Menuntut Kepekaan dan Pengawasan Orang Sekitar - Cegah Ide Bunuh Diri Akibat Bullying

Dunia pendidikan di Indonesia di awal tahun 2020 sudah dicoreng dengan pristiwa yang cukup memprihatinkan. Lagi-lagi kasus korban perundungan atau bullying menjadi tren meningkat yang dialami para siswa. Masih hangat kasus kematian siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 147, Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur, berinisial SN (14) pada Januari lalu karena menjadi korban bully teman-teman sekolahnya. Kali ini viral terjadi di Jawa Tengah.

Sebuah buah video beredar di media sosial memperlihatkan seorang siswi SMP yang di pukul bahkan ditendang oleh tiga orang siswa di dalam kelas. Diduga kejadian ini terjadi di SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah. Dalam video tersebut tampak seorang siswi yang sedang duduk belajar, diganggu oleh ketiga orang temannya. Namun, tindakan dari ketiga siswa ini di luar batas, siswi tersebut dipukul kepalanya hingga ditendang.

Bahkan buka hanya menedang mereka memukul dengan mengunakan tongkat sapu meskipun tampak tidak terlalu keras. Namun terlihat tindakan kekerasan yang mereka lakukan itu disengaja. Merespon hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranomo telah menghubungi pihak sekolah dan kepolisian, serta meminta pengawas sekolah bersama dinas untuk ikut turun. Bukan hanya di lingkungan pendidikan, dirinya juga telah menghubungi Bupati Purworejo.”Akun saya dibanjiri kejadian di salah satu SMP di Butuh Purworejo. Saya sudah telepon kaseknya dan dia sudah urus. Polisi juga sudah menerima laporannya,”ujarnya Melalui akun Twitter pribadinya, @ganjarpranowo.

Ya, perundungan di dunia pendidikan tidak pernah akan pernah berhenti bila tidak ada peran serta dari pelaku pendidikan, lingkungan sekolah dan tentunya kehadiran keluarga dalam hal ini orang tua. Pasalnya, masih banyak korban dari perundungan yang takut untuk ungkapkan permasalahannya dan masih mendapatkan siksaan dari rekannya karena tidak adanya orang yang mau mendengar dan tempat berlindung.

Psikolog Anak, Seto Mulyadi, menyebut perundungan atau perisakan kepada anak dan remaja bisa berdampak pada tindakan bunuh diri jika terjadi terus menerus dan tidak diselesaikan. Pasalnya, masa remaja itu kompleks karena punya harga diri dan ketika tidak ada satupun yang memahami, maka teralienasi ke tempat lain alias bunuh diri menjadi pilihannya. "Secara psikologis, siapapun yang akan mengakhiri hidup sudah sampai pada satu titik dia betul-betul sendirian di dunia ini, makanya perlu ada yang peduli dan yang mau mendengar."ungkapnya.

Oleh karena itu, dirinya sejak lama mendesak pemerintah yakni Kementerian Pendidikan agar serius membentuk tim atau satuan tugas di tiap sekolah yang fungsinya melindungi anak dari perundungan. Kepala koordinator komunitas Into the Light Indonesia, Benny Prawira Siauw mengungkapkan, setidaknya ada 3 kondisi yang menjadi pemicu bunuh diri di kalangan anak muda pada. Pertama, perasaan kesepian remaja berusia 13-15 tahun. Namun, masyarakat masih sering menganggap remeh kondisi tersebut.

Benny menjelaskan, remaja tetap berisiko mengalami kesepian, saat memiliki geng sekalipun. Sebab, apabila kebutuhan sosialnya belum terpenuhi, remaja bisa tetap kesepian. Kedua, perisakan (bullying). Permasalahan lain yang memicu tindakan bunuh diri adalah perisakan atau bullying. Benny menilai, masyarakat masih cenderung menganggap bullying sebagai hal yang lumrah. Padahal, bullying memberikan dampak signifikan terhadap tindakan bunuh diri. "Kita harus memikirkan, bagaimana cara mencegah bullying, agar bisa mencegah bunuh diri?" kata Benny.

Kemudian ketiga adalah pelecehan seksual di masa kecil menjadi korban pelecehan bisa berdampak hingga ke masa kuliah. Korban terus merasakan luka batin dan emosional. Kondisi ini pun berisiko menimbulkan pemikiran untuk bunuh diri.

Jangan Sepelekan Bullying

Dokter Ahli Kesehatan Jjiwa, Agung Frijanto dari Kementerian Kesehatan sepakat jangan sepelekan perkara bullying. Pasalnya, pada remaja, bullying merupakan pintu masuk bagi berbagai gangguan kesehatan mental seperti depresi hingga bunuh diri.”Akibat bullying itu bermacam-macam, bisa mengalami kecemasan hingga depresi berat," ujarnya.

Menurut Agung, banyak kasus gangguan kesehatan mental akibat bullying yang tidak tertangani dengan baik. Pasalnya, remaja sering kali tak terbuka soal masalah-masalah yang dialaminya. Begitu pula dengan orang tua dan guru yang abai pada kondisi remaja. “Banyak yang tidak cerita masalah mereka. Gejala depresi juga salah satunya adalah banyak diam dan sedih. Orang tua dan guru harus lebih peka pada kondisi ini,"kata Agung.

