Astra Autopart Bagikan Dividen Rp 404,85 Miliar - Kendatipun Tahan Laba Rp 5 Miliar

NERACA

Jakarta - PT Astra Otopart Tbk (AUTO), anak perusahaan grup Astra membagikan dividen Rp 105 per saham. Ini setara dengan 40,2% dari laba bersih di tahun buku 2011.

Direktur Astra Otopart Robby Sani mengatakan, dividen yang dibagikan setara dengan Rp 404,85 miliar. “Pembagian dividen tersebut terdiri dari dividen interm Rp 30 per lembar atau RP 115,67 miliar. Dividen interm telah dibagikan 9 November 2011 dan sisanya Rp 75 per lembar atau Rp 289,18 miliar akan dibayar 29 Mei 2012,”katanya di Jakarta, Kamis (19/4).

Sebagaimana diketahui, perseroan mencatatkan laba bersih tahun 2011 sebesar Rp 1,01 triliun dan rencananya sisa laba Rp 5 miliar setelah dibayar untuk dividen akan digunakan sebagai dana cadangan. Kemudian lainnya sebagai laba ditahan dalam rangka peningkatan modal kerja dan investasi.

Sebagai informasi, PT Astra Otoparts Tbk menyiapkan belanja modal atau capital expenditure pada tahun ini sebesar Rp 1,6 triliun. "Belanja modal 2012 memang meningkat lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," kata Direktur Keuangan Astra Otoparts, Darmawan Widjaja

Kata Darmawan, separuh dana tersebut atau sebanyak 54% akan digunakan untuk meningkatkan kapabilitas. Selanjutnya, 34% akan digunakan untuk mengembangkan kapasitas yang telah ada dan sisanya untuk supporting.

Dana sebanyak Rp 1,6 triliun, lanjutnya, akan diperoleh dari laba ditahan perseroan 2011 sebanyak Rp 596,8 miliar. Sisanya akan berasal dari pinjaman perbankan. Sementara Presiden Direktur Astra Otoparts, Siswanto Prawiroatmodjo mengatakan, belanja modal konsolidasi bersama anak usaha mencapai Rp 2,95 triliun. Sebagian belanja modal itu diperoleh dari kas internal. Sedangkan sisanya lagi diperoleh dari pinjaman perbankan. "Ada juga belanja modal untuk pembelian tanah," ujarnya.

Kinerja 2011

Sepanjang 2011, Astra Otoparts membukukan pendapatan bersih Rp7,36 triliun atau meningkat 17,72% dibanding 2010. Kenaikan ini seiring dengan peningkatan produksi otomotif domestik yang berdampak pada pertumbuhan penjualan.

Selain itu, terjadi peningkatan penjualan di segmen pasar suku cadang pengganti dan penjualan ekspor. Namun, dengan adanya dampak kenaikan harga bahan baku yang tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pelanggan, menyebabkan kenaikan laba bruto tidak seiring dengan kenaikan pendapatan bersih.

Laba bruto 2011 naik sebesar Rp84,9 miliar atau 7,4% menjadi Rp1,24 triliun. Sementara itu, laba bersih justru turun sebesar 11,78% dari Rp1,14 triliun pada 2010 menjadi Rp1,01 triliun. Penurunan itu dipicu kenaikan harga bahan baku.

Selain itu, hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menetapkan dana cadangan Rp5 miliar. Sisanya dicatat sebagai laba ditahan perseroan untuk modal kerja dan investasi. Disamping itu, RUPST juga memberikan kuasa dan wewenang kepada dewan komisaris perseroan untuk menentukan dan menetapkan gaji atau tunjangan bagi anggota direksi perseroan.

Menetapkan honorarium anggota dewan komisaris perseroan dengan jumlah maksimum keseluruhan sebesar Rp2,39 miliar per tahun sebelum dipotong pajak penghasilan yang mulai berlaku sejak Mei 2012. (didi)

Related posts