GMFI Targetkan Laba Bersih Tumbuh 10%

NERACA

Jakarta – Anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) mengalokasikan belanja modal tahun ini sebesar US$ 50 juta. Dimana belanja modal tersebut dimaksudkan untuk memenuhi target bisnis sepanjang tahun ini yang menargetkan pertumbuhan laba bersih 10%.

Direktur Utama GMFI, Tazar Marta Kurniawan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa mengatakan, besaran belanja modal tersebut sebagian besar dialokasikan untuk ekspansi bisnis baik secara organik dan non-organik.“Tahun ini kami optimistis akan ada peningkatan untuk pendapatan dari group seiring dengan rencana penambahan armada di tahun ini. Dari non Group, tahun ini kami menargetkan pekerjaan redelivery meningkat menjadi 35 proyek dari sebelumnya 14 proyek di tahun 2019,” ujarnya.

Dia menambahkan, perseroan menargetkan pendapatan dapat tumbuh sekitar lima persen. Dimana target kenaikan pendapatan di tahun ini akan diikuti langkah efisiensi seperti mengoptimalkan kapabilitas yang dimiliki dan juga memaksimalkan penggunaan Part Manufacturing Approval (PMA). Tazar yakin melalui efisiensi yang sejalan dengan ekspansi bisnis, GMFI optimistis dapat kembali memperkuat kiprahnya di dunia.

Target pendapatan tersebut seiring dengan ekspektasi peningkatan aktivitas penerbangan untuk group serta terus tumbuhnya perolehan pendapatan dari perawatan pesawat Non-Group.”Pelanggan kami dari non-group terus meningkat, terkhusus maskapai penerbangan internasional, ini yang akan menjadi fokus kami ke depan”, katanya.

Dalam waktu dekat, perseroan juga akan menambah kapasitas operasional dengan menargetkan pengoptimalan hangar di Denpasar, Surabaya, dan Pondok Cabe.“Penambahan ini untuk mengakomodasi kenaikan order di tahun ini mengingat kondisi utilitas hangar saat ini yang telah mencapai 100 persen,” ujar Tazar.

Sepanjang 2019, kinerja perseroan mendapat tantangan dari turunnya jam terbang pesawat domestik, termasuk yang dialami group sendiri, Garuda dan Citilink.“Faktor perubahan finansial juga menjadi salah satunya, di mana tantangan yang dihadapi maskapai di seluruh penjuru dunia saat ini berujung pada pelanggan yang mengalami kesulitan bayar, yang mana hal tersebut juga berdampak bagi operasional GMFI,”kata Tazar.

Selain itu, peningkatan proporsi bisnis mesin pesawat yang bersifat material intensive dan technology intensive juga berkontribusi terhadap kenaikan beban material dan subcontract. Namun, di 2019 GMF berhasil menduduki posisi Top 9 Global Airframe MRO yang dianugerahi oleh Aviation Week dengan survei terhadap jam kerja, di mana GMF berhasil mencapai angka 3,2 juta manhour sold.

BERITA TERKAIT

Geliatkan Transaksi Pasar ETF - BEI Berikan Insentif Hapus Biaya Transaksi

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan pasar exchange traded fund (ETF), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berbenah melakukan pembangunan infrastruktur,…

Pertebal Likuiditas - Adhi Karya Rencanakan Rights Issue dan PMN

NERACA Jakarta – Geliatnya pembangunan infrastruktur yang tengah di bangun pemerintah memacu PT Adhi Karya (Perseo) Tbk (ADHI) untuk mengembangkan…

Maybank Indonesia Cetak Laba Rp 1,8 Triliun

NERACA Jakarta – Pendapatan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) sepanjang tahun 2019 kemarin tumbuh 3,7% menjadi Rp10,8 triliun,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Peran Teknologi Mampu Pangkas Disparitas Pendidikan

Pesatnya pertumbuhan teknologi digital mempunyai nilai plus dan minus. Namun hal tersebut bagaimana kita menyikapinya. Begitu juga dengan dunia pendidikan,…

Hadir di Muslim Fashion Festival - BNI Syariah Tebar Beragam Promo Menarik

BNI Syariah menawarkan beberapa promo menarik dalam acara Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2020. MUFFEST 2020 diselenggarakan di Cendrawasih Room dan…

Geliatkan Transaksi Pasar ETF - BEI Berikan Insentif Hapus Biaya Transaksi

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan pasar exchange traded fund (ETF), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berbenah melakukan pembangunan infrastruktur,…