Industri Pakan Ternak “Teriak”, Pemerintah Ancang-ancang Impor Jagung

NERACA

Jakarta – Pemerintah berencana melihat kondisi stok jagung di seluruh wilayah Indonesia. Jika stok sudah menipis, maka pemerintah akan keluarkan izin impor jagung yang sudah diminta oleh industri pakan ternak.

Menteri Pertanian Suswono mengakui pihaknya sudah menerima surat dari industri pakan ternak yang meminta izin impor jagung segera dibuka, karena stok jagung untuk bahan baku pakan ternak akan habis pada akhir bulan ini. "Yang jelas, saya sudah menerima surat itu. Namun, bukan untuk impor yang sekarang, tetapi (impor jagung) untuk pasokan kebutuhan pabrik pakan ternak pada 2 bulan yang akan datang," ujarnya di Jakarta, Rabu (18/4).

Dia menuturkan industri pakan ternak menyatakan akan kesulitan bahan baku jagung untuk 2 bulan yang akan datang. "Dia (industri pakan ternak) akan kesulitan (bahan baku) pada 2-3 bulan ke depan kalau tidak ada izin impor (jagung) dari sekarang. Oleh karena itu, mereka minta kepastian," jelasnya.

Suswono menuturkan pihaknya akan meminta data produksi dan stok jagung saat ini dari seluruh dinas pertanian yang menjadi sentra produksi jagung. Bahkan, panen jagung di Dompu, Maluku, katanya, masih berlangsung hingga saat ini. Namun, jika fakta di lapangan, kondisi pasokan jagung sulit, maka pihaknya akan memberikan izin impor jagung kepada pabrik pakan ternak.

Untuk memberikan izin impor jagung, menurut dia, maka harus melihat kepastian pasokan jagung di lapangan, sehingga impor hanya untuk menutupi kekurangan."Potensi dari dalam negeri berapa? Kalau sudah ada dan dapat dihubungkan dengan pabrik ternak, maka akan lebih baik," urainya.

Harga Naik

Sebelumnya, peternak ayam broiler mulai khawatir dampak kenaikan harga bahan baku pakan ternak, yaitu jagung. Jika harga jagung terus naik, maka harga jual bibit ayam atau day old chicken (DOC) bakal ikut naik karena ongkos produksi yang semakin membengkak. Karena itu, Gabungan Organisasi Peternak Ayam (Gopan) memprediksi kenaikan harga pakan berpotensi mengancam daya saing peternak dalam negeri.

Ketua Gopan Tri Hardiyanto menuturkan, pemerintah harus mengambil peran yang strategis agar dapat menekan harga pakan ternak untuk melindungi daya saing peternak. Sementara Ruri Sarosono, Sekretaris Jenderal Gopan mengatakan, saat ini harga DOC di wilayah Jawa masih relatif stabil dibandingkan daerah Indonesia Timur. “Wilayah Jawa dijual sekitar Rp 3.750 hingga Rp 4.000 per ekor, namun daerah lain sudah naik menjadi Rp 4.500 per ekor,” kata Ruri.

Namun begitu, gejolak harga jual DOC sangat berkorelasi dengan perkembangan harga pakan. Saat ini, harga pakan sudah mencapai Rp 5.300 per kg atau naik 6% dari harga normal Rp 5.000 per kg. Ruri menjelaskan, harga pakan bergantung dari harga jagung. Sekarang ini, harga jagung mencapai Rp 2.500 per kg, padahal bulan lalu hanya Rp 1.800 per kg.

Ruri memprediksi, jika harga jagung tidak terkendali, maka harga DOC di Pulau Jawa bisa naik menjadi Rp 4.500 per ekor atau naik 12,5% dibandingkan harga normal sebesar Rp 4.000 per ekor. “Saat jagung anjlok, harga pakan tidak turun. Namun giliran harga jagung naik, harga pakan ikut naik,” imbuhnya.

Bea Impor

Pemerintah akan menerapkan bea impor bahan baku pakan ternak sebesar 5%. Kebijakan ini dinilai akan berdampak besar kepada para peternak ayam. Misalnya, harga daging ayam dan telur diprediksi akan melonjak hingga 10-15%. “Kenaikan bea impor akan membebani para peternak unggas. Para peternak akan menaikan harga jual daging dan telur ayam,” kata Seketaris DPP Pengusaha Peternak Unggas Indonesia (PPUI) Aswin Pulungan.

Lebih parah lagi, Aswan khawatir akan terjadinya gulung tikarnya peternak rakyat. Pasalnya, daya beli masyarakat akan menurun. “Jumlah peternak rakyat di Indonesia saat ini ada sekitar 2.500 peternak rakyat. Saya khawatir 30% akan gulung tikar,” sebutnya.

Namun, kenaikan harga daging dan telur ayam hingga 10-15% itu diprediksi akan meningkat lagi jika pemerintah menaikan harga Tarif Dasar Listrik (TDL) dan pembatasan BBM bersubsidi. Aswin menyebutkan, harga pakan ternak unggas memang terus melonjak. Pada November lalu harga pakan Rp4.800 per kilogram. “Saat ini harganya mencapai Rp5.200 per kilogram,” jelasnya.

Lebih jauh Aswin mengaku mendukung kebijakan kenaikan bea impor. Sebab, pemerintah bisa menghasilkan pendapatan negara. Selain itu, sekira 70 % peternak ayam di Indonesia merupakan Penanam Modal Asing (PMA). Saat ini jumlah peternak unggas mencapai 25.000 peternak dan 70 persen di antaranya PMA.

“Saya mendukung daripada PMA yang untung karena perputaran bisnis peternakan unggas (daging dan telur) mencapai Rp130 triliun per tahun. PMA kerap memanfaatkan para peternak mitranya untuk menekan pemerintah,” urainya.

Related posts