Data global dari WHO pada 2018 menunjukkan, masalah bunuh merupakan penyebab kematian terbanyak pada kelompok usia 15-29 tahun. Hasil survey dari Global Schoola-Based Student Health Survey di Indonesia pada 2015 menemukan, 1 dari 20 remaja pernah merasa ingin bunuh diri. Ide bunuh diri mencapai 5,9% pada remaja perempuan dan 3,4% pada remaja laki-laki. Sebanyak 20,7% remaja juga pernah mengalami bullying.

Kemudian studi terbaru dari California Healthy Kids Survey pada 2019 menunjukkan, bullying memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang bagi remaja. Remaja yang dirundung oleh teman-temannya karena alasan apa pun memiliki dampak kesehatan mental jangka panjang yang lebih buruk daripada anak-anak yang diperlakukan buruk oleh orang dewasa.

Remaja yang mendapatkan bullying lebih mungkin mengalami kecemasan, depresi, dan mempertimbangkan melukai diri sendiri dan bunuh diri di kemudian hari. Maka untuk mencegah gangguan kesehatan pada remaja ini, orang tua dan guru memegang peranan penting untuk mendidik anak agar bergaul tanpa bullying. Remaja yang mengalami bullying juga harus mendapatkan perhatian agar trauma dan kecemasan bisa disembuhkan.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati mengatakan, per­buatan perundungan di dunia pendidikan tidak pernah bisa ditoleransi. Oleh karena itu, harus ada sistem yang baik di sekolah sehing­ga kasus-kasus bullying dapat dicegah terjadi. Sejauh pengamatan KPAI, hampir semua sekolah tidak memiliki sistem pengaduan yang melindungi korban dan saksi perundungan. Padahal sistem tersebut wajib dibentuk sekolah sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan Di Lingkungan Satuan Pendidikan.

Sistem yang dimaksud itu berupa tim pencegahan yang terdiri dari kepala sekolah, perwakilan guru, siswa, dan orang tua. Di peraturan itu juga disebutkan sekolah wajib memasang papan layanan pengaduan tindak kekerasan yang mudah diakses oleh siswa, orang tua, atau guru. Papan layanan itu memuat nomor telepon dan alamat email.

Tapi karena ketiadaan tim pencegahan, alhasil tidak ada siswa yang berani melaporkan kasus perundungan. Padahal Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan Di Lingkungan Satuan Pendidikan mewajiban sekolah membentuk tim pencegahan yang melindungi korban dan saksi perundungan.

Komisioner KPAI, Retno Listiyarti menuturkan, sekolah yang tidak punya sistem pengaduan sehingga mereka enggan mengadu dan melapor. “Kalau mengadu atau melapor, ya sama saja bunuh diri atau sama dengan mencari masalah baru. Sudah dibully, mengadu, jadi masalah."tandasnya.

Selain itu,lanjutnya, guru-guru juga sebenarnya mengetahui ada pembullyan di sekolah, hanya kepekaan orang dewasa di sekitar anak yang kurang. Pengamatan KPAI, perundungan yang dialami siswa tidak hanya berbentuk kekerasan fisik tapi juga verbal. Sayangnya, kekerasan verbal kerap dianggap lumrah oleh guru.”Misalnya seorang anak gemuk, lalu dipanggil gembrot, pasti dia tak mau. Itu bullying. Atau anak yang kurus dipanggil ceking, juga pasti tak mau. Nah kebanyakan guru bilang, 'sabar saja, hindari, atau tak usah diladeni'."tuturnya.

Jadi sebenarnya, kata Retni bullying yang menentukan korban. Apabila korban merasa tidak nyaman, itu perisakan. Jadi tidak bisa dibilang digituin aja marah. Semoga kita menyadari dari hal tersebut dan mampu menekan potensi bunuh diri di kalangan remaja.

BERITA TERKAIT

Kedaung Indah Bukukan Rugi Rp 3,17 Miliar

PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI) membukukan rugi sepanjang tahun 2019 kemarin sebesar Rp 3,17 miliar atau membengkak 263% bila…

PLIN Cetak Pendapatan Rp 1,47 Triliun

Emiten properti, PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) mencatatkan pendapatan di 2019 sebesar Rp1,47 triliun naik 2,36% dari posisi tahun…

Transaksi Saham di Kota Solo Anjlok 50%

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Surakarta mencatat transaksi saham di kota Solo anjlok akibat merebaknya pandemi COVID-19 di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Beban Keuangan Membengkak - Perolehan Laba Adi Sarana Turun 23,06%

NERACA Jakarta – Di balik agresifnya ekspansi bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menambah armada baru, namun hal tersebut…

Penjualan Delta Djakarta Melorot 7,38%

NERACA Jakarta – Emiten produsen minuman alkohol, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membukukan laba bersih sebesar Rp317,81 miliar, melorot 6,01%…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Saraswanti Oversubscribe 19,94 kali

NERACA Jakarta – Di tengah badai penyebaran Covid-19 yang masih, minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal masih tinggi.…