Virus Corona vs Ekonomi RI

Menkeu Sri Mulyani Indrawati pernah mengatakan, kinerja ekspor Indonesia bakal terpengaruh akibat adanya wabah virus corona. Pasalnya, China merupakan salah satu negara utama tujuan ekspor RI. "Tapi rasanya kuartal I-2020 mungkin akan sangat sulit. Dan itu nanti pengaruhnya kepada seluruh dunia termasuk Indonesia dari mulai jalur pariwisata, harga komoditas, dan ekspor secara umum juga akan terganggu," ujarnya. Pernyataan Menkeu ini mengisaratkan bahwa ekonomi indonesia menghadapi ancaman serius.

Tidak hanya itu. Sebagian besar eksportir ekspor Ikan ke China juga terhenti. Karena jalur pesawat kargo untuk sementara waktu dilarang terbang ke China. Rentetannya juga berdampak pada industri pengalengan ikan yang biasa mendapatkan bahan baku ikan beku dari China, juga terancam berhenti produksi. Banyak industri yang butuh bahan baku penolong (linked product) dari China, juga sudah mulai khawatir. Karena stok mereka rata-rata udah menipis. Yang sudah habis stok terpaksa berhenti produksi. Ancaman PHK akan terjadi. Belum lagi harga komoditas utama Indonesia akan jatuh. Karena China menjadi pemicu harga naik atau turun atas komoditas global. Yang jelas harga minyak sudah duluan anjlok. Hal ini diakui oleh Ketua Apindo Haryadi Sukamdani.

Pariwisata yang merupakan industri dengan tingkat tradable tinggi , juga anjlok. Menurut kalangan perhotelan mengungkapkan, kondisi saat ini tidak ada turis China datang ke Indonesia. Lebih parah lagi sekarang, Bali itu sepi. Singapura itu sekarang sepi. Manado, Bintan juga tidak ada sama sekali turis China yang berkunjung. Indonesia sudah pasti kehilangan 1,7 juta wisatawan asal China. Sedangkan hampir semua industri perhotelan dan penerbangan itu dibiayai dari kredit bank. Kalau sampai pendapatan menurun itu akan berdampak kepada meningkatnya NPL. Ini akan semakin rentan ekonomi nasional Indonesia.

Padahal kinerja ekpor kita tahun lalu anjlok, akibat terjadi defisit neraca perdaganan sepanjang tahun 2019. Kitapun mengalami defisit primer terparah. Upaya recovery economy lewat kebijakan diandalkan kepada adanya Omnibus Law. Tetapi sampai kini pengesahaan Omnibus Law terus tertunda. Pemerintah berharap penyeimbang menurunnya ekpsor dan dampak dari virus corona adalah kebijakan investasi tahun lalu di sektor properti dan kontruksi. Namun yang jadi masalah, adalah darimana duitnya. Hampir semua BUMN rata-rata sudah melewati ambang batas DER (debt equity ratio), yang sulit menarik dana perbankan. Belum lagi pasar uang regional dan global sedang terpuruk semua, yang tidak mungkin bisa menyerap obligasi korporat.

Begitu juga realisasi bantuan dari Abudhabi dan AS untuk investasi ratusan triliun kini masih terkendala regulasi soal pembentukan sovereign wealth fund sebagai skema pembiayaan. Investasi dari China jelas sulit terealisasikan. Bencana wabah virus corona bukan hanya melanda China, tetapi ini melanda dunia. Apalagi dunia sedang suffering akibat krisis perang dagang. Kepedulian kita terhadap China adalah kepedulian terhadap diri kita sendiri.

Apalagi negara terjebak dengan hutang, sangat rentan dengan penurunan kondisi ekonomi. Berbeda dengan China memang painfull akibat virus corona, mereka memiliki tabungan besar dan sumber daya yang tak tergantung dari luar. Itu sangat mudah melakukan economy adjustment. Tetapi dunia termasuk Indonesia akan menderita karena beban hutang dan tipisnya tabungan untuk bertahan ditengah badai krisis akibat merebaknya virus corona ini.

Semoga demam virus corona ini bisa selesai sebelum berakhirnya musim dingin dan ketika masuk musim semi, aktifitas dunia kembali normal. Dunia bisa kembali berbenah dan kebijakan terhadap China khususnya pariwisata dan perdagangan kembali dibuka. Mengapa? Tidak ada politik kekuasan bisa bertahan di tengah resesi, dan ini harus menjadi keprihatinan kita, agar semua baik-baik saja. Kita juga tidak perlu panik berlebihan sehingga mengundang perhatian Dubes China untuk Indonesia, yang mengingatkan Indonesia sebagai mitra dagang China agar tetap menjaga hubungan baik.

BERITA TERKAIT

Disiplin Ketat Lawan Covid-19

Presiden Jokowi akhirnya memutuskan opsi PSBB (pembatasan sosial berskala besar) terdapat dalam UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan.…

Hapus Regulasi Penghambat!

Menyimak kondisi ekonomi Indonesia saat ini cenderung bersifat stagnan, hal ini didukung dengan adanya data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal…

Bersatu Atasi Covid-19

Indonesia tengah mengalami darurat  virus Covid-19, sehingga masyarakat dan pemerintah saat ini terus meningkatkan kewaspadaan setiap saat. Artinya, kita perlu…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Stimulus Percepatan Usaha

Di tengah wabah Covid-19 saat ini, upaya perampingan regulasi yang selama ini menjadi perbincangan publik  tampaknya akan segera terealisasi dalam…

Disiplin Ketat Lawan Covid-19

Presiden Jokowi akhirnya memutuskan opsi PSBB (pembatasan sosial berskala besar) terdapat dalam UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan.…

Hapus Regulasi Penghambat!

Menyimak kondisi ekonomi Indonesia saat ini cenderung bersifat stagnan, hal ini didukung dengan adanya data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal…