Gadai Emas Kontribusi Terbesar Perbankan Syariah - Pendapatan Fee Base Income

NERACA

Jakarta—Produk gadai emas ternyata memberikan kontribusi besar, terutama pada pendapatan fee based income bagi perbankan syariah. Termasuk, yang dialami Bank Syariah Mandiri pada 2011 lalu. "Arahan BI meminta bank yang memiliki produk gadai emas turun dengan pembiayaan maksimal Rp 250 juta," kata Direktur Pembiayaan Kecil Mikro BSM, Hanawijaya, di Jakarta.

BSM berhasil membukukan Rp 2,2 triliun untuk gadai emas. Namun sejak aturan Bank Indonesia diberlakukan, gadai emas di BSM jatuh setengahnya. Per April nilai gadai emas yang tersisa hanya Rp 1,3 triliun.

Aturan BI di atas menyebabkan pasar untuk gadai emas semakin kecil. Tadinya pasar gadai emas berasal dari semua kalangan, artinya nasabah dapat menggadaikan emasnya dalam jumlah di atas 250 juta. Dengan aturan baru BI pasar gadai emas hanya akan berkisar di nasabah kelas menengah ke bawah.

Hal di atas berarti kompetisi antar bank akan semakin besar. Pasar yang semakin mengecil membuat bank semakin kompetitif. BSM menargetkan tahun ini akan menambah pembiayaan melalui gadai emas hingga 1 triliun. "Mudah-mudahan bisa kita tingkatkan karena persaingan semakin ketat," tambahnya

Seperti diketahui fee based income BSM meningkat tajam di sepanjang tahun 2011, yaitu sekitar 90,95%. Pada 2010 lalu, fee based income BSM bernilai Rp 567 miliar menjadi Rp 1,082 triliun pada 2011.

Sementara itu Bank Muamalat mengakui tidak ikut serta dalam euforia gadai emas seperti beberapa bank syariah lain. Menurut Direktur Keuangan Bank Muamalat, Hendiarto, mengatakan gadai emas tidak sesuai dengan visi Muamalat. Hal tersebut dinilai tidak produktif dan ada unsur spekulatif.

Muamalat telah mengembangkan portofolio untuk pembiayaan konsumer. Hendiarto mengatakan dalam portofolio tersebut disebutkan pembiayaan konsumer merupakan pembiayaan yang memiliki nilai tambah. Ia mencontohkan untuk pembiayaan rumah atau motor. "Motor kita masukkan ke portofolio karena bisa digunakan untuk bekerja," kata dia.

Hendiarto menambahkan, berbeda halnya jika Muamalat masuk ke sektor komersial. Gadai emas masih memungkinkan untuk menjadi opsi pembiayaan. "Sejauh ini belum akan mengeluarkan produk tersebut. Sama halnya mengeluarkan kartu kredit syariah," ungkap Hendiarto.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Negara Indonesia Syariah, Rizqullah menegaskan kedatangan investor asing tidak boleh dianggap sebagai mimpi buruk. Bagi perbankan syariah di Indonesia, kedatangan investor asing justru harus menjadi pemicu agar industri lokal lebih maju dan kreatif. "Kedatangan mereka adalah untuk meramaikan dan mendorong spirit kompetisi yang sehat terhadap masing-masig bank syariah agar semakin efisien," ujarnya

Kedatangan investor asing diharapkan dapat membuat perbankan syariah Indonesia termotivasi untuk tidak mau kalah dengan kehadiran mereka. Hal ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi bank syariah Indonesia untuk mengembangkan bisnisnya agar tidak ketinggalan kereta, kata Rizqulah. Hal ini dapat pula menjadi pembuktian bagi investor Indonesia kalau dirinya tidak kalah dengan yang masuk.

Melalui kedatangan investor asing ini pula perbankan syariah di Indonesia bisa menjalin kerja sama untuk mengembangkan industri mereka dan memperbesar dukungan pada sektor ril.

Rizqullah mengakui memang harus ada regulasi yang adil antara investor asing dan lokal. Namun menurutnya pangsa pasar syariah di Indonesia masih terlalu besar sehingga belum bisa dikatakan ada persaingan yang ketat antarbank syariah di Indonesia. "Hingga saat ini kamu belum khawatir," kata dia. Namun jangan sampai pula industri syariah di Indonesia berleha-leha dan tidak berkembang dengan baik melalui peningkatan layanan, produk dan sumber daya manusia.

Hal serupa juga dinyatakan oleh PT Pemeringkat Efek Jakarta (Pefindo).Menurut Vice President Pefindo, Hendro Utomo, mengungkapkan hal ini akan membuat geliat pertumbuhan industri syariah akan semakin cantik. Dengan kedatangan investor ini, industri syariah akan dituntut untuk memperbaiki produk dan layanan mereka, bisa dengan memperbanyak jenisnya dan memperluas jaringan. "Dari sisi nasabah juga lebih diuntungkan dengan banyak pilihan," kata Hendro. **

BERITA TERKAIT

Pengawasan Perbankan dan Harga Minyak

  Oleh: Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis   Bagi negara net importir minyak seperti Indonesia, naiknya…

Saat Obligasi Pemerintah Mengancam Industri Perbankan

  Oleh: Djony Edward Langgam pengaturan bunga di industri keuangan belakangan sedikit tercoreng, terutama dengan gencarnya penerbitan Surat Utang Negara…

Peluang Bisnis Ritel Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Bisnis ritel di Indonesia—dalam beberapa tahun  akhir  ini mengalami kelesuan yang luar  biasa,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Profitabilitas Bank Tahun Depan Diprediksi Sulit Meningkat

      NERACA   Jakarta - Rasio profitabilitas atau keuntungan dari aset bank dinilai sulit meningkat dalam setahun ke…

BTN Telah Kucurkan KPR Rp230,2 triliun

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-41 Kredit Pemilikan Rumah…

Kebijakan Suku Bunga Bakal Dipengaruhi Dolar

    NERACA   Jakarta - Kebijakan suku bunga nasional mendatang dinilai sangat dipengaruhi nilai penguatan mata uang dolar Amerika…