Bisnis Baja Kratakau Steel Bisa “Bernafas Panjang” - Dampak Restrukturisasi Utang

NERACA

Jakarta – Kerja keras PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) untuk menyehatkan keuangan dari rugi mulai membuahkan hasil. Hal ini tidak bisa lepas dari keseriusan pemerintah mengobati BUMN yang sakit, termasuk Krakatau Steel. Kini perusahaan baja plat merah inisudah menyelesaikan proses restrukturisasi utang senilai US$ 2 miliar atau setara Rp 27,22 triliun (asumsi kurs Rp 13.611/US$). Ini merupakan restrukturisasi utang terbesar yang pernah ada di Indonesia.

Direktur Utama KRAS, Silmy Karim dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, melalui restrukturisasi ini, total beban selama sembilan bulan tahun utang dapat diturunkan secara signifikan dari US$ 847 juta menjadi US$ 466 juta. “Selain itu, penghematan biaya juga kita dapatkan dari restrukturisasi Krakatau Steel utang selama sembilan tahun sebesar US$ 685 juta,"ujarnya.

Restrukturisasi ini melibatkan 10 bank nasional, swasta nasional dan asing. Penandatangan perjanjian restrukturisasi ini dilakukan untuk transformasi bisnis KRAS menjadi lebih sehat. Langkah selanjutnya, KRAS meminta dukungan regulasi impor baja. Regulasi ini merupakan langkah penting untuk mendukung industri baja yang sehat.

Sementara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengatakan, restrukturisasi BUMN industri baja tersebut harus dijalankan dengan niat yang benar, tidak memikirkan hal-hal lain seperti komisi atau apapun.”Habis restrukturisasi nanti ada lagi isu yakni terkait operasional," ujarnya.

Sebelumnya PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mewacanakan pelibatan PT Perusahaan Pengelola Aset/PPA (Persero) dalam proses restrukturisasi perusahaan baja pelat merah tersebut. Apalagi, Krakatau Steel menjadi salah satu prioritas Menteri BUMN sehingga setiap pekan bahkan lebih dari sekali telah dilakukan review, follow up atas progres dalam rangka proses penyehatan Krakatau Steel.

Alhasil, kini terkait restrukturisasi utang, proses dengan kreditur mengarah ke hasil yang positif sehingga perseroan akan mendapatkan relaksasi pembayaran utang. Terdapat empat bank yang masih melakukan proses restrukturisasi. Proses restrukturisasi utang itu ditangani secara intensif oleh perseroan dan Kementerian BUMN.

Berdasar laporan keuangan Krakatau Steel hingga kuartal III-2019, pendapatan KRAS menurun 17,32% year on year (yoy) menjadi US$ 1,05 miliar. Pada kuartal III 2019, KRAS juga mencatatkan kerugian sebesar US$ 211,91 juta, membengkak dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar US$37,38 juta. Pembengkakan rugi bersih ini didorong oleh restrukturisasi utang yang mencapai puncaknya di semester I-2019, serta banjir impor baja yang sudah terjadi selama 1,5 tahun terakhir.

Menurut analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, pergerakan saham KRAS ke depannya masih akan berat.Pasalnya, komitmen KRAS dalam merestrukturisasi utangnya setahun belakangan ini belum mampu mengerek kinerja. Kata Nafan, jika komitmen restrukturisasi utang itu memang ditujukan untuk jangka panjang, maka ke depannya Krakatau Steel bisa lebih fokus pada teknologi metalurgi yang digunakan.

Sehingga kualitas baja yang diproduksi meningkat dan dapat bersaing dengan produk-produk baja impor. Mengingat, selama ini tantangan industri baja dalam negeri adalah harga dan kualitas yang kurang bersaing dengan produk impor. Selain teknologi, infrastruktur pun menjadi poin penting sehingga baja lokal bisa bersaing dengan produk impor.

BERITA TERKAIT

Geliatkan Transaksi Pasar ETF - BEI Berikan Insentif Hapus Biaya Transaksi

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan pasar exchange traded fund (ETF), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berbenah melakukan pembangunan infrastruktur,…

Pertebal Likuiditas - Adhi Karya Rencanakan Rights Issue dan PMN

NERACA Jakarta – Geliatnya pembangunan infrastruktur yang tengah di bangun pemerintah memacu PT Adhi Karya (Perseo) Tbk (ADHI) untuk mengembangkan…

Maybank Indonesia Cetak Laba Rp 1,8 Triliun

NERACA Jakarta – Pendapatan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) sepanjang tahun 2019 kemarin tumbuh 3,7% menjadi Rp10,8 triliun,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Peran Teknologi Mampu Pangkas Disparitas Pendidikan

Pesatnya pertumbuhan teknologi digital mempunyai nilai plus dan minus. Namun hal tersebut bagaimana kita menyikapinya. Begitu juga dengan dunia pendidikan,…

Hadir di Muslim Fashion Festival - BNI Syariah Tebar Beragam Promo Menarik

BNI Syariah menawarkan beberapa promo menarik dalam acara Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2020. MUFFEST 2020 diselenggarakan di Cendrawasih Room dan…

Geliatkan Transaksi Pasar ETF - BEI Berikan Insentif Hapus Biaya Transaksi

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan pasar exchange traded fund (ETF), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berbenah melakukan pembangunan infrastruktur,…