Kemenperin Bina 8 Ribu Santripreneur

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong roda industry, baik skala industry kecil menengah (IKM) ataupun industry besar. Bahkan saat ini Kemenperin pun telah membina 8 ribu santripreneur.

NERECA

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah mencetak wirausaha industri baru dari lingkungan pondok pesantren (Ponpes) melalui program Santripreneur. Lulusan ini diharapkan dapat turut menumbuhkan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang ujungnya akan mendorong roda perekonomian nasional.

“Sejak tahun 2013 hingga saat ini, kami telah melakukan pembinaan kepada 46 Ponpes yang tersebar di tujuh provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Lampung, Kalimantan Timur, dan Banten dengan jumlah peserta yang dibina sebanyak 8.128 santri,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menegah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih.

Lebih lanjut, Gati menjelaskan, Kemenperin fokus untuk terus menelurkan wirausaha industri baru khususnya sektor IKM. Hal ini guna merebut peluang dari bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia hingga tahun 2030.

“Upaya ini sejalan juga dengan implementasi dari roadmap Making Indonesia 4.0,” tegas Gati.

Lebih dari itu, Gati menyebutkan, sepanjang tahun 2019, program Santripreneur telah menjangkau 21 Ponpes dan membina sebanyak 4.700 santri. Ke-21 Ponpes tersebut meliputi enam di wilayah Jawa Timur, tiga di Jawa Tengah, delapan di Jawa Barat, dan empat di Banten.

“Mereka telah kami bekali pengetahuan, motivasi kewirausahaan, serta pelatihan produksi industri. Kami juga memberikan bantuan mesin dan peralatan produksi sesuai bidang usaha yang ditekuni di Ponpes tersebut,” tutur Gati.

Tidak hanya itu, Gati mengakui bahwa Kemenperin pun memfasilitasi mesin dan peralatan. Antara lain untuk pengolahan sampah serta produksi sepatu hingga batako. “Selain itu untuk produksi konveksi, pangan, makanan dan minuman, kerajinan, pupuk organik cair, kosmetik, serta perbengkelan,” sebut Gati.

Gati pun menjelaskan,program Santripreneur sudah berhasil diterapkan dengan baik sampai saat ini oleh Ponpes yang mendapatkan pembinaan dan pelatihan. Contohnya adalah pelatihan produksi alas kaki di Ponpes Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada tahun 2017.

“Di Ponpes itu sudah mampu menghasilkanunit industri alas kaki yang memproduksi lebih dari 4.000 pasang sandal jepit spon per bulan,” ungkap Gati.

Di samping itu, dari pelaksanaan bimbingan teknis perbengkelan roda dua di Ponpes Suryalaya, Tasikmalaya, sudah berhasil membuat alumninya membuka usaha bengkel sendiri.

“Bahkan, bimtek pengembangan unit usaha kopi di Ponpes Al Ittifaq, Bandung yang dalam jangka waktu sebulan dari pelatihan, koperasi di Ponpes tersebut berhasil meningkatkan nilai jual produk kopinya,” tambah Gati.

Sebelumnya, Koperasi Ponpes Al Ittifaq hanya menjual kopi dalam bentuk ceri (buah) senilai Rp6.000 per kilogram (kg). Namun, setelah diberikan pembinaan dan fasilitasi mesin peralatan, saat ini telah mampu memproduksi kopi roasting dengan harga Rp250 ribu per kg.

“Tidak hanya coffee roasting, mereka juga kini mampu memproduksi kemasan kopi dengan merek kopinya sendiri. Ini tentu anugerah yang harus kita syukuri bersama. Program ini berhasil melahiran Santripreneur yang sangat berpotensi. Kami optimistis Ponpes mampu mendukung pengembangan IKM nasional yang berdaya saingdi kancah global,” papar Gati.

Ke depan, Gati optimis akan terus membina dan melatih para santri di seluruh wilayah Indonesia melalui program bimbingan teknis serta memfasilitasi pemberian bantuan alat dan mesin untuk bekal para santri tersebut belajar mandiri sebelum terjun ke masyarakat.

“Kami meyakini, para santri generasi muda akan mampu menjadi agen perubahan yang strategis dalam membangun bangsa dan perekonomian Indonesia di masa mendatang,” tegas Gati.

Tidak hanya membina santripreneur, Gati mengakui Kemenperin pun mendorong perkembangan peranan perempuan dalam bidang usaha, termasuk industri kecil menengah (IKM). Sebab, dari jutaan IKM di Indonesia, hampir seluruhnya memiliki campur tangan atau dikelola langsung oleh perempuan.

Seperti diketahui, saat ini ada sekitar 4,4 juta pelaku usaha Industri Kecil dan Menengah (IKM). Dari jumlah tersebut, hampir 50 persen bergerak dibidang makanan dan minuman. "Pengelolanya hampir 90 persen perempuan. IKM paling banyak memang perempuan. Kita juga mengajarkan IKM online, berdagang secara online," ujar Gati.

Gati menambahkan, banyaknya perempuan yang berusaha di IKM, mau tidak mau perempuan Indonesia memegang peranan penting di perekonomian.

"Srikandi Indonesia harus bergabung bersama-sama membangun bangsa. Selain dengan EO Womenpreneur kita sinergi dengan organisasi lainnya. Kita kemarin kordinasi dengan IPEMI, Iwapi dan Kowani. Jadi memang perempuan ini ada yang tampil, ada juga yang dibelakang panggung," beber Gati.

Pemerintah kata Gati, sebenarnya tidak membedakan secara fisik. Namun memang di lapangan paling banyak perempuan. "Ada 7 ribu sentra yang kami lakukan pembinaan. Kita kerja sama dengan pemda. Kita juga lakukan pelatihan-pelatihan di Kemenperin," jelas Gati.

Gati menambahkan, pihaknya pada tahun ini menargetkan 20 ribu wirausaha baru. Target itu sudah tercapai lebih dari 100 persen. "Sekarang 20.800 wirausaha baru, lebih banyak dari target. Wirausaha itu paling banyak perempuan," jelas Gati.

BERITA TERKAIT

Impor Sampah Harus Dikaji Ulang

NERACA Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Budisatrio Djiwandono meminta agar kegiatan impor sampah plastik untuk digunakan sebagai…

Korporasi Harus Sejahterakan Masyarakat

NERACA Jambi - Pemerintah harus hadir untuk memastikan bahwa aktivitas korporasi tidak mencemari lingkungan sekitar dan juga tidak mengorbankan kesejahteraan…

Pemerintah Kurangi Impor dan Pacu Utilisasi

NERACA Jakarta - Pemerintah bertekad semakin serius untuk membina dan membangun industri baja nasional, baik itu yang berstatus Badan Usaha…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

KLHK Dukung Omnibus Law, Komisi IV DPR Berharap Pemerintah Berhati-hati

Jakarta – Beanar, bahwa saat ini pemerintah tengah menggodok RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Banyak pihak yang mendukung tapi tidak…

Pemerintah Pastikan RUU Cipta Kerja Selaras Dengan Koridor Konstitusi

NERACA RUU Cipta Kerja bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, sejahtera. Hal ini dilakukan melalui upaya memenuhi hak warga…

Pemerintah Dorong Investasi Berkelanjutan Sektor Pertanian di Papua Barat

NERACA Sorong - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Investasi Hijau untuk Provinsi Papua dan Papua Barat,…