Kinerja Kinclong, BTN Bagikan Dividen Rp 223,7 Miliar

Neraca

Jakarta – Mencatatkan pertumbuhan laba 22,16% di tahun 2011 dari Rp 916 miliar menjadi Rp 1,12 triliun memberikan dampak positif bagi pemegang saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Pasalnya, perseroan bakal membagikan dividen sesuai hasil keputusan rapat umum pemegang saham tahunan.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk Iqbal Latanro mengatakan, pembagian dividen sebesar 20% dari laba bersih perseroan atau sebesar Rp 223,7 miliar, ”Dividen tunai yang akan dibayar kepada pemegang saham sebesar Rp 25,31 per lembar saham,”katanya di Jakarta, Kamis (19/4).

Selain itu, perseroan juga mengalokasikan 1,5% dan 2% dari laba untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan serta sisanya 21,46% dan 55,04% digunakan masing-masing untuk cadangan tujuan dan cadangan umum untuk memperkuat permodalan perusahaan.

Asal tahu saja, tahun 2009 dan 2010 Bank BTN telah membagikan dividen masing-masing 45% dan 30%. Jumlah dividen tunai yang dibagi tahun 2009 sebesar Rp.131,5 Milyar dan tahun 2010 sebesar Rp.274,78 Milyar. Selain keputusan dividen payout ratio yang harus dibayarkan perseroan, RUPS juga mengangkat Sahala Lumban Gaol dan Dwijanti Tjahjaningsih sebagai anggota komisaris BTN yang baru menggantikan Gatot Mardiwasisto dan Iskandar Saleh.

Kata Iqbal, perseroan optimis dapat memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi pemegang saham dan stakeholder dengan prestasi kinerja keuangan yang memuaskan. Kedepannya, pertumbuhan BTN akan tetap fokus pada kredit perumahan yang masih memiliki potensi yang sangat besar di masa mendatang.

Oleh karena itu, pihaknya tidak akan merevisi target yang telah ditetapkan terkait dengan aturan LTV (loan to value). Beberapa program inisiatif dalam rencana kerja Bank BTN tahun 2012 adalah meningkatkan pertumbuhan dana untuk mendukung pembiayaan kredit yang berkualitas dengan menumbuhkan intrapreneurship.

Disamping itu, Bank BTN juga akan tetap memberikan dukungan pada program perumahan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Sejauh ini perseroan masih melihat program Pemerintah dengan skim FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) perlu didukung oleh semua pihak.

Rights Issue

Menyinggung soal rencana rights issue yang akan dilakukan semester II-2012, BTN membidik perolehan dana segar sekitar Rp2 triliun dari penerbitan umum terbatas (rights issue). Untuk rights issue, perseroan berencana menerbitan 10-11,9% saham baru. “Rights issue dalam proses, dalam waktu dekat kita lakukan beauty contest untuk lembaga penunjangnya,” ujar Iqbal Latanro.

Menurut wakil direktur utama BTN Evi Firmansyah, rights issue yang akan diterbitkan sebesar 10-11,9% saham baru, yang diperhitungkan tidak akan mendelusi kepemilikan saham pemerintah sebesar 60%.“Kita sudah kick off meeting. Kita lakukan seleksi penjamin emisi dan segala macam. Ini kita lakukan juga rapat dengar pendapat dengan Komisi VI dan XI,” paparnya.

Direktur Keuangan dan Treasury BTN Saut Pardede mengatakan, lewat penambahan 10-11,9% saham baru tersebut diperkirakan perseroan akan memeroleh tambahan modal sekitar Rp2 triliun.“Kalau rights issue 10% itu paling tambah modal Rp2 triliun. Jadi kalau per saham sekitar Rp1.600, itu bisa dapat Rp2,1 triliun lah. Tapi ini kan belum ditetapkan,” tuturnya.

Selain tambahan dana sekitar Rp2 triliun dari rights issue, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perseroan akan meningkat drastis karena dividen payout ratio BTN untuk laba tahun buku 2011 ditetapkan sebesar 20%, sehingga memungkinkan jumlah laba ditahan yang lebih besar untuk mendukung ekspansi bisnis tahun ini.

Seperti diketahui, per akhir Desember 2011, LDR atau rasio kredit terhadap DPK perseroan ada pada level 102,57%. Bank sentral sendiri mengatur LDR perbankan pada level 78-100%, di mana untuk LDR yang melampaui 100% akan dikenakan sanksi, kecuali bank yang besangkutan memiliki CAR minimal 14%.

Untuk penyaluran kredit, perseroan mematok pertumbuhan sebesar 25% tahun ini. Adapun total kredit perseroan mencapai Rp63,56 triliun per akhir Desember 2011, naik 23,31% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp51,55 triliun. (bani)

Related posts