Darmin Sempat “Marah” Soal Danamon - Lemah Deteksi Dini

NERACA

Jakarta---Gara-gara aksi Bank DBS mengakuisi PT Bank Danamon Indonesia, Tbk (BDMN) buntutnya manajemen Bank Indonesia (BI) dinilai tak mampu melakukan pendeteksian sejak awal. "Bank Danamon oleh DBS kita tahunya dari bisnis plan dua bank itu. Saya sampai ditegur oleh Pak Darmin, kenapa tidak bisa mendeteksi dini," kata Deputi BI Direktur Pengawasan Bank Endang Kusulanjari di Jakarta,18/4.

Namun Darmin meminta, kata Endang, ke depan jangan sampai hal seperti itu tak bisa lagi terdeteksi lebih dini. “Saat ini banyak sekali bank di Indonesia yang kepemilikannya oleh asing, contoh nyatanya adalah Bank Danamon,” tambahnya.

Endang menambahkan saat ini BI telah melakukan sejumlah langkah konkret guna mengantisipasi aksi DBS selanjutnya terkait akuisisi Bank Danamon. Masalahnya, nasabah harus diproteksi. Demikian pula agar negara jangan terkena dampaknya. “Karena bank itu tempat menghimpun dana dari masyarakat sehingga harus ada proteksi yang jelas. Kalau sampai ada apa-apa yang terjadi, yang dirugikan masyarakat dan imbasnya kepada negara," terangnya.

Lebih jauh Endang mengakui akuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) oleh Bank DBS Group Ltd ternyata tidak terdapat dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) kedua bank tersebut. "Sebenarnya bukan miss, di informasi kedua bank itu tidak ada. Kita sudah menanyakan apakah ada corporate action atau tidak, ternyata memang tidak ada," tuturnya.

Namun lanjut Endang, dengan adanya pertemuan yang sudah dilakukan oleh kedua bank beberapa waktu lalu, yang menandai akuisisi tersebut. Yang jelas, Endang memastikan tidak akan ada sanksi yang akan diberikan meskipun aksi korporasi tersebut belum tercantum di Rencana Bisnis Bank (RBB).

Dia kembali memastikan, tidak bisa langsung menyetujui apabila ada rencana strategis dari perbankan, namun rencana strategis tersebut belum tercantum dalam RBB. "Karena kita selalu melihat apakah RBB itu strategis atau tidak, itu kan sudah menjadi tugas dari direktur pengawasan bank," akunya.

Menurut Endang, setiap perbankan diharuskan memasukkan rencana bisnisnya jika ada aksi korporasi yang dianggap strategis. Untuk kasus DBS dan Bank Danamon ini, dia menyatakan jika kedua bank masih bisa melakukan kajian lebih lanjut untuk ke depannya. "Kalau tidak dimasukkan tidak disetujui, tapi kan mereka punya pertimbangan juga untuk me-review, pertengahan tahun," tegasnya

Namun Endang enggan berbicara lebih jauh, apakah aksi korporasi tersebut bisa disetujui oleh BI jika kedua bank melakukan revisi RBB pada pertengahan tahun nanti. "Belum tahu juga, masih akan dikaji lagi ya," imbuhnya

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Danamon Tbk (Danamon) Henry Ho mengatakan tetap fokus dan memperkuat sektor mikro meski telah diambil alih DBS Holdings. Danamon menargetkan pertumbuhan kredit mikro bisa mencapai 20% di 2012. "Iya (dibawah DBS) kita masih akan fokus pada mikro dan itu bisnis kita. Kami akan memperkuat Danamon dalam kredit mikronya," ungkapnya

Di samping kredit mikro, Henry Ho mengatakan kredit konsumer juga terus didorong untuk terus tumbuh. Porsi kredit konsumer Danamon akan dipatok hingga 30% di samping kredit mikro yang mencapai 70%. "Kredit mikro sekitar mendekati sekitar 70%. Jadi kita melanjutkan untuk investasi (pengucuran kredit) pada kredit mikro. Kamu bisa ketahui, DBS itu kuat dalam bisnis (penyaluran kredit) makro, jika kita gabung bisnis kita menjadi lebih luas, DBS fokus dan kuat pada kredit korporasi," paparnya.

Seperti diketahui, pada akhir kuartal pertama 2012, total kredit Danamon mencapai Rp 106 triliun atau tumbuh 23% dibandingkan dengan Rp 86 triliun pada kuartal pertama tahun lalu.

Pertumbuhan kredit yang kuat ini didorong oleh pertumbuhan di segmen mass market, yang mencakup kredit kepemilikan kendaraan bermotor, perabotan rumah tangga (durable goods), dan kredit kepada nasabah wirausahawan kecil (self-employed mass market).

Kredit segmen mass market ini mencatat pertumbuhan sebesar 23% pada kuartal pertama 2012 dibanding periode yang sama tahun lalu. Kredit dari segmen wholesale mencatat pertumbuhan sebesar 29% dan kredit dari segmen Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Komersil (Small Medium Enterprises and Commercial/SMEC) mencatat pertumbuhan sebesar 22%. Sementara itu, pembiayaan yang disalurkan oleh unit bisnis ABF (Assets Based Financing) Danamon tumbuh sebesar 53%. **cahyo

Related posts