Profit Taking Tekan IHSG di Zona Merah

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Rabu (15/1), indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pasca rilis data neraca perdagangan Desember yang mengalami defisit US$ 300 juta dan sepanjang 2019 US$ 3,2 miliar. IHSG ditutup melemah 42,04 poin atau 0,66% ke posisi 6.283,37. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 7,25 poin atau 0,7% menjadi 1.025,07.”Pasca rilis neraca dagang, IHSG menurun karena aksi profit taking oleh investor lokal," kata analis Panin Sekuritas, William Hartanto di Jakarta, kemarin.

Secara sektoral, hanya dua sektor yang naik yaitu sektor industri dasar dan aneka industri masing-masing naik 1,02% dan 0,06%. Sementara itu, delapan sektor lainnya turun dimana sektor pertanian turun paling dalam yaitu minus 2,94% diikuti sektor pertambangan dan properti masing-masing minus 1,78% dan minus 1%. Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau "net foreign buy" sebesar Rp79,24 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 504.545 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 12,54 miliar lembar saham senilai Rp7,76 triliun. Sebanyak 121 saham naik, 285 saham menurun, dan 137 saham tidak bergerak nilainya. Sementara itu, bursa saham regional Asia sore kemarin, antara lain indeks Nikkei ditutup melemah 108,6 poin atau 0,45% ke 23.916,6, indeks Hang Seng melemah 111,5 poin atau 0,39% ke 28.773,6, dan indeks Straits Times melemah 13,56 poin atau 0,41% ke posisi 3.256,98.

Di awal perdagangan, IHSG dibuka menguat tipis 0,76 poin atau 0,01% ke posisi 6.326,17. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 0,2 poin atau 0,02% menjadi 1.032,51. Kepala Riset Valbury Sekuritas, Alfiansyah mengatakan, jelang kesepakatan perdagangan AS dengan China tetap memberikan harapan optimistis yang tinggi bagi pasar, ditambah delegasi China yang tengah berada di AS untuk penandatanganan kesepakatan dagang fase satu pada Rabu (15/1.):Selain itu, AS dikabarkan mengeluarkan China dari daftar negara pemanipulasi kurs. Laju apresiasi IHSG pada perdagangan saham hari ini diperkirakan berpotensi kembali berlanjut," ujar Alfiansyah.

Dari domestik, pasar berharap rilis data neraca perdagangan Desember 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Bank Indonesia optimistis neraca perdagangan bulan Desember 2019 akan surplus, karena kondisi eksternal yang cukup baik, yang ditunjukkan dengan naiknya ekspor. Realisasi ekspor hingga triwulan III/2019 cukup positif.

BERITA TERKAIT

Jaga Kualitas Produksi Tambang - BRMS Kirim Dore Bullion dari Poboya Ke Jakarta

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan bisnis di sektor pertambangan, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) terus mengoptimalkan nilai tambah dalam…

Pasca Marubeli Miliki Saham - SILO Kembangkan Potensi Bisnis Kesehatan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan bisnis layanan kesehatan yang dinilai memiliki prospek positif, PT Siloam Internasional Tbk (SILO) terus perluas kerjasama…

Sentimen Virus Corona Bikin IHSG Merana

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (25/2) sore ditutup melemah dipicu meluasnya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lewat Aplikasi Kesehatan Pulse - Prudential Tawaran Pengelolaan Kesehatan Holistik

Inovasi untuk solusi selalu dihadirkan PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) sebagai perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia yang fokus kepada…

Cambio Lofts, Hunian Premium di Alam Sutera

Potensi pasar properti pada tahun 2020 diyakini lebih baik disbanding dua tahun sebelumnya, hal ini terlihat dari munculnya proyek baru…

Rampungkan Rights Issue - Glencore Akuisisi Saham CITA Rp 1,19 Triliun

NERACA Jakarta – Di tengah melorotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring dengan sentien virus…