Laporan BPS, Ekspor Pertanian Paling Tinggi

NERACA

Jakarta – Setiap awal tahun sudah menjadi tugas Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melaporkan data ekspor dan impor di tahun sebelumnya. Adapun untuk ekspor tertinggi di tahun 2019 di pegang oleh ekspor non minyak dan gas (migas) dalam hal ini sektor pertanian.

Kepala Bada Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memyampaikan data terbaru mengenai hasil ekspor Indonesia yang mengalami peningkatan. Satu diantaranya adalah sektor pertanian. Sektor ini tercatat menyumbang angka cukup besar selama periode Desember, yakni US$ 370 juta atau naik sebesar 24,35 persen.

"Dari semua sektor yang ada, sektor pertanian menyumbang US$ 370 juta atau naik sebesar 24,35 persen selama bulan Desember lalu," ujar Suhariyanto.

Lebih lanjut, menurut Suhariyanto, kenaikan juga dialami sektor lainya seperti migas, industri dan sektor pertambangan. Secara keseluruhan, total nilai yang ada mencapai US$ 14,47 miliar.

Tidak hanya itu, ekspor pertanian mengalami kenaikan sebesar 4,42 persen . Kenaikan ini bahkan terjadi disaat sektor lainya mengalami penurunan. Adapun total transaksi yang dihasilkan pada lalu lintas ekspor ini mencapai US$ 330 juta atau 4,62 triliun.

"Sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor non migas yang mengalami kenaikan ekspor. Sedangkan pada industri pengolahan dan pertambangan masing-masing mengalami penurunan sebesar 1,66 persen dan 19,09 persen," kata Suhariyanto.

Selain itu, Suhariyanto mengakui secara nilai, total ekspor pertanianmengalami kenaikan. Tahun lalu nilainya hanyaUS$ 320,1 juta, namun saat ini totalnya US$ 334,3 juta.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian, Syahril Yasin Limpo mengatakan mengajak generasi milenial untuk menjadi bagian dari GRATIEKS “Gerakan Tiga Kali Ekspor Pertanian”.

Sebab semangat muda yang dimiliki kaum milenial harus menjadi dorongan postitif bagi pembangunan pertanian Indonesia, terutama dalam peningkatan ekspor pertanian yang akan mempengaruhi perekonomian negara.

Sehingga dalam hal ini diharapkan generasi milenial memiliki ciri berpikir strategis, inspiratif, inovatif, energik, antusias, dan fasih mengadopsi teknologi digital dalam beragam aspek bisnis sehingga diprediksi menjadi pembawa pembaruan dalam pembangunan pertanian.Syahrul berharap kaum muda bisa dimaknai sebagai benteng pembangunan pertanian, terutama dalam hal peningkatan ekspor pertanian.

“Dengan kekayaan alam yang kita punya, sekarang tinggal bagaimana kita dapat menghadirkan kecerdasan mengolah itu” ungkap Syahrul.

Menurut catatan Kementerian Pertanian, komoditas yang memang terbukti mengalami peningkatan ekspor seperti komoditas perkebunan seperti kopi, kelapa sawit dan lainnya. Bahkan sarang burung walet, dan rumput laut, juga turut andil dalam peningkatan ekspor.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Bio Industri, Kementerian Pertanian, Bambang mengungkapkan dari angka ekspor perkebunan itu, perlu ada penguatan terhadap perkebunan melalui korporasi. Ini penting mengingat sebagian besar lahan perkebunan yang ada di Indonesia mayoritas dimiliki oleh petani. Artnya petani ikut andil dalam penyumbang devisa perkebunan yang nilainya tidaklah kecil.

“Hanya dengan kemitraan atau koroporasilah (petani-red) perkebunan bisa terangkat mengingat luas perkebunan di Indonesia mayoritas dikuasai oleh rakyat,” himbau Bambang.

Lebih dari itu, Bambang mengakui hanya dengan melakukan kemitraanlah maka dapat meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat. Dan hanya dengan melakukan kemitraan jugalah industri pengolahan di dalam negeri bisa memenuhi pasokan atau bahan baku sesuai dengan kriterianya.

Bahkan Kementan pun telah menerbitkan Permentan 18/2018 tentang Pedoman Pembangunan kawasan Pertanian Berbasis Korporasi. Untuk mengimplementasikan Permentan tersebut, dikembangkan komoditas kakao berbasis korporasi.

Dalam hal ini yang terpenting yaitu, membangun sinergi antara petani, pemerintah daerah, pusat dan universitas serta lembaga riset guna bersama-sama mendorong kebangkitan petani.

“Jadi kelembagaan petani harus kuat dan terus berinovasi untuk meningkatkan keterampilan petani. Kelembangaan ini adalah kunci pembangunan pertanian yang berkelanjutan berbasis korporasi. Petani tidak hanya memproduksi, tapi juga mampu menciptakan produk akhir serta hingga memasarkan sendiri,” pungkas Bambang.

BERITA TERKAIT

Indonesia Menjadi Negara Maju, AS Keluarkan Kriteria Baru Negara Berkembang

NERACA Jakarta - US Trade Representative (USTR) memperketat kriteria negara berkembang yang berhak mendapatkan pengecualian de minimis dan negligible import…

LPDB Sebut KUD Tani Jaya Jadi Koperasi Percontohan

NERACA Mojokerto - Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Jaya di Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur, menjadi contoh bagi koperasi lain di…

Krakatau Steel Siap Restrukturisasi

NERACA Jakarta – Demi mendukung kinerja, PT Krakatau Steel (persero) Tbk melakukan restrukturisasi bisnis, dan diharapkan akan selesai di September…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Impor Sampah Harus Dikaji Ulang

NERACA Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Budisatrio Djiwandono meminta agar kegiatan impor sampah plastik untuk digunakan sebagai…

Korporasi Harus Sejahterakan Masyarakat

NERACA Jambi - Pemerintah harus hadir untuk memastikan bahwa aktivitas korporasi tidak mencemari lingkungan sekitar dan juga tidak mengorbankan kesejahteraan…

Pemerintah Kurangi Impor dan Pacu Utilisasi

NERACA Jakarta - Pemerintah bertekad semakin serius untuk membina dan membangun industri baja nasional, baik itu yang berstatus Badan Usaha…