JFX Bakal Rilis Produk Kontrak Palm Oil - Bidik Transaksi Tumbuh 24%

NERACA

Jakarta – Berhasil mencatatkan pencapaian yang positif sepanjang tahun lalu, mendorong PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) untuk mematok target bisnis lebih agresif lagi. Bila di tahun lalu, berhasil mencatatkan pertumbuhan volume perdagangan 18% atau lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018. Maka di tahun ini, JFX mematok target pertumbuhan transaksi rata-rata kontrak 24%-31%.

Kata Direktur Utama BBJ, Stephanus Paulus Lumintang, untuk menyokong target tersebut, pihaknya akan merilis kontrak palm oil. “Dengan inovasi yang akan dijalankan JFX khususnya kontrak komoditas berbasis palm oil, diharapkan dapat memicu tumbuhnya transaksi,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjutnya, BBJ menargetkan kontrak multilateral naik menjadi 1,75 juta lot atau naik 24% dari tahun lalu. Sedangkan kontrak bilateral ditargetkan mencapai 7,25 juta lot atau naik 31% dari tahun 2019. Tercatat sepanjang tahun 2019 kemarin, JFX mencatatkan volume transaksi sebesar 7,94 juta lot. Nilai tansaksi mencapai kurang lebih Rp 9.683,14 triliun.

Stephanus Paulus Lumintang menyebut, pertumbuhan transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK) di JFX melampaui target yang ditetapkan sepanjang 2019. Kenaikan transaksi ini didorong oleh sentimen perang dagang dan gejolak harga komoditas. “Perkembangan 2019 transaksi PBK di JFX sangat menggembirakan yang mencapai hampir 8 juta lot, di atas target yang ditetapkan sebesar 6,6 juta lot," kata Paulus.

Pertumbuhan positif juga dapat dilihat dari volume transaksi untuk kontrak multilateral yang meningkat 9,89%menjadi 1,47 juta lot dari sebelumnya 1,33 juta lot atau tumbuh 9,89%. Begitu pula dengan kontrak bilateral yang tumbuh signifikan 20% menjadi 6,48 juta lot dari sebelumnya 5,40 juta lot. Nilai transaksi kontrak multilateral mencapai Rp 202,22 triliun. Sementara nilai transaksi bilateral mencapai angka Rp 9.480,9 triliun.

Kontrak emas tercatat jadi sumber pundi-pundi kontrak multilateral sepanjang 2019. Kontrak emas mengontribusi 49,04% dari keseluruhan volume kontrak multilateral. Kontribusi terbesar kedua adalah kontrak kopi yang mencapai 29,37% dari volume multilateral, disusul oleh kontrak olein sebesar 22,9% dan kontrak kakao sebesar 2,69% dari keseluruhan kontrak multilateral.

BERITA TERKAIT

Rampungkan Rights Issue - Glencore Akuisisi Saham CITA Rp 1,19 Triliun

NERACA Jakarta – Di tengah melorotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring dengan sentien virus…

Bentuk Manajemen Baru - Saham AISA Dipastikan Tidak Didelisting

NERACA Jakarta – Resmi terbentuknya manajemen baru pasca tersandung masalah hukum hingga berujung suspensi saham yang berkepanjangan, kini manajemen PT…

Gelar Rights Issue - Bank Banten Bidik Dana di Pasar Rp 1,2 Triliun

NERACA Jakarta – Masih negatifnya kinerja keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS), tidak menyurutkan rencana aksi korporasi perseroan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Mudahkan Pengembang Cari Modal - DPD REI DKI Targetkan Lima Anggotanya IPO

NERACA Jakarta –Dorong pertumbuhan emiten di pasar modal, Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta mengajak anggotanya yang merupakan perusahaan pengembang…

Ketatnya Kompetisi Pasar Mobil - Pendapatan Astra Internasional Terkoreksi Tipis 1%

NERACA Jakarta – Tahun 2019 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi bisnis PT Astra Internasional Tbk (ASII). Pasalnya, sentimen melorotnya…

IHSG Merana Karena Corona - BEI Cermati Pasar Hingga Protokol Krisis

NERACA Jakarta – Tren penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak Senin awal pekan kemarin sebagai respon sentimen negatif virus…