Industri Keramik Diperkirakan Tumbuh 12% di 2012

NERACA

Jakarta – Pertumbuhan industri keramik tahun ini diperkirakan bisa mencapai 12% atau lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya 8%. Permintaan domestik serta meningkatkan pembangunan properti menjadi faktor pendukung naiknya angka pertumbuhan tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Industri Keramik Indonesia (Asaki), Achmad Wijaya, menjelaskan, industri keramik merupakan salah satu sektor unggulan untuk menopang Produk Domestik Bruto (GDP) yang mencapai 3%. Dia menyebutkan selain menyumbang devisa besar, sektor ini juga bagus dalam penyerapan tenaga kerja langsung ataupun tidak langsung sebanyak tiga juta orang. "Sektor ini potensial pertumbuhannya karena ditopang sektor properti yang signifikan," katanya di Jakarta, Kamis (19/4).

Asaki mencatat sejak 2008 ekspor keramik mengalami penurunan karena permintaan dari negara-negara tujuan utama yaitu Eropa Barat dan Amerika Serikat. Padahal sebelum 2008, ekspor ke Eropa mencapai 8% dan Amerika Serikat 15% dari total produksi keramik nasional.

Lebih jauh lagi Achmad mengungkapkan saat ini komposisi pasar ekspor keramik Indonesia telah bergeser. Tercatat angka ekspor hanya 10% dari total produksi yang didominasi negara Australia dan Srilanka. Di samping itu, konsumsi domestik mencapai 90% dengan permintaan yang merata di seluruh daerah dalam negeri. "Merata ya seluruh Nusantara dan tidak hanya di Jawa saja," jelas Achmad.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Basis Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan hingga 2010, rata-rata nilai ekspor mencapai US$ 20 juta. Meskipun, mengalami penurunan angka ekspor, kata dia, konsumsi domestik saat ini semakin meningkat setiap tahun. Saat ini, Indonesia merupakan negara yang produksi keramik thile peringkat enam terbesar di dunia setelah negara lain seperti Cina, Italia, dan Spanyol. "Keramik menjadi salah satu handalan dalam kontribusinya terhadap PDB negara kita yang mencapai 3%," tukasnya.

Panggah menerangkan untuk mendukung angka produksi keramik domestik tahun ini dan selanjutnya, Kementerian Perindustrian akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta perusahaan seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk, dan Pertamina Gas. Hal ini untuk menjaga jumlah pasokan gas. Karena selama ini produksi keramik dipengaruhi ketersediaan gas.

"Keramik adalah salah satu dari 19 sektor industri yang produksinya tergantung dengan persediaan gas. Sektor lainnya kan ada pupuk kimia, ban, sarung tangan, dan baja. Supply gas kan sering tidak pasti. Makanya kita akan koordinasi dengan kementerian lain dan perusahaan produsen yang saya sebut tadi," ungkapnya.

Masalah Serius

Sekretaris Jenderal Asaki Elisa Sinaga mengungkapkan industri keramik saat ini sedang mengalami masalah yang cukup serius. Sebabnya, pasokan gas untuk Industri tersebut boleh dikatakan tidak ada sejak kuartal IV tahun lalu. Karena itu, target 2012 bisa terealisasi jika pemerintah bisa menjamin pasokan gas bagi sektor keramik serta memperbaiki kondisi infrastruktur yang hingga saat ini masih menjadi kendala.

“Untuk penjualan domestik di 2012, prediksi kami bisa mencapai Rp20 triliun. Tapi itu semua tergantung dari kebijakan pemerintah. Kalau tidak ada jaminan pasokan gas tentu saja target tersebut tidak akan tercapai,” ujar Elisa.

Elisa menjelaskan, berbeda dengan pasar di dalam negeri yang semakin membaik, ekspor malah mengalami penurunan sejak tiga tahun terakhir.”Sekarang kita tidak lagi berharap pada pasar ekspor. Sejak tiga tahun terakhir permintaan ekspor tidak bergeming. Bisa ekspor 10% dari total produksi saja kita sudah sangat bersyukur. Jadi orientasi kita saat ini adalah memperkuat penjualan di pasar domestik saja,” jelasnya.

Lebih jauh lagi Elisa memaparkan, saat ini kendala yang dihadapi oleh para pelaku industri keramik nasional bukan lagi persaingan dengan produk-produk keramik impor asal China, namun pasokan gas. “Untuk keramik China harganya sudah mahal. Konsumen pasti pilih produk lokal. Tapi yang jadi masalah saat ini, kita justru kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar domestik karena tidak ada jaminan pasokan gas dari pemerintah,” ucapnya.

Saat ini, produksi keramik nasional adalah sebesar 247 juta meter persegi per tahun. “Bagaimana mau ada investasi baru lagi, kalau pasokan gas untuk memenuhi kapasitas terpasang yang kita miliki saat ini saja tidak bisa dipenuhi pemerintah,” ungkapnya.

Dia menambahkan, volume penjualan keramik di negeri ini pada 2010 mencapai 180,05 juta meter persegi. Sebenarnya target awal penjualan keramik di 2010 sebanyak 243 juta meter persegi asalkan pasokan energinya lancar. Sampai saat ini produsen keramik lebih memfokuskan penjualan dalam negeri. Porsi penjualan domestik mencapai 95%. “Sisanya ekspor hanya 5%,” kata dia.

Dilihat dari pertumbuhan penjualan tertinggi di Indonesia, wilayah Sumatera menjadi pasar yang menjanjikan bagi penjualan keramik. Pertumbuhan permintaan keramik di Sumatera lebih tinggi ketimbang Jawa. “Meskipun permintaan wilayah Sumatera bertumbuh tinggi, Jawa tetap menjadi pasar terbesar keramik domestik, dengan pangsa 65%,” ungkapnya.

Related posts