hanya memiliki sistem online trading yang modern dan mudah dipelajari, BKDI memang fokus di produk komoditas seperti crude palm oil (CPO) dan turunannya, olein, emas, dan yang terbaru, timah.

“Dari awal, BKDI memang tidak punya lisensi berdagang forex dan saham. Alhasil, mereka lebih cekatan dan maju dalam melakukan transaksi komoditas,” tambahnya. Yan menilai, seharusnya BBJ memprioritaskan transaksi komoditas sesuai dengan aturan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) terkait perdagangan komoditas harus diperbanyak.

Terkait transaksi, Yan menyatakan bahwa perusahaan komoditas lebih memilih BKDI dengan alasan adanya penyelesaian atau transaksi secara fisik. “Danpac pernah melakukan transaksi fisik dengan BKDI. Waktu itu emas. Kalau BBJ, saya hanya mau bilang, semestinya bisa melakukan hal serupa. Tapi kan pelaku pasar belum ada,” tandas Yan.

Mengenai merger atau akuisisi BKDI terhadap BBJ, dinilai Yan sangat bagus. Karena fokus bertransaksi komoditas agar lebih unggul. “Kita sadar itu tidak mudah dan butuh waktu. Tapi, saya setuju kalau bergabung. Buktinya, Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya bisa menyatu jadi Bursa Efek Indonesia,” tutupnya.

Terintegerasi dengan Bloomberg

Senada dengan Yan Hendri, Pengamat pasar modal UI Budi Frensidy menegaskan, kalahnya BBJ lebih disebabkan kelengahan mereka. Sebab, sedari dahulu BBJ menganggap dirinya lebih unggul dan menganggap tidak punya lawan yang kuat di bursa berjangka. “Karena merasa hebat sekarang mereka baru bisa merasakan setelah lahirnya BKDI, yang sistem online trading-nya jauh lebih modern dan cepat karena memakai Patsystems,” tandasnya.

Bursa ini melakukan transaksi kontrak berjangka minyak kelapa sawit mentah (CPOTR) dan kontrak berjangka emas (GOLDGR). Keduanya dengan menggunakan mata uang rupiah. "BBJ dulu jalannya lambat sih, sehingga kalah saing dengan BKDI [Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia]," jelasnya.

Harus diakui, terkait modernisasi sistem online trading, BKDI mengumumkan jika sistemnya telah terintegrasi dengan Bloomberg's Global Identifiers (BBGID) serta mendukung Bloomberg's Open Symbology (BSYM). Dengan demikian, pelaku pasar dapat mengakses data transaksi seperti CPO dan emas di situs Bloomberg.

Selain itu juga untuk mempromosikan transparansi dan biaya manajemen data berbiaya rendah bagi nasabah. Dalam rilisnya yang diterima Neraca, kemarin, dijelaskan bahwa BKDI akan akan mendistribusikan BSYM melalui porsi data dan situs web untuk menjamin ketersediaan data serta akses melalui basis pelanggan global.

Hal ini memungkinkan pelaku pasar untuk mendapatkan keuntungan antara identifikasi keamanan global dan lokal. Bloomberg's Global Identifiers terdiri atas 12-digit alfanumerik identifikasi yang mencakup lebih dari 75 juta surat berharga aktif dan tidak aktif di seluruh dunia.

Salahkan BBJ

Sementara itu Kepala Bappebti, Syahrul R Sempurnadjaja menyatakan, akusisi BBJ dengan BKDI yang baru-baru ini mengemuka masih berupa wacana. Pasalnya, terdapat banyak kesulitan untuk merealisasikannya, mengingat kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan swasta.

“Sebaiknya sih mereka bersinergi. Tetapi pemerintah tidak bisa memaksa layaknya perusahaan BUMN karena ego masing-masing sangat kuat,” kata Syahrul kepada Neraca, Kamis. Menurut dia, pemerintah pernah mengumpulkan kedua perusahaan ini untuk bersinergi, tetapi untuk keputusan akuisisi ini tidak bisa diputuskan dengan cepat.

Selain itu, juga dibutuhkan tenaga pengalaman di bidangnya. Bahkan, kata Syahrul, kalau perlu menggunakan tenaga asing. Dia lalu mencontohkan Bursa Berjangka India, yang dalam lima tahun sudah bercokol di 10 besar bursa berjangka terbaik dunia.

Syahrul mengakui kalau BBJ kalah bersaing dengan BKDI. Walaupun secara usia BBJ lebih dahulu lahir dari BKDI. Faktanya mereka tertinggal jauh. “Itu karena orang-orang di BBJ tidak serius menggarap BBJ. Karena pemegang saham disana itu orang komoditi. Jadinya tidak digarap maksimal,” keluhnya.

Related posts