Ancaman Krisis Pangan Patut Diantisipasi

Saat ini ada dua arus persoalan utama yang dihadapi Indonesia. Pertama, persoalan energi yang hingga cukup pelik , bahkan kebijakannya memicu kontroversi. Kedua, persoalan pangan. Ancaman ini bisa menjadi mimpi buruk jika tidak segera diselesaikan dengan baik. Ketersediaan pangan menjadi persoalan strategis di Indonesia, mengingat sebagian besar penduduk kita masih menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

Tidak hanya itu. Proporsi pendapatan rumah tangga di Indonesia yang dibelanjakan untuk pangan masih tinggi, sekitar 50%. Coba bandingkan dengan Amerika Serikat, di mana ketergantungan pada pangan terhadap pendapatan riil penduduknya yang hanya sekitar 10%. Jelas konsekuensinya sangat berbeda. Kenyataan ini terkait langsung dengan ketergantungan terhadap ketersediaan stok pangan.

Selain itu, juga terjadi lonjakan kemiskinan akibat kenaikan harga pangan. Dari total penduduk Indonesia 237,6 juta, diantaranya 65,34 juta jiwa rentan rawan pangan atau sekitar 27,5% dari penduduk. Ini yang membuat PBB merilis bahwa harga pangan yang tinggi sangat berpengaruh terhadap jutaan orang miskin di Asia-Pasifik, termasuk di Indonesia.

Jika kenaikan harga pangan tidak dapat diatasi, pertumbuhan Indonesia tahun ini sekitar 6,7% tidak banyak manfaatnya. Bahkan, hanya memperlebar jurang ketimpangan. Apalagi kandungan impor terhadap konsumsi pangan domestik kini sudah mencapai 60%, bahkan lebih. Dampaknya bisa ditebak, fasilitas impor akan menjadi bumerang jika terjadi lonjakan harga pangan dan kerentanan stok di luar negeri.

Dari kondisi tersebut, setidaknya ada dua persoalan utama pangan yang harus diselesaikan tahun ini. Pertama, mengatasi fluktuasi harga pangan khususnya beras. Kedua, meningkatkan produktivitas pertanian di dalam negeri agar kebiasaan impor pangan menjadi berkurang.

Ancaman harga sejatinya bukan masalah baru, semenjak tahun 2010 hingga beberapa tahun ke depan diperkirakan masih berpengaruh besar dalam perjalanan ekonomi kita. Sepanjang tahun 2011 saja, harga beras melambung melampaui inflasi. Rata-rata harga beras naik 13,2%, sementara inflasi hanya 3,79%.

Dari segi produktivitas, khususnya beras, produksi tahun 2011 hanya 49,4 kw/ha atau turun dari tahun 2010 sebesar 50,1 kw/ha, di tahun 2009 juga sebesar 49,99 kw/ha. Sedangkan di tahun ini diperkirakan kenaikan produksi tak lebih dari 3,5% karena tingkat produktivitas lahan rata-rata yang rendah jika dikalikan dengan total luas panen.

Padahal di sisi lain, anggaran yang disediakan melonjak cukup tajam. Pada tahun 2009 total anggaran pertanian Rp8,2 triliun dan tahun ini meningkat menjadi Rp17,8 triliun. Selain itu, kasus impor juga patut menjadi perhatian bersama, jangan lagi impor pangan menjejali pasar di negeri ini.

Beberapa langkah yang diharapkan dapat menetralkan krisis pangan antara lain masalah rendahnya produktivitas harus diatasi melalui kebijakan nonharga. Kebijakan ini sangat penting khususnya dalam menyediakan input produksi, program pencetakan sawah baru, infrastruktur, juga perbaikan logistik nasional sebagai upaya pengintegrasian sentra produksi dari berbagai daerah. Kebijakan ini harus menjadi prioritas karena lebih berdampak jangka panjang. Bila diabaikan, target produksi seperti beras dalam program surplus beras 10 juta ton di tahun 2014 hanya impian belaka.

Related posts